KAMPUS  

Lagi, UPI Kukuhkan Guru Besar, Rektor: Ilmu yang Tidak Membela Kehidupan, Kehilangan Jiwanya

5079
UPI menggelar pengukuhan guru besar hari kedua, Rabu, 21 Mei 2025,  di Gedung Achmad Sanusi UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung. Kali ini, 8 profesor mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato pengukuhan guru besar. (Foto: Istimewa)

ZONALITERASI.ID – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menggelar pengukuhan guru besar. Pada acara yang berlangsung  di Gedung Achmad Sanusi UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Rabu, 21 Mei 2025 ini, dikukuhkan sebanyak 8  guru besar.

Sidang Pengukuhan Guru Besar hari kedua ini dibuka dan dipimpin oleh Rektor UPI, Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A. Selanjutnya Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sarana, dan Prasarana, Prof. Dr. H. Adang Suherman, M.A., membacakan kutipan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tentang Kenaikan Jabatan Akademik atau Fungsional Dosen.

Adapun 8 guru besar yang dikukuhkan yaitu:

1. Prof. Dr. Rina Marina Masri, M.P. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri [FPTI] dalam bidang ilmu/kepakaran Lingkungan Rekayasa Geospasial. Menyampaikan pidato pengukuhan “Inovasi Pendekatan Geospasial untuk Pekerjaan Teknik Sipil dan Lingkungan dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan”);

2. Prof. Dr. eng. Usep Surahman, S.T., M.T., Guru Besar Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri [FPTI] dalam bidang ilmu/kepakaran Teknologi dan Arsitektur Hemat Energi, menyampaikan pidato pengukuhan “Teknologi dan Arsitektur Hemat Energi: Pengembangan Model Life Cycle Assessment dalam Arsitektur Hemat Energi untuk Rumah Tinggal Tropis”);

3. Prof. Dadang Sudana, M.A., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra [FPBS] dalam bidang ilmu/kepakaran Linguistik Makna, menyampaikan pidato pengukuhan “Bergulat dengan Makna Mencari Jati Diri”);

4. Prof. Tutin Aryanti, S.T., M.T., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri [FPTI] dalam bidang ilmu/kepakaran Arsitektur Sosio-spasial, menyampaikan pidato pengukuhan “Ruang Teraba, Ruang Wacana: Arsitektur, Keadilan Spasial, dan Narasi yang Terpinggirkan”);

5. Prof. Dr. Cica Yulia, S.Pd., M.Si. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri [FPTI] dalam bidang ilmu/kepakaran Gizi, menyampaikan pidato pengukuhan “Pendidikan Gizi untuk Masa Depan: Membangun Literasi Gizi dalam Mengatasi Triple Burden of Malnutrition”);

6. Prof. Dr. Bambang Darmawan, M.M., CSCA, CPLM, CSCM. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri [FPTI] dalam bidang ilmu/kepakaran Administrasi Pendidikan Teknik Mesin dan Logistik, menyampaikan pidato pengukuhan “Peningkatan Keunggulan Bersaing melalui Pengembangan Edu-Logistics Hub dalam Implementasi Manajemen Pendidikan Logistik”);

7. Prof. Dr. Ridwan Purnama, S.H., M.Si. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis [FPEB] dalam bidang ilmu/kepakaran Pendidikan Hukum dan Bisnis, menyampaikan pidato pengukuhan “Desain Hukum Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum dalam Perspektif Pendidikan Hukum”);

8. Prof. Dr. Dita Amanah, M.B.A. (Guru Besar Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis [FPEB] dalam bidang ilmu/kepakaran Manajemen Jasa Pariwisata, menyampaikan pidato pengukuhan “Transformasi Manajemen Pariwisata Indonesia Berbasis Inovasi Berkelanjutan”).

Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UPI, Prof. Dr. Didi Suryadi, M.Ed., mengungkapkan, pidato setiap guru besar merupakan sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran karena telah berhasil menjustifikasi berdasarkan prinsip-prinsip, terutama keyakinan yang dibangun berdasarkan potensi konseptual dengan basis korespondensi.

Ia memaparkan, keyakinan memorial yakni suatu proses inferensi dengan basis prinsip kebenaran koherensi. Lalu, keyakinan introspektif yakni temuan yang dihasilkan harus diperkenalkan keyakinan kepada publik bahwa keyakinan tersebut bersifat baru dan dapat dimanfaatkan secara umum.

Adapun keyakinan apriori yakni kemampuan mengintisarikan seluruh proses dalam menghasilkan pengetahuan sehingga layak disampaikan dalam publik melalui tulisan ilmiah dalam jurnal-jurnal nasional dan internasional.

“Proses tersebut akan menghasilkan sebuah karakter sehingga menjadi seseorang yang penuh kehati-hatian,” ucap Prof. Didi.

Pada kesempatan sama, Rektor UPI, Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., yang memimpin Sidang Pengukuhan Guru Besar menuturkan, pengukuhan guru besar menjadi sebuah tonggak yang tidak hanya mencerminkan prestasi nasional, tetapi menunjukkan sebuah kematangan akademik.

‘Hari pengukuhan guru besar tidak hanya sekadar menjadi menara gading, tetapi mercusuar harapan bagi dunia yang sedang mencari arah. Ilmu bukan hanya untuk berpikir, tetapi untuk bertindak menyelamatkan kehidupan, dan itu yang ditunjukkan oleh para guru besar. Dari ruang kelas ke ruang kebijakan, dari laboratorium ke lapangan kehidupan, karena ilmu yang tidak membela kehidupan, adalah ilmu yang kehilangan jiwanya,” ujar Prof. Solehuddin.

Sementara Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UPI,  Komjen Pol. (Purn.) Drs. Nanan Soekarna, menegaskan, dalam menjalankan kewajiban perlu mensejajarkan nilai integritas dengan prinsip akuntabilitas sehingga ilmu dapat dipertanggungjawabkan secara moral.

“Jadikan UPI sebagai tempat orang belajar bukan hanya untuk tahu yang lebih banyak, tetapi menjadi yang lebih benar,” tandas Nanan. (des)***