ZONALITERASI.ID – Dr. Buntora Pasaribu, dosen HQT Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran (Unpad), berhasil menembus persaingan global dan meraih Young Researcher Award (YRA)/Periset Muda Terbaik Indonesia 2025 kategori dosen. Penghargaan diberikan oleh Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Puncak Penganugerahan Young Researcher Award 2025 digelar pada Selasa, di Ball Room BRIN, Jakarta, 16 Desember 2025. Penghargaan diserahkan oleh Kepala BRIN, Prof. Arief Satria.
Ini merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi para periset muda Indonesia yang telah membuktikan bahwa kerja ilmiah yang konsisten mampu menembus batas pengakuan nasional dan internasional.
YRA 2025 menarik ratusan pendaftar dari dalam dan luar negeri sebelum akhirnya mengerucut pada 23 finalis terbaik, yang berasal dari sektor krusial pertanian, kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan.
Kiprah Riset Buntora
Sebelum kembali ke tanah air, Buntora bekerja sebagai postdoctoral associate di Amerika Serikat, melanjutkan riset pemenang Wolf Prize, yang dikenal sebagai Nobel Prize bidang Pertanian, dengan misi memetakan kode genetik tanaman air untuk energi terbarukan.
Keberhasilan Buntora kini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi dunia, menjadi modal berharga yang memperkaya riset kelautan dan energi terbarukan di Indonesia.
Keunggulan Buntora terletak pada konsistensinya mengembangkan riset kesehatan laut Indonesia melalui pendekatan molekular dan multidisipliner, yang mengaitkan isu energi, sumber daya air, polusi, hingga sekuester karbon laut.
“Pendekatan lintas-organisme dan multidisipliner ini membuka perspektif baru dalam memahami respons dan adaptasi ekosistem laut dangkal, sekaligus memperkuat posisi riset kelautan Indonesia di tingkat nasional dan internasional,” ujar Buntora, dilansir dari laman Unpad, Jumat, 2 Januari 2026.
Buntora yang fokus pada biosistem laut dangkal di departemen ilmu kelautan, mengatakan, riset harus didukung infrastruktur, tim, dan sistem yang bagus.
“Tanpa itu, periset tidak dapat membuat hal-hal yang baru. Di Indonesia, kesempatan untuk menjadi ‘nobel person’ sangatlah tinggi karea kompleksitas lingkungan dan sistem sosial,” ucapnya.
Bagi PPI, kontribusi ilmiah Buntora mencerminkan wajah baru riset Indonesia yang kritis, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan masa depan.
Prestasi Buntora bukan sekadar jadi kebanggaan Universitas Padjadjaran, tetapi juga inspirasi bagi generasi peneliti muda Indonesia, menegaskan bahwa riset inovatif dan berdampak mampu membawa Indonesia bersinar di panggung dunia. (des)***





