Event Unik, Masjid Zayed Solo Gelar Lomba Desain Keranda Jenazah

pemenang desain keranda masjid zayed 1773395076410 169
Galang Firman dari PT MAK, Juara 1 Lomba Desain Keranda Jenazah Masjid Zayed Solo, (Foto: Dok. IG masjidzayedsolo).

ZONALITERASI.ID – Masjid Raya Sheikh Zayed Solo mengumumkan pemenang Lomba Desain Keranda Jenazah. Juara 1 lomba desain tersebut yakni Galang Firman dari PT MAK.

Selanjutnya, Juara 2 diraih oleh Robiantoro Rinto Wijaya dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Juara 3 Tim Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS).

Kompetisi ini menantang warga umum, termasuk mahasiswa dan siswa SMK, untuk membuat desain 3D keranda jenazah yang mempertimbangkan material, berat maksimal, dan biaya produksi.

Lewat inovasi para peserta, desain keranda diharapkan menghadirkan fungsi yang lebih baik, memberikan kenyamanan bagi para pengangkat, tidak terkesan menakutkan, dan tetap menjaga kehormatan jenazah.

Direktur Operasional Masjid Raya Sheikh Zayed, Munajat, mengatakan, penetapan juara Lomba Desain Keranda Jenazah dilihat dari ergonomis dan memudahkan masyarakat.

“Saya lihat desain yang dibuat Galang Firman (Juara 1) nilai ergonomisnya sangat tinggi. Ia menjawab semua poin tadi dengan nilai tinggi,” katanya, dikutip dari detikJateng, Kamis, 19 Maret 2026.

Kata Munajat, selain memiliki nilai ergonomis, produksi keranda jenazah karya Galang Firman lebih mudah dan sistem knockdown atau bongkar pasangnya lebih mudah.

“Lihat nilainya tinggi karena mungkin produksinya lebih mudah, variasi materialnya sedikit, dan sistem knockdown-nya gampang. Jadi nilainya komprehensif. Juri sudah membayangkan kalau ini diproduksi akan mudah atau tidak,” ujarnya.

Munajat menyebutkan, ada tiga juri yang menilai langsung desain keranda jenazah tersebut. Tiga juri tersebut, yaitu dua dari PT Dtech Enginering dan satu dari MAVI (Masyarakat Vokasi Indonesia).

Tidak Ada Perubahan Signifikan

Munajat mengatakan, ide untuk menyelenggarakan lomba desain keranda jenazah muncul karena sudah hampir 1.300 tahun tidak ada perubahan yang signifikan.

“Permasalahannya kan sudah kita sampaikan, bahwa keranda jenazah itu sudah 1.300 tahun hampir tidak ada inovasi. Kalaupun ada inovasi, sifatnya parsial,” ucapnya.

Dia menjelaskan, aspek utama penilaian adalah ergonomis. Dalam tradisi Islam, jenazah harus diperlakukan dengan penuh penghormatan seperti layaknya orang hidup.

“Keranda sebelumnya cenderung flat (datar). Jika jenazah sedang sakit, misalnya diabetes, guncangan saat diangkat bisa menyebabkan lecet atau berdarah. Desain baru ini harus meminimalisir guncangan itu,” jelasnya.

Selain kenyamanan jenazah, faktor tinggi badan pembawa yang berbeda-beda juga menjadi perhatian. “Biasanya yang mengangkat tingginya beda-beda, ada keluarga hingga tetangga. Desain harus memudahkan mereka,” tambahnya.

Tak hanya soal kenyamanan, desain yang terpilih juga harus memenuhi unsur feasibility atau kelayakan produksi. Juri menghindari desain yang menggunakan material terlalu mewah seperti titanium yang sulit didapat.

“Kami ingin desain ini bisa diproduksi oleh bengkel las kecil di masjid atau masyarakat di seluruh pelosok Indonesia. Bahannya harus tersedia di toko besi atau online,” tegas Munajat.

Setelah pengumuman, para pemenang telah sepakat untuk menghibahkan hak cipta desain mereka. Saat ini, desain tersebut sedang dalam proses pendaftaran ke Kemenkumham agar tidak diklaim secara sepihak.

“Pembuatnya sudah membuat surat pernyataan bahwa desain ini disedekahkan untuk umat. Jadi nanti milik umum. Masyarakat silakan memproduksi atau bahkan memperbaiki desainnya. Kami ingin mendorong masyarakat agar lebih senang berinovasi,” pungkas Munajat.

Berikut para pemenang Lomba Desain Keranda Jenazah dan hadiahnya:

– Juara 1, hadiah Rp 4 juta: Galang Firman dari PT MAK

– Juara 2, hadiah Rp 3 juta: Robiantoro Rinto Wijaya dari ISI Surakarta

– Juara 3, hadiah Rp 2 juta: Tim mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Mahruz Hilmi Rosyadi, Fajar Wahyu Septiawan, dan Puspita Bella Kusumaningrum

– Juara harapan:
. Zaghlul Ayyasy dari Universitas Tidar (Untidar)
. Khalifah Hanif dan Dimas Kurniawan dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
. Rizqi Fadhlurrohman dari Surabaya
. Askar Abdullah dan Azzam Dharmawan
. Alifaji Dewandanu
. Farhan Luqmanul Haqim dari Politeknik Negeri Madiun
. Adhi Setiyo Nugroho dari Inovakit.id atau PT Asasi Jaya Madani.

(des)***