Menumbuhkan Kesehatan Mental Anak lewat Ikatan Emosional dengan Alam

whatsapp image 2026 05 28 at 08 20260528085502 1
Ilustrasi "Menumbuhkan Kesehatan Mental Anak lewat Ikatan Emosional dengan Alam", (Foto: Needpix.com).

ZONALITERASI.ID – Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sadtata Noor Adirahmanta, mengeluh banyak anak Indonesia saat ini lebih sering bermain di mal ketimbang di alam. Keluhan itu dia sampaikan dalam sesi gelar wicara di acara “BRIN Goes to Stakeholders & Society: Exposing New Species – Flora’, di Jakarta, pada Senin, 25 Mei 2026.

Sadtata mengungkapkan, dia sering mengkritik para anggota timnya yang bekerja dalam bidang konservasi kehutanan. Sebab, keluarga mereka lebih sering berwisata ke mal ketimbang ke alam seperti hutan.

“Kita kerja jaga hutan, patroli, inventarisasi, sehari-hari di hutan, tapi anak-anak kita, teman-teman kita, mainnya di mal. Itu mereka enggak ada ikatan dengan ekosistem, dengan alam,” ujar Sadtata.

“Makanya selama saya jadi kepala balai, saya sering ajak anak saya, teman-teman saya, hanya masuk hutan, jalan-jalan, tidak harus selalu diterangkan dengan teori macam-macam.”

“Untuk membentuk ikatan emosional dengan hutan, generasi muda silakan jalan-jalan di hutan. Tapi jangan kayak sekarang kalau di Gede Pangrago itu trennya mereka para pendaki FOMO. Hanya foto-foto, nanti buang sampah sembarangan,” sambungnya.

Sadtata mengatakan, setiap kali menjadi kepala balai di berbagai wilayah di Indonesia, dia berupaya mengajak mereka ke hutan. Dengan begitu, ikatan emosional mereka dengan alam terbentuk.

“Nah, jadi saya kembangkan sekarang bagaimana mereka masuk hutan, tapi ada bercerita,” kata Sadtata.

Dia menjelaskan, ikatan emosional yang terbentuk ini akan berdampak dua arah. Orang-orang yang memiliki ikatan emosional dengan alam akan lebih peduli pada alam dan terlibat dalam konservasi.

“Di sisi lain, ikatan emosional dengan alam juga berdampak baik bagi manusia. Salah satunya membentuk kesehatan mental yang baik pada manusia,” tambah Sadtata.

Kesehatan Mental Lebih Baik

Sebuah studi mengungkapkan, anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu di alam memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Temuan ini pun membuat para peneliti makin lantang menyerukan pentingnya perubahan tata kota agar lebih hijau untuk generasi mendatang.

Studi yang diterbitkan di International Journal of Environment Research and Public Health ini, dilakukan dalam kerangka proyek PHENOTYPE dengan data dari hampir 3.600 orang dewasa dari Barcelona (Spanyol), Doetinchem (Belanda), Kaunas (Lituania), dan Stoke-on-Trent (Inggris).

Para peserta dewasa dalam studi ini menjawab kuesioner tentang frekuensi penggunaan ruang alam selama masa kanak-kanak, termasuk kunjungan yang bertujuan—misalnya, mendaki di taman alam– dan kunjungan yang tidak bertujuan—misalnya, bermain di halaman belakang.

Mereka juga ditanya tentang jumlah, penggunaan, dan kepuasan mereka saat ini terhadap ruang alam di lingkungan tempat tinggal, serta pentingnya ruang tersebut bagi mereka.

Kesehatan mental para peserta dalam hal kegelisahan dan perasaan depresi dalam empat minggu terakhir, serta vitalitas mereka—tingkat energi dan kelelahan—juga dinilai melalui tes psikologis

Hasil studi ini menunjukkan bahwa orang dewasa dengan tingkat paparan alam yang rendah ketika masih kecil, memiliki masalah kesehatan mental cukup buruk. Hal itu berbanding terbalik dengan mereka yang sewaktu kecil sering menghabiskan waktu di alam.

Menurut para peneliti, hasil studi mereka ini menyoroti pentingnya eksposur ruang terbuka di masa kanak-kanak. Sebab, hal itu berkaitan dengan pengembangan apresiasi terhadap alam serta kondisi psikologis yang lebih sehat di masa depan.

Wilma Zijlema, peneliti ISGlobal dan koordinator studi ini, menuturkan, kesimpulan tersebut menunjukkan pentingnya paparan ruang alam di masa kanak-kanak untuk pengembangan sikap menghargai alam dan kondisi psikologis yang sehat di masa dewasa.

“Di sebagian besar negara, aktivitas di alam bukanlah bagian rutin dari kurikulum sekolah. Kami menyerukan kepada para pembuat kebijakan untuk meningkatkan ketersediaan ruang alam bagi anak-anak dan halaman sekolah hijau,” kata Wilma, dikutip dari ISGlobal.

Studi lainnya yang terbit di jurnal Scientific Reports mengungkapkan bahwa kontak dengan alam di wilayah perkotaan juga mampu mengurangi perasaan kesepian secara signifikan.

Menurut studi tersebut, kesepian merupakan masalah kesehatan mental utama manusia yang dapat meningkatkan risiko kematian seseorang sebesar 45%. Angka itu lebih besar dari risiko akibat polusi udara, obesitas, atau penyalahgunaan alkohol.

Studi tersebut menemukan bahwa perasaan akibat keramaian justru meningkatkan kesepian rata-rata sebesar 39%. Namun ketika orang dapat melihat pohon atau langit, atau mendengar kicauan burung, perasaan kesepian itu bisa turun sebesar 28%.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya intervensi untuk mengurangi kesepian.

“Diperlukan langkah-langkah khusus untuk meningkatkan inklusi sosial dan kontak dengan alam, terutama di kota-kota padat penduduk,” ungkap para peneliti dalam makalah studi tersebut. ***

Sumber: Nationalgeographic.co.id