Puasa, Pertahanan, dan Kesehatan

DANIEL 10
Daniel Mohammad Rosyid, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Daniel Mohammad Rosyid

ARTIKEL ini mencoba menjembatani tiga hal : puasa, pertahanan, dan kesehatan bangsa. Kita bisa melihat puasa tidak hanya sebagai rutinitas fiqhiyah tahunan atau sekadar kewajiban menahan lapar dan dahaga. Mari kita lihat puasa dari perspektif yang lebih luas:

1. Secara spiritual, puasa adalah perisai iman. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari). Ia melindungi kita dari perbuatan buruk dan memelihara kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa yaitu suka berbagi harta, pemaaf, dan kuat menahan amarah, serta senang berbuat kebaikan. Muttaqin adalah investor modal sosial pro-bono.

2. Secara medis, puasa adalah mekanisme perbaikan diri (autofagi). Tubuh ternyata dirancang oleh Allah untuk bekerja optimal justru saat perut kosong. Ia memperbaiki sel-sel yang rusak dan meningkatkan kekebalan.

3. Secara publik, jika individu-individu dalam masyarakat sehat dan tangguh, maka secara agregat kita sedang membangun sistem pertahanan bangsa yang paling fundamental.

Bagaimana mungkin puasa bisa menjadi teknologi pertahanan?

1. Puasa sebagai “Teknologi Pertahanan” Tubuh

Konsep “pertahanan” dalam ilmu militer dikenal dengan istilah fortifikasi—memperkuat benteng dari dalam. Dalam tubuh kita, puasa adalah komando untuk memulai proses fortifikasi internal yang disebut autofagi.

●  Mekanisme “Self-Repair” (Autofagi)

– Tubuh kita adalah sebuah rumah. Saat kita terus menerus makan (terutama yang berlebihan), kita terus memasukkan perabot baru sehingga rumah menjadi penuh sesak dan sampah menumpuk. Saat puasa, kita berhenti memasukkan barang. Tubuh kemudian punya waktu untuk “bersih-bersih” (housekeeping), membuang sampah metabolik, dan memperbaiki perabot yang rusak.

– Data ilmiah mutakhir: Sebuah penelitian yang dipublikasikan di PubMed pada tahun 2025 meneliti efek puasa Ramadan pada 50 subjek sehat. Hasilnya menunjukkan bahwa puasa memicu peningkatan signifikan pada gen Beclin-1, yaitu penanda utama dimulainya proses autofagi. Artinya, secara molekuler, puasa benar-benar mengaktifkan mekanisme perbaikan sel untuk menjaga homeostasis tubuh saat menghadapi pembatasan energi.

– Dampaknya pada ketahanan: Proses ini membersihkan sel-sel tua dan disfungsional yang bisa memicu penyakit kronis. Dengan kata lain, puasa membangun daya tahan tubuh di level seluler.

●  Modulator Kesehatan Multisistem

Sebuah narrative review komprehensif di jurnal Current Nutrition Reports (2026) menyebutkan bahwa puasa bertindak sebagai “multisystem health modulator“. Artinya, puasa tidak hanya bekerja di satu organ, tapi di seluruh sistem :

– Metabolik: Meningkatkan sensitivitas insulin dan memicu pembakaran lemak (ketosis). Ini adalah “perisai” terhadap epidemi obesitas dan diabetes yang menjadi beban berat kesehatan masyarakat.

– Kardiovaskular: Membantu menstabilkan tekanan darah dan profil lipid.

– Imunitas: Mengurangi peradangan (inflamasi) kronis dalam tubuh, yang merupakan akar dari berbagai penyakit tidak menular .

Dapat disimpulkan bahwa puasa adalah teknologi canggih yang mendesain ulang tubuh kita agar lebih efisien, bersih, dan kuat. Ini adalah “perisai biologis” yang kita aktifkan setiap Ramadan.

2. Pengendalian Konsumsi

Sekarang kita masuk ke ranah yang sangat dekat dengan FKM, yaitu perilaku konsumsi dan epidemiologi penyakit tidak menular (PTM) .

●  Problem Kesehatan Masyarakat Modern

Kita hidup di era over-nutrition (kelebihan gizi). Data menunjukkan prevalensi obesitas dan diabetes melitus tipe 2 meningkat drastis. Sebuah studi di PMC tahun 2025 menyebutkan bahwa WHO memperkirakan 1 dari 8 orang di dunia mengalami obesitas, dan ini menjadi pintu masuk berbagai penyakit lain seperti jantung, stroke, hingga kanker.

– Ironisnya: Problem ini muncul bukan karena kekurangan makanan, tapi karena ketidakmampuan mengendalikan konsumsi.

●  Puasa sebagai “Dietary Control”

Di sinilah puasa menawarkan solusi. Puasa mengajarkan mindful eating. Ia membatasi jendela waktu makan dan melatih disiplin.

– Data praktik puasa intermiten: Studi prevalensi di Arab Saudi menunjukkan bahwa 60,3% responden mempraktikkan pola puasa intermiten di luar Ramadan. Motivasi utamanya adalah penurunan berat badan (27.4%) dan perbaikan kesehatan (26.5%). Mereka yang berpuasa melaporkan merasa lebih baik dan mengalami manfaat kesehatan yang signifikan.

– Implikasi di masyarakat: Data ini membuktikan bahwa “resep” puasa secara sadar atau tidak sadar telah diadopsi masyarakat modern sebagai solusi kesehatan. Ini mengonfirmasi bahwa pengendalian konsumsi adalah kunci pencegahan PTM. Sebuah literature review juga menyimpulkan bahwa puasa memiliki potensi besar untuk pencegahan penyakit tidak menular, asalkan diimbangi dengan pola makan seimbang .

Jadi, dari kacamata kesehatan masyarakat, puasa adalah intervensi perilaku (behavioral intervention) yang murah, massif, dan efektif. Jika 200 juta umat Islam di Indonesia menjalankannya dengan benar, ini adalah intervensi kesehatan publik terbesar di dunia yang terjadi setiap tahun.

3. Kesehatan Masyarakat = Pertahanan

Ini adalah grand final kita. Kita semua sepakat bahwa esensi dari kesehatan masyarakat adalah mencegah penyakit dan melindungi populasi. Lalu, apa hubungannya dengan pertahanan bangsa?

●  Kesehatan: Modal Dasar Keamanan Nasional

Konsep pertahanan di abad ke-21 tidak lagi hanya bicara soal rudal dan tank. Ia bicara soal human security dan ketahanan nasional. Sebuah negara tidak akan kuat jika warganya sakit-sakitan.

– Beban ekonomi: Tingginya angka PTM seperti jantung dan diabetes membebani BPJS Kesehatan. Dana negara terkuras untuk kuratif (pengobatan), bukan untuk pembangunan. Ini adalah ancaman ekonomi yang secara tidak langsung melemahkan daya saing bangsa.

– Kesiapsiagaan: Dalam situasi krisis (pandemi, bencana), populasi yang sehat dan memiliki daya tahan tubuh kuat (berkat pola hidup seperti puasa) akan lebih mampu bertahan dan produktif. Mereka adalah “garis depan” pertahanan sipil.

●  Puasa Membangun SDM Tangguh

Amanat Panglima Koopsudnas kepada para prajurit TNI AU baru-baru ini menarik dicermati. Beliau menekankan bahwa puasa membentuk mental yang tangguh, moral yang kuat, serta ketaqwaan dalam menjalankan tugas.

– Disiplin dan pengendalian diri: Puasa melatih pengendalian diri. Dalam konteks pertahanan, seorang prajurit atau masyarakat yang disiplin dan mampu mengendalikan hawa nafsu adalah aset. Ia tidak mudah korupsi, tidak mudah terprovokasi, dan fokus pada tugas.

– Kebersamaan: Momen puasa dan buka bersama di lingkungan TNI (seperti di Lanud Haluoleo) memperkuat silaturahmi dan soliditas tim. Soliditas ini adalah inti dari kekuatan sebuah institusi pertahanan .

Artinya, dengan menjadikan puasa sebagai gaya hidup, seorang akademisi kesehatan masyarakat tidak hanya sedang mempromosikan kesehatan individu. Ia sedang berpartisipasi dalam proyek besar pembangunan ketahanan nasional. Kesehatan adalah hulu dari pertahanan. Rakyat yang sehat adalah benteng pertama kedaulatan bangsa.

4. Penutup dan Kesimpulan

– Secara mikro individual, puasa adalah teknologi pertahanan diri melalui autofagi dan pengendalian metabolik. Tubuh kita adalah sistem yang canggih, dan puasa adalah “maintenance mode“-nya .

– Secara meso masyarakat, puasa adalah resep kesehatan masyarakat yang murah dan terbukti secara ilmiah mampu menangkal epidemi penyakit tidak menular.

– Secara makro bangsa, kumpulan individu yang sehat, disiplin, dan bertakwa adalah fondasi dari pertahanan dan ketahanan nasional yang sesungguhnya .

Kita memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memahami puasa, pertahanan, dan kesehatan secara komprehensif, tetapi juga menyebarluaskannya. Kita bisa menjadikan data-data ini sebagai dasar untuk riset lebih lanjut atau untuk mempromosikan kesehatan berbasis masjid dan komunitas. Kita tunjukkan bahwa puasa selaras sempurna dengan ilmu pengetahuan modern dan kebutuhan strategis bangsa.

Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi sebagai latihan tahunan untuk memperkuat perisai iman kita, memperbaiki kesehatan kita, dan pada akhirnya, ikut memperkokoh pertahanan bangsa dan negara. ***

Surabaya, Senin, 11 Maret 2026.

Daniel Mohammad Rosyid,  Guru Besar ITS Surabaya dan Direktur Perguruan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *