Sounding Ramadan kepada Balita, Cara Mengenalkan Konsep Puasa sejak Dini

028904600 1588328017 Ilustrasi Anak Balita sedang Sahur shutterstock 1380000104
Ilustrasi “Sounding Ramadan ke Balita, Cara Mengenalkan Konsep Puasa sejak Dini”, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.IDBagi orang tua yang memiliki buah hati di usia balita (bawah lima tahun) atau usia dini, Ramadan sering kali menghadirkan tantangan tersendiri. Muncul pertanyaan di benak Ayah dan Bunda, “Bagaimana cara menjelaskan konsep lapar dan haus kepada anak usia 3 atau 4 tahun?” atau “Apakah boleh menyuruh mereka puasa, padahal mereka belum baligh?”

Karena ketidaktahuan metode, orang tua justru kerap mengenalkan Ramadan dengan cara yang menakutkan, seperti, “Ayo puasa, kalau makan nanti Allah marah!” atau “Kalau nggak puasa masuk neraka!”. Padahal, dalam fase tumbuh kembang anak usia dini (golden age), otak mereka menyerap informasi melalui emosi dan suasana. Jika Ramadan dicitrakan sebagai bulan “penderitaan” karena tidak boleh makan permen atau minum susu, maka memori itulah yang akan tertanam hingga dewasa. Karena itu, diperlukan metode sounding (pengenalan) yang tepat, lembut, dan menyenangkan sesuai dengan kaidah Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak) dalam Islam.

Hukum Puasa untuk Anak Kecil, Latihan bukan Kewajiban

Secara syariat, kewajiban puasa Ramadan (Rukun Islam) jatuh kepada mereka yang sudah baligh (dewasa secara biologis) dan berakal. Anak balita (belum tamyiz dan belum baligh) tidak wajib berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

Artinya: “Pena catatan amal diangkat (tidak dicatat dosa) dari tiga golongan: orang tidur hingga bangun, anak kecil hingga ia bermimpi basah (baligh), dan orang gila hingga ia berakal.” (HR. Abu Daud no. 4403).

Namun, tidak wajib bukan berarti tidak perlu diajarkan

Para ulama bersepakat bahwa mengenalkan ibadah sejak dini adalah sunnah sebagai bentuk latihan (tamrin). Tujuannya agar saat anak mencapai usia baligh, fisik dan mentalnya sudah siap dan tidak kaget. Ini di-qiyas-kan dengan perintah salat pada usia 7 tahun.

4 Cara Mengenalkan Konsep Puasa sejak Dini, Metode Pendidikan Anak sesuai Sunnah

1. Sounding Lewat Kisah dan Dialog (Talqin)

Anak balita belum paham konsep abstrak seperti “pahala” atau “takwa”. Mereka memahami bahasa kasih sayang dan cerita.

Lakukan sounding atau pembicaraan santai menjelang tidur atau saat bermain, minimal 2 minggu sebelum Ramadan tiba.

Apa yang harus diucapkan?

Gunakan kalimat positif (positive parenting). Hindari kata “Lapar”, “Haus”, atau “Capek”.

Ganti dengan:

“Kakak, sebentar lagi bulan Ramadan lho. Bulan penuh hadiah dari Allah.”

“Nanti kita bangun malam-malam buat makan enak (sahur) bareng Ayah Bunda.”

“Allah sayang sama Kakak, karena Kakak anak soleh.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya menjaga telinga anak dari kata-kata yang buruk atau menakutkan. Sounding yang positif akan membentuk neuro-association di otak anak bahwa Ramadan = bahagia.

2.Latihan Bertahap (Tadruj) ala Sahabat Nabi

Jangan langsung memaksa anak puasa sehari penuh (maghrib). Itu bisa berbahaya bagi tumbuh kembang fisiknya dan membuat trauma. Islam mengajarkan prinsip tadruj (bertahap).

– Usia 3-4 tahun: Kenalkan suasana saja. Ikut sahur (walau habis itu tidur lagi), ikut berbuka. Tidak perlu menahan makan.

– Usia 5-6 tahun: Mulai “Puasa Jajan”. Boleh makan nasi, tapi tidak boleh makan permen/snack. Atau puasa beberapa jam (misal jam 8 pagi sampai jam 10 pagi).

Metode ini ternyata dipraktikkan oleh para sahabat Nabi kepada anak-anak mereka.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha, ia berkata tentang puasa Asyura (yang saat itu diwajibkan sebelum Ramadan):

وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ

Artinya: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami (yang masih kecil). Kami buatkan untuk mereka mainan dari bulu (wol). Jika salah satu dari mereka menangis minta makan, kami berikan mainan itu (untuk mengalihkan perhatiannya) hingga datang waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136).

Hadits ini adalah dalil terkuat parenting puasa:

1. Boleh melatih anak kecil puasa.

2. Gunakan distraksi (mainan/aktivitas) agar mereka lupa rasa laparnya. Ajak main, baca buku, atau jalan-jalan sore (ngabuburit).

3. Ciptakan Suasana Meriah (Ta’zhim Sya’airillah)

Anak-anak menyukai perayaan. Buatlah Ramadan di rumah Anda terasa “spesial” dan berbeda dari bulan lain.

Tips praktis menciptakan suasana rumah terasa meriah:

1. Dekorasi rumah: Pasang hiasan lampu, tulisan “Ramadan Kareem”, atau balon di ruang tamu. Ajak anak membuatnya (aktivitas motorik).

2. Perlengkapan ibadah baru: Berikan mukena/sarung/kopiah baru khusus Ramadan. Ini membuat mereka semangat ke masjid/tarawih (walau hanya sebentar).

3. Buku Ramadan: Bacakan buku sirah Nabi atau kisah para nabi saat menunggu buka puasa.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya: “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

Menghias rumah dan bergembira menyambut Ramadan adalah bentuk mengagungkan syiar Allah. Ini menanamkan di hati balita bahwa “Wah, Ramadan itu seru ya, bukan menyedihkan.”

4. Teladan Orang Tua (Qudwah Hasanah)

Ini adalah kunci paling fatal. Anak adalah peniru ulung. Jika Anda menyuruh anak puasa atau mengenalkan Ramadan dengan ceria, tapi Anda sendiri (Ayah/Bunda) sering mengeluh: “Duh, lemes banget nih, haus banget, kapan sih Maghrib?” di depan anak, maka sounding Anda gagal.

Anak akan menyimpulkan: “Kata Bunda Ramadan asyik, tapi kok Bunda mukanya cemberut dan marah-marah terus?”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa kerusakan pada anak sebagian besar disebabkan oleh kelalaian orang tua dalam memberikan teladan.

Tunjukkan wajah yang berseri (basyasyah) saat berpuasa. Tunjukkan semangat saat sahur. Anak akan menyerap energi positif itu.

Ayah dan Bunda yang dirahmati Allah, mengenalkan puasa pada balita adalah investasi jangka panjang. Jangan terburu-buru mengharapkan mereka puasa full. Tujuan utama di usia dini (golden age) bukanlah menahan lapar, melainkan menumbuhkan cinta.

Biarkan mereka mencintai Ramadan dengan memori-memori indah: sahur bersama, mainan baru, dekorasi rumah, dan senyum orang tua.

Jika pondasi cinta ini sudah kuat, insyaAllah saat mereka baligh nanti, mereka akan mengerjakan puasa dengan ringan hati, bukan karena terpaksa. (des)***

Sumber: Bmm.or.id

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *