S.M. Kartosoewirjo dalam Karya Sastra; antara  Puisi, Novel, dan Biografi

karto
Cover buku Kematian Kecil Kartosowirjo, (Foto: Nunu A. Hamijaya.

Oleh  Nunu A. Hamijaya

Rasa aman adalah  racun – S.M. Kartosoewirjo

Kebenaran tanpa  kekuasaan  hanyalah OPINI –  Nunu A. Hamijaya

MENGINGAT adalah perlawanan. Begitulah  ‘atmosfir’ yang dirasakan para pelanjut perjuangan ideologi yang belum menjadi  pemenang.  Sebab,  faktanya, sejarah yang  dianggap  benar  ditulis oleh para pemenang. Inilah  yang disebut politik historiografi, yaitu   perilaku kekuasaan dalam mengendalikan sejarah’ (Henk  Schulte-Nordholt).

Pahlawan atau pengkhianat bergantung pada siapa yang menjadi pemenang. Dalam sejarah nasional kita, ada sejumlah tokoh  kontroversial yang dianggap pemberontak, yang  dikagumi diam-diam dan memiliki banyak pengikut. Salah satunya adalah Sekarmadji  Maridjan Kartosoewirjo (1905- 1962).

Sosok SM Kartosoewirjo sengaja  dikubur  dalam  ingatan kolektif  umat Islam di Indonesia. Bahkan, seolah-olah menjadi ‘aib’ dan ‘toxic’  bagi kaum  nasionalis sekuler penganut faham nasionalisme  Pancasila. Dicapnya sebagai Tokoh Pemberontak Gerombolan  DI/TII. Bahkan,  melupakan jasa-jasanya terhadap  perjuangan  Indonesia. Ia adalah salah-seorang peserta aktif dalam  Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.  Atas jasanya, peristiwa tersebut dimuat di harian Fadjar Asia, 30-31 Oktober 1929.  Bahkan, sempat kongres akan digagalkan pihak PID, jika saja Kartosoewirjo   tidak melakukan protes keras.

Tentang sosok SM Kartosoewirjo, kian terkuak pada tahun 2012, dengan terbitnya buku historiografi  Islam di Indonesia   genre  baru  yang disebut  ‘visual history  book’  selaras dengan  ungkapan   a photo  is worth an thousand  history, paling  berpengaruh dan fenomenal   Abad ke-21   adalah “Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII” karya    Fadli Zon ( Fadli Zon Library: 2012)

Dikatakan Fadli Zon, S.M. Kartosoewirjo  memang sosok   kontroversi, tapi   beliau adalah seseorang pelaku  sejarah yang banyak jasanya terhadap republik ini. Didirikannya DI/TII adalah garis sejarah yang  harus disikapi secara dewasa, dan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan bangsa ini. “Figur hitam putih Kartosoewirjo tidak semuanya hitam. Beliau adalah tokoh  bangsa, pejuang, dan punya jasa bagi republik Indonesia.

Kartosoewirjo, menurut sejarawan Bonnie Triyana, merupakan representasi dari salah satu keberagaman ideologi yang tumbuh dalam taman kebangsaan Indonesia. Dibesarkan oleh Tjokroaminoto bersama-sama Sukarno. Namun berpisah di penghujung jalan perjuangan dengan rekan indekosnya itu.

Soekarno, Presiden RI ke-1 /Proklamator  mengatakan :

“Di tahun 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Di tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam,” kata Soekarno dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat’ karya Cindy Adams, terbitan Media Pressido

Pengaruh Pamannya:  Mas Marco  Kartodikromo

Ada   tokoh   Indonesia yang   kontroversial  dan berpengaruh   hingga saat ini  pernah bersentuhan  dengan gaya  penulisan  dan pemikiran  Mas Marco yang radikalis dan prinsipalis   dalam  kehidupan dan karyanya.  Yang  pertama adalah  Pramudya Ananta Toer (PAT)  dan S.M. Kartosoewirjo  yang  merupakan keponakannya sendiri.  Bukan suatu kebetulan,   keduanya mewakili  dua kubu yang  berseberangan  secara ideologi : Komunis   vs Islam.

Marco  adalah pamannya  S.M. Kartosoewirjo. Ia   merupakan salah satu dari 7 (tujuh)  bersaudara.  Kakaknya Kartosoewirjo  adalah seorang mantri  candu, merupakan ayah Sekarmadji  Maridjan Kartosoewirjo. Kakek Marco dan Kartosoewirjo dari pihak  ayah adalah lurah  Merak, Panolan, Cepu yang bernama Ronodikromo, yang masih keturunan Arya Penangsang, Adipati Jipang di abad ke-16. Akibat membaca buku-buku kiri   milik pamannya  itu, S.M. Kartosoewirjo dikeluarkan  dari   Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands-Indische Artsenschool di Surabaya.  Kejadian ini mengubah 360 derajat  jalan  hidupnya

Pada 1914 ia mendirikan  Inlandsche Journalisten Bond (IJB) dan Doenia Bergerak sebagai jurnalnya. Tulisannya benar-benar bentuk  perlawaan terhadap Kolonialisme Hindia Belanda. Yang terkenal, misalnya  Student Hidjo (EYD: Student Hijo) adalah novel tahun 1918 karya Marco Kartodikromo. Novel ini awalnya diterbitkan dalam bentuk serial di Sinar Hindia, kemudian diterbitkan lagi dalam bentuk   buku oleh  Masman  & Stroink  pada tahun 1919. Kartodikromo menerbitkan  novel lain, Matahariah, pada tahun 1919. Ini didasarkan pada kehidupan Mata Hari  sebagai  mata-mata Belanda. Pada tahun 1924, Kartodikromo menerbitkan Rasa Merdika (A Sense of Independence), yang berurusan dengan seorang pemuda yang bertentangan dengan ayah priyayinya, alat pemerintah kolonial Belanda, dan mencoba untuk menemukan kemerdekaan pribadi, di bawah bimbingan guru.

“Kematian Kecil Kartosoewirjo”: Kumpulan  Puisi

Kartosoewirjo mendatangi saya dalam bentuk buku kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo  anggitan  Triyanto Triwikromo. Buku tersebut  berisikan  54 puisi yang merupakan pembacaan Triyanto bersumber pada  beberapa buku, pemberitaan, termasuk foto-foto koleksi Fadli Zon. Triyanto menuliskan pada akhir buku puisi tersebut bahwa Hari Terakhir Kartosoewirjo, koleksi  foto dalam buku Fadli Zon tersebut, telah membantu dirinya dalam menghadirkan (dalam bentuk puisi) peristiwa eksekusi mati Kartosoewrijo di tiang penembakan.

Triyanto menggunakan pola puisi liris dalam menghadirkan  kembali  citraan hari-hari terakhir Kartosoewirjo, dimulai dari puisi “Penangkapan” dan diakhiri dengan puisi “Kesaksian”. Tiga babakan dihadirkan dalam dalam buku tersebut seakan ingin membatasi ruang pembacaan: Awal (1 puisi), Antara (52 puisi, Akhir (1 puisi). Puisi-puisi dalam buku tersebut seolah menghadapkan kembali pada pembaca bagaimana Kartosoewirjo tertangkap, dibawa ke tiang gantungan, dan kesaksian-kesaksian para regu tembak.

Dalam puisi-puisi tersebut Triyanto seolah ingin memasuki dunia Kartosoewirjo sebelum eksekusinya, dunia para regu tembak, bahkan secangkir kopi, ganti baju, tiang gantungan sampai raut maut dicitrakan oleh Triyanto.

Dan puisi memang menghadirkan paradoks itu. Kematian Kecil Kartosoewirjo yang ditulis Triyanto telah menghadirkan semacam alternatif lain dari cara memandang sebuah peristiwa sejarah, tidak ada benar dan salah, kemungkinan-kemungkinan selalu tersimpan dalam bahasa puisi

Teks-teks  puisi  Triyanti ini dapart dibaca dalam sudut pandang sebuah prosa. Karakter tokoh, alur, latar waktu, latar tempat juga konfliks; Kematian Kecil Kartosoewirjo meyediakan semua hal tersebut.  Tidakkah jika dibaca dari halaman pertama sampai terakhir dengan singgetan  Awal—Antara—Akhir  buku puisi ini berkemungkinan besar menjadi novela.  Kita sudah punya Kartoesoewirjo sebagai tokoh utamanya. Kita sudah bisa menangkap pernyataan,  gerak aksi maupun tekanan-tekanan psikologis dari  Ara Suhara, Dokter, Si Oditur, Regu Tembak untuk menghadirkan kemencekaman narasi. Ada konflik yang  ditujukan oleh Kartosoewirjo kepada Sukarno, kepada Tjokroaminoto, kepada harapan-harapan ideal tentang bagaimana sebuah bangsa berdiri. Ada plot flashback yang digunakan untuk memberi informasi penggalan masa kecil Kartosoewirjo. Ada Latar waktu dan latar tempat yang dinamis.

Gagasan Triyanto mengolah fiksi dalam lingkaran data sejarah,  kita bisa membaca secara komparatif  antara buku puisi ini  dengan cerpen-cerpen. Ambil saja, dengan alasan kedekatan kita dengan sejarahnya, Sayap Kabut Sultan Ngamid, yang menceritakan penggalan kisah penangkapan pangeran Diponegoro. Cerita ini juga membangun konotasi-konotasinya dari lukisan milik Raden Saleh. Seluruh perangkat yang telah saya beberkan di awal: alusi, metonimi, metafora, membuat lilitan di cerita ini. Tokoh-tokoh seperti Haji Ngisa, Alibasah Gandakusumah, Raden Saleh, Haji Badarudin, mempunyai fungsi yang sama dengan tokoh-tokoh yang ada;  Imam Tentara, Komandan Regu Tembak, Penggali Kubur,  Oditur, Sukarno, Tjokroaminoto, Penonton pelaksanaan hukuman mati dlsb dalam buku puisi ini.

Walau terkesan bersimpati kepada sosok sang pemberontak, Triyanto mampu menjaga diri sehingga puisi-puisinya tak terkesan sebagai propaganda dangkal atau sekadar pamflet yang sayu. Triyanto berupaya menyelami sisi batin Kartosoewirjo sebagai seorang manusia dengan berbagai seginya. Maka, buku puisi ini juga adalah semacam solilokui tentang kesepian, cinta, persahabatan, dan renungan spiritual. (Anton Kurnia, sejarawan, 2015)

Perjuangan  S.M. Kartosoewirjo dalan Novel

Novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” (LTLA)    karya  Ahmad Tohari  merupakan  representasi pemberontakan yang dilakukan oleh Darul Islam setelah Proklamasi dan berdirinya Negara RI   antara pada tahun 1949  hingga 1962.  Novel  LTLA  sebelum  dicetak (1995 :    Penerbit Harta Prima Purwokerto),    novel LTLA sudah terlebih dahulu terbit menjadi cerita bersambung pada harian Republika, Jakarta.

Jika novel Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk menyinggung tentang dampak peristiwa 1965, novel Di Bawah Kaki Bukit Cibalak  menyinggung  masa Orde Baru di mana korupsi pada saat itu merajalela, dan LTLA membicarakan bentuk pemberontakan gerakan Darul Islam. Berdasarkan tema yang dibahas masing-masing novel, terlihat sisi kemenarikan yang berbeda-beda. Tapi ada juga persamaan dari keempat novel tersebut yaitu sama-sama membahas politik pasca kemerdekaan.

LTLA secara garis besar menceritakan perjuangan tokoh Amid yang memberontak untuk mewujudkan Negara Islam Indonesia. Di tengah perjuangannya Amid bersama Darul Islam dengan sengaja melawan Republik Indonesia. Selama bertahun-tahun Amid hidup dalam kecemasan karena menjadi incaran TNI dan warga Jawa Tengah. Setelah tertangkapnya pimpinan tertinggi Darul Islam, Amid kembali kepangkuan Republik Indonesia untuk membantu TNI dalam menangkap pemberontakan komunis. Perjuangan tersebut membuat Amid tertembak dan akhirnya meninggal. Konflik yang ditampilkan dalam novel LTLA berfokus pada pemberontakan Darul Islam di Jawa Tengah.

Biografi  Ulama Pro S.M. Kartosoewirjo: 

Pembuka   Hidayah  (Jilid 1-4)

Buku novel biografi ini terdiri dari 4 jilid bersambung, karya   Fauz Noor Zaman ( 2021-2023).

Novel Biografi K.H. Choer Affandi: Pembuka Hidayah, berhasil memotret kisah hidup Sang Ulama Mujahid dengan genial. Kekuatan data sejarah yang akurat dibarengi dengan sentuhan sastra yang padat, menjadikan novel ini layak disebut masterpice-nya Fauz Noor (penulis santri dari Tasikmalaya yang sangat produktif).

Choer Affandi dikenal dengan sebutan Uwa Choer,yang ternyata UWA adalah singkatan dari “Ulama warisatul Anbiya”.

Salah satu tema utama novel ini  adalah pelurusan sejarah perjuangan umat Islam, termasuk perjuangan yang dilakukan  K.H.  Choer  Affandi  lewat  Darul Islam (DI) yang sejatinya diletakkan dalam konteks yang semestinya. Keterlibatan KH. Choer  Affandi   dalam   politik   praktis, Darul   Islam (DI)   dengan visi-misi yang jelas, yaitu menginginkan kehidupan masyarakat Indonesia berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama yang harus diapresiasi oleh umat Islam.

Dengan judul novel Pembuka Hidayah, penulis bermaksud mengungkap nilai-nilai ketauladanan (uswah) dari perjalanan hidup seorang ulama besar ini, agar bisa dicontoh oleh umat Islam. Perjuangan (jihad) beliau mulai menuntut ilmu, cara beribadah, bersosial, berdakwah, dan berpolitik diungkap dengan apik, agar bisa ditauladani oleh siapa pun yang membacanya.

K.H. Choer Affandi adalah seorang ulama yang tidak hanya aktif berdakwah menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Tapi beliau juga adalah seorang aktifis pejuang Negara Islam Indonesia, yang bernama Darul Islam (DI). Beliau sangat mengagumi S.M. Kartosuwirjo.

Di jilid pertama dan kedua, Fauz Noor banyak memotret perjalanan hidup Uwa Ajengan dari masa kecil, menjadi santri kelana hingga melakukan perjuangan bersama DI/TII sampai tahun 1960-an, hingga Uwa Ajengan turun gunung datang ke Manonjaya. Adapun di jilid ketiga ini Fauz Noor memotret sepak terjang Uwa Ajengan dalam dakwah dan tarbiyah dengan mendirikan Pesantren Miftahul Huda. Di sinilah penulis dengan apik mampu menarasikan bagaimana kejeniusan dan keautentikan Uwa Ajengan begitu sangat nyata di depan mata dengan berhasil mendidik ribuan santri yang tersebar di seantero Indonesia

Dalam buku keempat (4),   ini dikisahkan masa-masa terakhir  perjuangan Uwa Ajengan dalam mengabdi kepada agama dan ummat. Kita akan membaca bagaimana heroiknya Uwa bersama para santrinya, membuat saluran air atau sungai dengan menembus gunung di Cisitu (sekarang) Kabupaten Pangandaran. Jejak heroiknya, masih bisa kita saksikan sampai sekarang dan menjadi tapak-baik yang dalam bahasa agama menjadi shodaqah jariyah Uwa Ajengan.

Kita pun akan membaca detik demi detik, yang dilukiskan cukup detail oleh penulis, peristiwa terakhir Uwa Ajengan dalam menjemput mautu. Indah sungguh indah. Kematian khusnul-khatiman.

Karena merupakan jilid pamungkas, dalam buku ini Fauz Noor memberikan sejenis makah pertanggung-jawaban ilmiah atas data sejarah yang ia simpan dalam empat jilid novel Biografi K.H. Choér Affandi. Kita akan membaca  kelihaian Fauz Noor dalam kengelola data sejarah dan kecanggihan berpikir falsafah sejarah. Buku ini adalah sastra. Buku ini juga adalah novel sejarah yang data-datanya sangat bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Demikianlah, tentang S.M. Kartosoewirjo   dalam puisi, novel, dan biografi untuk memberikan dataran baru dalam  melihat sosok tokoh kotroversional dan fenomenal  hingga saat ini. ***

Madrasah al I’anah, 3/2/2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda/Sejarawan Publik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *