Catatan Pensiunan 18: Berhenti Menulis

1000005494
Suheryana Bae, (Foto: Dok. Pribadi).

SEJAK sekolah menengah, aku belajar menulis. Terbiasa membuat catatan harian di buku bergaris dan mencipta puisi, sebuah cara sederhana untuk menangkap dan mengungkap gelora hati.  Tentang irama musikal hujan di luar rumah, atau tentang aroma tanah merah setelah gerimis.

Di masa sekolah menengah aku belajar mengarang cerita dan menuliskan imajinasi serta gagasan dalam kata, kalimat dan paragraf. Menulis menjadi sahabat setia, tempat mencatatkan tawa, tangis, dan mimpi-mimpi yang terlalu absurd untuk  diucapkan.

Namun, ada saat-saat ketika hasrat itu nyaris menghilang. Ingin melepaskan pena dan  membiarkan kertas-kertas itu kosong. Terkadang merasa tulisanku seperti lukisan yang terlalu indah—menggambarkan kehidupan bahagia, nyaman, tertata ketimbang realitas yang kusut dan penuh luka. Aku takut kata-kataku menjadi topeng, menutupi kebenaran yang pahit. Sehingga aku bertanya pada diri sendiri, untuk apa menulis jika hanya untuk berpura-pura. Tapi, seperti air yang selalu menemukan celah untuk mengalir, hasrat menulis tak pernah benar-benar padam. Ia kembali, menyelinap di sela-sela keraguan, menggerakkan tangan dan membawa lagi ke hadapan kertas kosong.

Menulis, bagiku, bukan sekadar mencatat. TETAPI adalah cara untuk menangkap waktu, mengabadikan kenangan, dan merajut harapan. Setiap kata adalah jejak perjalanan—tentang pagi yang dingin di kampung halaman, tentang percakapan dengan sahabat di warung kopi, tentang mimpi-mimpi yang lahir di tengah malam sunyi. Tulisan-tulisanku adalah cermin, tapi juga jendela. Melaluinya, aku melihat diriku apa adanya, namun juga dunia yang terhampar di hadapan. Aku menulis tentang gagasan-gagasan besar, tentang keadilan, cinta, atau kehilangan, meski kadang hanya aku sendiri yang membacanya. Tidak apa. Menulis bukan tentang sorak-sorai dunia, melainkan tentang kejujuran pada diri sendiri.

Ada kalanya aku mendengar bisik-bisik: “Tulisanmu terlalu melankolis,” atau “Mengapa tak menulis yang lebih ringan?” Aku tersenyum, karena orang-orang tidak  mengerti. Menulis adalah caraku bernapas, caraku mendengar detak jantungku sendiri. Tak peduli apa kata orang, akan terus menulis—tentang luka yang masih perih, tentang tawa yang menggema di masa kecil, tentang masa depan yang belum kulihat tapi kuyakini. Kertas dan pena adalah rumah tempat aku pulang setelah hari-hari yang melelahkan. Di sana, aku bebas menjadi siapa saja, penyair eksentrik,  story teller, atau hanya seorang anak yang ingin didengar dunia.

Biarlah kata-kata ini mengalir, seperti sungai yang tak peduli ke mana ia bermuara. Karena dalam setiap baris yang ditorehkan, aku menemukan diriku, dan itu sudah cukup. Menulis adalah napas jiwa. Dan aku akan terus bernapas, menulis, hingga akhir waktu. ***

Suheryana Bae, kolumnis, tinggal di Ciamis Jawa Barat.