D.K. Ardiwinata: Sastrawan Berdarah Sunda-Bugis yang Jadi Pendiri Paguyuban Pasundan dan Penulis Buku Tata Basa Sunda Pertama

ardi
D.K. Ardiwinata, (Foto: Istimewa).

Oleh Nunu A. Hamijaya

TAK banyak yang mengenali sosok D.K. Ardiwinata di Tatar Sunda (lahir di Desa Kajaksan Bandung pada 1866 dan wafat di  Manonjaya, Tasikmalaya pada 12 Januari 1947). Padahal, di tangannya, buku berjudul  Elmuning Bahasa Sunda ‘IImu Bahasa Sunda  (dua jilid , 1916 dan 1917) adalah  buku tata bahasa Sunda pertama yang diterbitkan untuk sekolah rakyat.

Selain itu, pria bernama lengkap Daeng Kanduruan Ardiwinata ini besar pula jasanya dalam membuat pembakuan ejaan bahasa Sunda. Dia bersama Moehamad Rais, M. Partadiredja, M. Amongpradja. H.S.H. de Bie, dan C.M. Pleyte merupakan penyusun buku “Palanggeran Nuliskeun Basa Sunda ku Aksara Walanda, Pedoman Menuliskan Bahasa Sunda dengan Aksara Latin” (1912).

Lebih dari itu, D.K. Ardiwinata adalah salah seorang pendiri dan ketua pertama Paguyuban Pasundan yang diprakarsai antara lain oleh  Djoengjoenan Setiakoesoemah serta Koesoemah Soedjana. Rapat pertama yang diadakan pada 22 September 1914 di rumah D.K. Ardiwinata, dianggap sebagai tanggal lahir Paguyuban Pasundan.

D.K. Ardiwinata terlahir dari seorang ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Sunda. Menurut Tini Kartini dalam Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda (1979, hlm. 1), jiwa pejuangnya diwariskan dari garis keturunan ayah. Gelar Daeng menjadi ciri penanda orang Bugis-Makasar. Sedangkan “Kanduruan” gelar kehormatan yang diberikan kepada guru yang banyak jasanya oleh pemerintahan Hindia Belanda yang diterimanya tahun 1912.

Adapun “Ardiwinata” adalah nama Sunda menak Bandung dari garis ibunya.

Kakeknya D.K. Ardiwinata,  Karaeng Yukte Desialu, adalah Raja Lombo dari Makassar yang dibuang ke Bandung oleh pemerintah Belanda karena memberontak. Dia dibuang bersama putranya, Baso Daeng alias Daeng Sulaeman dan kakaknya, Karaeng Balasuka. Di Bandung, Baso Daeng Pasau mempersunting gadis Priangan bernama Nyi Mas Rumi. Dari perkawinan itu lahir D.K. Ardiwinata.

Ketika D.K. Ardiwinata berusia tiga tahun, kakek dan ayahnya mendapat pengampunan dan diperkenankan kembali ke Makassar. Oleh karena  keluarganya tidak mengizinkan Nyi Mas Rumi mengikuti suaminya ke Makassar, maka ibu dan anak itu ditinggalkan di Bandung. Sepeninggal ayahnya, dia dibesarkan oleh kakak ibunya yang bernama Nyi Ma’ Haji Mariam, istri R. Moh. Gapur, kalipah asesor Bandung (Rosidi, 1969 : 42).

Dalam kurun  waktu 30 tahun (1886-1911; 1917 – 1921) D.K. Ardiwinata dikenal sebagai guru teladan dan kreatif.  Dia pun pernah bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka selama 6 tahun (1916 – 1922).

Pelopor Roman Basa Sunda “Baruang ka nu Ngarora”

D.K. Ardiwinata adalah pelopor roman modern pertama dalam basa Sunda. Roman yang dia tulis berjudul Baruang ka nu Ngarora. Roman ini  pertamakali penulis dengar ceritanya  saat di SD oleh ibu penulis, Nyi  Mas Salsiah binti Rd. M. Soleh Natawijaya, seorang guru di Cianjur.

Dalam cerita tersebut, Aom Usman menginginkan Nyi Rapiah, gadis cantik yang telah menjadi istri Ujang Kusen. Dengan lancang, sebagai bangsawan yang sedang berkuasa, secara terang-terangan dia memperlihatkan hasratnya di depan hidung Ujang Kusen sehingga Ujang Kusen marah dan merasa terhina. Tetapi hanya sampai merasa tersinggung saja, Ujang Kusen tidak berdaya untuk bcrtindak atau mendakwakan kelakuan Aom Usman yang keterlaluan itu.

Tetapi apakah jadinya setelah Nyi Rapiah lari dari suaminya mengikuti kehendak Aom Usman dan menjadi istrinya secara sembunyi-sembunyi karena orang tua Aom Usman yang bangsawan itu pasti tidak merestui perkawinan tersebut?

Ujang Kusen pada akhir cerita mengalami hukuman dibuang ke Surabaya sedang Nyi Rapiah sendiri yang semula percaya akan memperoleh kebahagiaan di samping Aom Usman harus menelan kepahitan karena dimadu dan diperlakukan tidak adil sebab Nyi Rapiah bukanlah istri dari keturunan orang priyayi, walaupun dia istri pertama .

“Baruang ka nu Ngorora” menurut Utuy T. Sontani dilihat dari bentuknya dapat dikatakan sebagai roman pertama dalam sastra Sunda. Selain itu, sebagai sebuah roman sosial baru, merupakan cerita yang tak akan membosankan dibaca orang sebab telah berhasil menggambarkan keadaan masyarakat Sunda pada suatu periode tertentu.

Menurut Ajip Rosidi, “Baruang ka nu Ngarora”  bukan saja secara struktural telah memenuhi syarat-syarat roman modern (dengan adanya sebuah tema dan alur), tetapi juga secara estetis dalam roman tersebut terdapat gambaran watak-watak manusia, gambaran suasana, dan keadaan kehidupan yang merupakan ketunggalan sebagai refleksi dari kehidupan nyata. (Majalah Sunda, No. 36·37, Tahun 1, 1965).

Aktif di Central Sarekat Islam (CSI)

Keberhasilan  National  Congres  (NATICO) I yang diadakan  Sarekat Islam di Bandung, 17 – 24 Juni 1916  tidak  terlepas dari dukungan dana D.K. Ardiwinata.  Sebagai  bendahara Central Sarekat Islam (CSI), D.K. Ardiwinata berdiri dalam  barisan tokoh-tokoh saat itu, HOS Tjokroaminoto, Abdoel  Moeis, Raden Hasan Djajadiningrat (adik dari Hussein Djajadiningrat), Raden Wignjodarmodjo dari Surabaya, dan A. H. Wignjadisastra sebagai Presiden Sarekat Islam Bandung.

Bahkan dia menyampaikan empat hal  penting yang berkaitan dengan tujuan organisasi. Pertamamemberi bantuan kepada orang yang lebih tua. Keduamempromosikan kemajuan spiritual para anggota. Ketigamendorong kemajuan ekonomi. Dan keempatmenyebarkan agama Islam.

Demikianlah D.K. Ardiwinata yang telah menjadi simpul mati hubungan batin antara Sunda-Bugis. Lewat karya-karyanya, D.K. Ardiwinata tetap hidup hingga hari ini, sebagai bagian dari warisan hikmahnya. ***

Pusat Studi Sunda, 24 Februari 2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.