Oleh Mafri Vina
AKU pernah ditanya, “Menurut kamu, effort terbesar atas keberhasilan anak di era sekarang itu siapa?”
“Jawabanku: orang tuanya.”
Bayar les yang nggak murah, ngajarin dan ngawasin PR, anter jemput anak, ikut belajar pelajaran sekolah, kerja lebih keras demi fasilitas anak, bahkan kadang ikut stres karena tuntutan pendidikan sekarang serba cepat dan instan.
Sekarang ini banyak anak dituntut masuk sekolah sudah bisa baca, nulis, berhitung. Yang kalangkabut siapa? Ya orang tuanya.
Semua akhirnya dibalikin lagi ke orang tua.
Ini sudah bukan era tahun 90-an, waktu masuk SD kita belum bisa apa-apa. Dulu kelas 1 maju satu-satu sambil mengeja “IBU BUDI” pakai penggaris kayu panjang di depan kelas. Guru benar-benar mengajarkan dari nol.
Kalau soal tanda terima kasih buat guru, silakan saja selama masih dalam batas wajar. Karena menurut saya, di era sekarang effort terbesar memang banyak ada di orang tua. Tapi bukan berarti guru nggak punya peran. Tetap ada, dan tetap penting.
Bedanya, sekarang sumber belajar sudah banyak. Ada internet, gadget, tempat les, video belajar, dan lain-lain. Jadi ilmu tidak lagi hanya datang dari guru di sekolah.
“Lalu kalau tidak memberi hadiah berarti tidak menghargai guru?”
Aku justru suka bertanya balik: Dulu, saat guru benar-benar mengajari kita dari nol, kenapa nggak ada budaya emas murni, tas branded, amplop jutaan, atau perayaan mewah?
Kenapa sekarang malah jadi adu gengsi?
Padahal orang tua juga sudah mati-matian ngajarin anaknya baca “IBU BUDI”, ngafalin peta, nama presiden, ngerjain tugas, sampai begadang nemenin belajar. Tapi masih harus ditambah pusing mikirin “harus kasih apa” supaya nggak dianggap beda sendiri.
Yang terjadi sekarang sering kali bukan lagi murni menghargai, tapi takut jadi minoritas. Takut dibilang pelit. Takut anak diperlakukan beda. Takut nggak enakan.
Akhirnya budaya pendidikan jadi rusak pelan-pelan karena kalimat: “Pada umumnya …” “Biasanya …” “Tradisinya …”
Dari situ muncul pilih kasih murid, omongan “kok ibu itu ngasih”, sampai wali murid yang terpaksa ikut-ikutan walau keberatan.
Harusnya kita sebagai wali murid bisa tegas. Cukup tahu saja, lalu jadikan itu penilaian terhadap kualitas sekolah dan tenaga pendidiknya. Bukan malah membesarkan budaya nggak enakan sampai akhirnya memberatkan diri sendiri.
Mungkin standarku terlalu kecil dibanding sebagian mamah-mamah lain yang menganggap nominal besar itu wajar. Tapi buatku, hadiah mewah untuk kenaikan kelas masih terasa berlebihan.
Kadang kita nggak sadar, justru kita sendiri yang perlahan menghapus nilai murni pendidikan.
Padahal para guru sejak awal sudah tahu konsekuensi profesi yang mereka pilih. Niat awal mereka pasti mengajar dengan ikhlas. Tapi tanpa sadar, kita para wali murid juga ikut menggeser makna keikhlasan itu dengan budaya memberi berlebihan.
Lalu saat guru mulai pilih kasih, kurang komunikatif, atau berbeda sikap ke murid tertentu, kita kecewa. Padahal budaya itu juga terbentuk karena kita semua ikut membiasakannya.
Mari belajar jadi manusia yang tidak ikut-ikutan. ***
Mafri Vina, pemerhati pendidikan.











