Literasi dan Numerasi Anak Indonesia di Level Rendah, Kampus pun Didorong Bikin Konsorsium Riset

Blue colorful illustration international literacy day Instagram post
Ilustrasi literasi dan numerasi, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, mendorong kampus di Indonesia untuk membentuk konsorsium riset intervensi literasi dan numerasi.

Ini dilakukan sebagai langkah penyelesaian persoalan literasi dan numerasi yang dihadapi siswa.

“Melalui konsorsium, perguruan tinggi dapat bersama-sama mengembangkan model pembelajaran dan intervensi literasi serta numerasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah,” kata Fauzan, di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026, dikutip dari Antara.

Kata Fauzan, kampus memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut melalui kolaborasi riset dan intervensi pendidikan berbasis data.

“Dengan adanya konsorsium perguruan tinggi, perguruan tinggi diharapkan dapat saling bekerja sama mengembangkan program yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Fauzan.

Literasi dan Numerasi di Level Bawah

Sebagai informasi, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh siswa Indonesia masih berada di bawah tingkat kemahiran minimum dalam literasi membaca dan matematika.

PISA 2022 melibatkan lebih dari 600.000 siswa dari 81 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, Indonesia berada di peringkat 74 dari 81 negara dalam literasi membaca, dan peringkat 72 dalam matematika. Hanya 1% siswa Indonesia yang mencapai level tertinggi (level 5-6) dalam matematika, dibandingkan dengan 10-15% di negara-negara maju seperti Singapura atau Finlandia.

Dalam literasi, skor Indonesia turun dari 371 poin di PISA 2018 menjadi 359 poin di 2022.

Sementara itu, data lokal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 menunjukkan bahwa tingkat buta huruf di Indonesia masih mencapai 1,78% dari populasi usia 15 tahun ke atas, atau sekitar 3,6 juta orang. Namun, angka ini menyembunyikan masalah lebih dalam, literasi sebagai fungsional kemampuan membaca dan memahami teks sehari-hari masih rendah.

Menurut UNESCO Institute for Statistics (UIS) 2021, Indonesia memiliki tingkat literasi dewasa sebesar 95,7%, tetapi ini tidak mencerminkan kualitas. Survei Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) oleh OECD pada 2018 menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam literasi dan numerasi dewasa, dengan skor rata-rata 253 poin untuk literasi dan 246 poin untuk numerasi, jauh di bawah negara seperti Jepang (296 dan 288 poin).

Di tingkat sekolah dasar, data dari Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2021 oleh Kemendikbud menunjukkan bahwa hanya 50% siswa kelas 5 yang mampu memahami teks sederhana, dan 40% yang kompeten dalam operasi matematika dasar. Ini berarti separuh dari anak-anak kita lulus sekolah tanpa keterampilan dasar yang memadai. (gib)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *