ZONALITERASI.ID – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa dalam kegiatan Halalbihalal dan Sarasehan 1447 H./2026 M. yang digelar pada Minggu, 22 Maret 2026 bertepatan dengan 2 Syawal 1447 H.. Kegiatan ini diinisiasi oleh warga Sukamaju, Cileungsir, Rancah, Ciamis yang berada di perantauan, sebagai upaya mempererat silaturahmi dengan warga lembur serta menjaga ikatan batin dengan tanah kelahiran.
Sejak pagi hari, Lapang Ciladur dipadati warga yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Dimulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB, pertandingan sepak bola mini (gapret) usia 40 tahun ke atas mempertemukan warga lembur dan warga kota. Suasana berlangsung santai, penuh canda, namun tetap menjunjung sportivitas. Kegiatan dilanjutkan dengan panjat pinang berhadiah yang semakin memeriahkan kebersamaan.
Memasuki sesi siang, pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, kegiatan berlanjut di halaman Masjid Sabilul Huda. Penampilan Tagoni (seni buhun) oleh grup Al Fajar Tagoni yang merupakan qasidah era 1980-an warga Sukamaju menjadi daya tarik tersendiri. Penampilan rebana turut menambah suasana religius, diselingi kuis interaktif berhadiah yang melibatkan warga secara langsung.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan di halaman Masjid Aweuhan (Sabilul Huda) mulai pukul 19.00 WIB. Acara dibuka secara resmi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan pangbagea ti lembur oleh Kepala Dusun, Solihin Somahudin. Dia menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini serta harapan agar ke depan bisa terus dilaksanakan dengan lebih baik. Penayangan profil Dusun Sukamaju turut memperkuat rasa kebersamaan warga.
Sambutan dari pihak PATRASUMA disampaikan oleh Ikin, warga Sukamaju yang kini berdomisili di Bekasi. Dia menceritakan awal mula terbentuknya paguyuban tersebut yang berangkat dari rasa rindu terhadap kampung halaman dan keinginan untuk tetap terhubung satu sama lain di perantauan.
“Kami di perantauan ini sebenarnya sederhana, hanya ingin tetap punya hubungan dengan lembur. Dari obrolan kecil sesama warga Sukamaju di kota, akhirnya terbentuk PATRASUMA sebagai wadah silaturahmi,” ujarnya.
Ikin juga menegaskan, keberadaan paguyuban bukan sekadar kumpul biasa, tetapi menjadi ruang untuk saling menguatkan dan berbagi, sekaligus menjaga nilai kebersamaan yang sudah ditanamkan sejak di kampung.
“Kami sadar, sejauh apa pun kami merantau, tetap asalnya dari sini. Makanya kami ingin silaturahmi ini jangan sampai putus. Lewat kegiatan seperti ini, kami ingin tetap dekat dengan lembur, bukan hanya secara perasaan, tapi juga lewat kegiatan nyata,” ucapnya.
Ikin berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan semakin melibatkan banyak pihak, terutama generasi muda.
“Harapan kami ke depan, kegiatan seperti ini jangan berhenti di sini saja. Mudah-mudahan bisa lebih baik, lebih rapi, dan lebih banyak yang ikut terlibat. Kami juga ingin generasi sekarang bisa merasakan hal yang sama, punya kebanggaan terhadap kampung halamannya,” imbuhnya.
Setelah sambutan, ditayangkan profil PATRASUMA sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat mengenai kegiatan dan peran paguyuban tersebut.
Acara hiburan turut menghidupkan suasana malam, di antaranya penampilan pencak silat dan penampilan kembali Al Fajar Tagoni. Grup qasidah ini berhasil menghadirkan nuansa nostalgia dengan membawakan lagu “Ya Rasulullah Ya Habiballah”, “Jilbab Putih”, dan “Matahari Dunia”. Penampilan mereka yang sederhana namun penuh kenangan mengundang tawa sekaligus rasa haru dari penonton.
Memasuki sesi sarasehan (talkshow), kegiatan dipandu oleh H. Ade Hasan, S.Pd. dan M. Zulkarnaen, M.Pd. Narasumber dari pihak lembur diwakili oleh Kepala Dusun dan Osim Tarsim. Sementara dari pihak perantauan diwakili oleh Nunung Nurlaila dan Didi.
Dalam diskusi tersebut, berbagai pandangan disampaikan mengenai pentingnya menjaga kebersamaan antara warga lembur dan perantauan.
“Kami merasa bangga melihat warga Sukamaju di mana pun berada tetap membawa nama baik lembur. Ini yang harus terus dijaga,” ujar salah satu narasumber.
Dari pihak perantauan juga menegaskan pentingnya kontribusi nyata bagi kampung halaman.
“Kami ingin ke depan tidak hanya sekadar kumpul, tapi juga bisa memberikan manfaat yang lebih luas untuk Sukamaju,” katanya.
Acara semakin hidup dengan adanya kuis interaktif berhadiah doorprize yang melibatkan warga secara langsung. Selanjutnya dilakukan penyerahan kadeudeuh sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh masyarakat, pemuda, serta lembaga keagamaan di Dusun Sukamaju.
Sebagai penutup, siraman rohani disampaikan oleh Ust. Asep Abdul Aziz, S.Pd. dari Pesantren Sabilunnajat. Dalam tausiyah-nya, dia mengingatkan, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari ajaran Islam dalam menjaga silaturahmi dan saling memaafkan.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya tradisi, tapi juga bagian dari ibadah. Silaturahmi itu diperintahkan, dan momen Idulfitri adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan doa sekitar pukul 00.00 WIB secara khidmat oleh pembawa acara Dede Kurnia dan Nana Taryana.
Melalui kegiatan ini, warga Sukamaju kembali menegaskan, jarak bukanlah penghalang untuk tetap terhubung dengan kampung halaman. Sebagaimana tema yang diangkat, Sanajan Jauh Hate Tetep ka Lembur (Walaupun Jauh Hati Tetap ke Kampung), kebersamaan ini menjadi bukti bahwa hati tetap pulang ke lembur. (des)***











