ZONALITERASI.ID – Nathania Tifara seorang entrepreneur muda asal Yogyakarta berhasil mendirikan penerbitan buku anak yang ramah disabilitas. Perjalanan Nathania, dimulai ketika dia kehilangan pendengaran saat usia 2 tahun akibat virus meningitis yang melanda Amerika Serikat (tempat Nathania dan keluarganya tinggal pada 1990).
Dua tahun berselang, Nathania menjalani operasi pemasangan cochlear implant ketika usianya menginjak 4 tahun. Alat berbasis teknologi tersebut membantunya dapat kembali mengakses suara.
Namun, alat tersebut tidak serta merta menjadikannya sembuh dari tuli. Dia tetap perlu berlatih mendengar, sebab cochlear implant hanya terpasang satu sisi dengan kemampuan 40-50 persen lebih rendah dibandingkan pendengaran orang dengar. Hal tersebut membuat pengalaman mendengarnya seperti suara mono, rentan di ruang ramai, dan membutuhkan latihan terus menerus agar otak bisa menerjemahkannya.
Dari situ Nathania belajar membaca situasi, mengandalkan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan konteks percakapan.
Sejak awal, dia terbuka tentang kondisinya. Dia menjelaskan kendala pendengarannya kepada teman, guru, dan dosen.
“Saya menyampaikan hal ini bukan untuk meminta perlakuan khusus atau diistimewakan, melainkan agar guru, dosen, dan teman sekelas mengetahui bahwa ada murid atau mahasiswa dengan kebutuhan pendengaran yang berbeda di dalam kelas,” ujar Nathania, dikutip dari Kompas.com, Jumat, 27 Maret 2026.
Dalam proses belajar, Nathania menerapkan berbagai strategi agar proses akademik berjalan dengan lancar. Duduk di bangku depan, memanfaatkan catatan teman, serta berdiskusi kelompok kecil membantu kelancaran belajarnya.
Ketika kelas digelar secara daring akibat pandemi, dia menggunakan bantuan juru tulis—terkadang teman atau suami—untuk merangkum materi. Melalui pengalaman tersebut, Nathania yakin bahwa kelancaran proses belajar bukan sekadar faktor kemampuan individu, tetapi juga kerja sama dan kesediaan lingkungan untuk beradaptasi.
“Ketika kebutuhan dikomunikasikan dengan jelas dan lingkungan memberi ruang, proses belajar dapat berjalan lebih setara,” ucapnya.
Mendirikan Penerbitan Buku Anak
Inspirasi Nathania untuk mendirikan penerbitan buku anak (Guru Bumi) datang dari memori masa kecil. Ibunya kerap membawakan buku-buku anak yang kuat secara visual dan narasi yang mendukung prosesnya bertumbuh. Pengalaman tersebut menciptakan kesadaran terhadap keterbatasan media edukasi yang relevan dengan konteks anak Indonesia.
“Langkah tersebut saya wujudkan melalui penerbitan buku anak, sebagai ruang belajar, membaca, dan bertumbuh bersama, dengan buku sebagai medium utama yang bermakna,” ujarnya.
Latar belakang sebagai lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) mendorong Nathania untuk membuat media dan permainan edukasi melalui cerita dan visual yang dekat dengan kehidupan anak. Pengalaman sebagai difabel membentuk cara pandangnya dalam proses kurasi dan produksi buku.
Buku-buku terbitan Guru Bumi dirancang agar dapat diakses oleh seluruh latar belakang anak. Dia dan tim meyakini bahwa inklusivitas bukan soal membuat produk khusus untuk kelompok tertentu, akan tetapi menghadirkan media yang ramah semua kalangan.
“Guru Bumi dirancang terbuka untuk diakses dan dimaknai sesuai kebutuhan masing-masing anak. Hal ini kami lihat terjadi secara alami di lapangan,” terang Nathania.
Pada 2016, Guru Bumi hadir dengan tujuan sederhana: menghadirkan buku anak yang relevan dengan kehidupan anak Indonesia, dekat dengan alam dan budaya lokal, dan inklusif. Fokus pada ensiklopedia berbasis pengetahuan bumi Indonesia Guru Bumi fokus pada ensiklopedia anak berbasis riset.
Beberapa judul yang sudah terbit antara lain: Dari Bumi Nusantara ke Piring Kita (tumbuhan dan pangan lokal), Makhluk Kecil dengan Peran Besar (serangga), dan Jelajah Pesona Satwa Nusantara (hewan endemik).
“Tema-tema ini kami pilih karena sangat dekat dengan kehidupan anak, namun sering luput diperkenalkan dan menyenangkan dalam buku anak,” terang Nathania.
Ciri khas dari ensiklopedia tersebut adalah kolaborasi dengan peneliti serta ilustrator lokal, dan penyajian yang mengajak anak mengamati bukan sekadar menghafal. Selain buku, Nathania mengembangkan board game edukatif: papan peta magnetik, kartu kuartet budaya, dan permainan bahasa Jawa yang membuat pengetahuan jadi pengalaman bersama.
Nathania bercerita bahwa kartu kuartet budaya menjadi kesukaan anak-anak teman tuli (sebutan untuk individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran). Sebab dapat dimainkan sambil belajar bahasa isyarat dan kosa kata secara visual.
Contoh lain adalah buku latihan membaca Dito & Dena yang awalnya dirancang dengan pendekatan sederhana untuk membantu anak yang belum lancar membaca dan menyusun kosa kata.
Dalam praktiknya, buku tersebut juga banyak dimanfaatkan oleh anak dengan disleksia karena strukturnya yang bertahap dan tidak membebani.
Pihaknya berharap, media-media tersebut dapat dimanfaatkan oleh siapapun dan kebutuhan belajar apapun.
Membuka Toko Gumi
Usai sukses dengan penerbitan buku anak yang interaktif, Nathania membuka Toko Gumi pada 2024.
Berlokasi di Yogyakarta, Toko Gumi muncul sebagai perpanjangan visi menghadirkan media edukasi yang ramah semua kebutuhan anak. Toko ini lebih dari tempat jual beli, Nathania merancangnya sebagai ruang literasi kecil, perpustakaan mini, dan arena kegiatan untuk anak dan keluarga.
Ide itu lahir dari kenangan Nathania di toko buku anak di Amerika. Dia merasakan imajinasinya tumbuh bebas di toko buku tersebut. Kini, Toko Gumi menjadi tempat bertemu pembaca, komunitas, dan program literasi lokal. Tak jauh berbeda dengan ketika ia berada di bangku pendidikan formal, saat berbisnis, dia terbuka kepada tim tentang kebutuhannya. Sehingga, visi misi, dan pola kerja dapat terjalin.
Nathania mencontohkan pola komunikasinya dengan tim, seperti ketika baterai cochlear implant dia habis, tim paham untuk menunggunya mengganti baterai terlebih dahulu.
“Atau ketika saya sedang sangat fokus dan mematikan cochlear implant, tim akan menyadari dan menyesuaikan, bahkan cukup menyentuh bahu saya untuk menarik perhatian,” terangnya.
Berharap Kehadiran Negara
Bagi Nathania, kehadiran negara yang ideal dimulai dari pengakuan bahwa disabilitas bagian dari keberagaman masyarakat, bukan objek belas kasihan.
“Negara perlu membuka ruang dialog yang berkelanjutan dengan disabilitas agar kebijakan yang dibuat benar-benar lahir dari kebutuhan nyata di lapangan,” tutur Nathania.
Langkah paling mendesak menurutnya adalah membuka akses dunia kerja dan pengalaman kerja yang nyata. Pelatihan, kesempatan magang, dan lingkungan kerja yang adaptif akan mengubah pilihan disabilitas dari terpaksa berwirausaha menjadi bisa memilih antara bekerja di organisasi atau berwirausaha.
“Bagaimanapun, kami adalah bagian dari warga negara Indonesia, bagian dari masyarakat dan makhluk sosial yang memiliki hak yang sama atas pendidikan, ilmu, dan kesempatan,” ujarnya.
Nathania menolak dikurung dalam ruang khusus disabilias, misalnya. Yang dia mau adalah ruang yang sama untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi.
“Ketika lingkungan mau memberi ruang dan akses, kesetaraan bukan lagi wacana, dan disabilitas tidak lagi dikhususkan, melainkan membaur sebagai bagian utuh dari masyarakat,” pungkasnya. ***











