ZONALITERASI.ID – Kiendra Lian Damarta (16), siswa kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi mendapat hadiah istimewa dari Presiden RI, Prabowo Subianto.
Seusai berpidato dengan menggunakan bahasa Inggris di hadapan Presiden Prabowo pada peresmian 166 Sekolah Rakyat secara serentak di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), pada 12 Januari lalu, Kiendra mendapat hadiah berupa beasiswa ke luar negeri.
Presiden memuji penampilannya yang dinilai setara dengan seseorang yang pernah lama tinggal di luar negeri.
“Saya besar di luar negeri. Kalau bahasa Inggris saya bagus, itu wajar. Tapi anak ini, saya kagum juga,” kata Prabowo, dalam keterangan tertulis dari Kemensos, dikutip Kamis, 22 Januari 2026.
Presiden juga memberikan pujian khusus atas kemampuan bahasa Inggris Kiendra.
“Saya terkesima hari ini, terus terang saja. Bisa ada anak yang pidatonya dalam beberapa bahasa. Bahasa Inggrisnya, menurut saya, luar biasa,” ujar Prabowo.
Atas penampilan tersebut, Prabowo berencana memberikan Kiendra kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
“Mungkin bagusnya kita kirim juga (studi) ke luar negeri. Kira-kira bagaimana, setuju tidak?,” pungkasnya.
Senang Pidato di Hadapan Presiden
Seusai acara, Kiendra juga mendapat kesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan Prabowo. Dia mengaku senang dapat berpidato di hadapan Presiden, para menteri, dan tamu undangan.
“Saya merasa senang, capek tapi lebih (banyak) ke senangnya sih, soalnya ini pengalaman pertama aku bisa berpidato dengan banyak orang, apalagi di depan Pak Presiden,” kata Kiendra.
Menurut Kiendra, setelah tampil, kepercayaan dirinya meningkat dan semangat belajarnya semakin kuat. Kini, di sekolah, ia juga turut aktif ikut kegiatan OSIS pada bidang kehumasan.
Ke depan, Kiendra berharap dapat belajar dengan baik di Sekolah Rakyat, melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, bahkan berkuliah di luar negeri untuk mewujudkan cita-citanya sebagai animator profesional.
“Aku berharap program Sekolah Rakyat terus berlanjut agar semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu dan yang berisiko putus sekolah memperoleh akses pendidikan berkualitas,” ujarnya.
“Terima kasih Presiden Prabowo sudah memberikan fasilitas Sekolah Rakyat untuk anak-anak kurang mampu,” sambung Kiendra.
Keluarga Sederhana
Kiendra berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Jemmy Damarta, bekerja sebagai pengemudi ojek daring, sementara ibunya, Liana Suhardini, berjualan makanan.
Kiendra mengatakan, awal masuk Sekolah Rakyat bukan karena keinginan pribadi, melainkan karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan di SMA reguler.
“Aku sempat merasa seperti dipaksa, tapi melihat kondisi orang tua, ya sudah saya masuk saja, karena memang tidak ada biaya,” kata Kiendra,
Kemampuan bahasa Inggris Kiendra tidak diperoleh secara instan. Dia mengaku belajar secara autodidak sejak kecil dengan menonton berbagai konten berbahasa Inggris.
Namun, sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kiendra belum pernah berpidato dalam bahasa Inggris di depan umum dan tidak terbiasa tampil di ruang publik.
Proses tersebut tidak berjalan mudah. Kiendra kerap mengalami kesulitan meningkatkan kemampuan berbicara dan menyampaikan ide.
Namun perlahan, dengan bimbingan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) sekaligus Pembina English Club Rifki Aziz, melalui latihan rutin, kepercayaan dirinya mulai tumbuh.
Latihan dilakukan secara bertahap, mulai dari berlatih di ruang guru, tampil di depan teman-temannya usai apel pagi, hingga pertama kali menggunakan mikrofon di aula sekolah.
“Walaupun peresmian Sekolah Rakyat sempat diundur, saya bersama Pak Aziz tidak pernah berhenti latihan. Jadi terus semangat berlatih,” kata Kiendra. (haf)***











