Yang Hilang di Tanah Kelahiran (1, Bersambung)

Oleh Suheryana Bae

12464829 1300196246663853 2057989727 o 1
Hamparan persawahan di pedesaan, (Foto: Diki Malik).

LIMA PULUH tahun kemudian. Banyak perubahan di kampungku. PLN sudah merata di desa. Telepon dan wifi. Jalan utama sudah beraspal hitam atau di-hotmix. Kendaraan bermotor hampir dimiliki setiap keluarga. Kendaraan roda empat terkini memadati jalanan. Setiap masjid memiliki pengeras suara. Dan banyak lagi tentunya.

Tetapi banyak juga yang hilang dari peradaban desa. Sekadar mengenang masa lalu, menelusuri apa saja kebiasaan, permainan, atau pekerjaan yang hilang dalam kurun lima puluh tahun terakhir.

Pertama, yang dirasa hilang adalah kebiasaan menginap di surau dan bermain di surau. Ketika kecil dahulu kala, surau itu tempat bermain mengasyikan. Berkelakar, petak umpet, menggoda-goda perempuan, atau bermain apapun terutama di waktu magrib atau di bulan Ramadan. Selain tempat bermain, surau juga tempat tidur di malam hari. Membaca qur’an, menghapal pelajaran sekolah, atau sekadar tidur sepulang dari menghadiri pengajian tetangga kampung atau nonton misbar di kota kecamatan. Bergelap-gelapan dalam rangka menghemat minyak tanah juga sebentuk ketakutan ditegur para orang tua.

Sekarang belajar mengaji dilaksanakan di madrasah atau sore menjelang magrib. Unsur main-mainnya semakin berkurang. Apalagi menginap di surau, tampak sudah menghilang.

Kedua, setiap bulan Ramadan dahulu libur empat puluh hari. Sebelum, selama, dan setelah selesai puasa. Banyak aktivitas anak kampung di bulan ini. Kedatangan anak kota yang berlibur di kampung, tentu menjadi perhatian khusus bahkan kalau bisa bermain bersama apalagi kalau sampai berteman dekat menjadi kebanggaan tersendiri.

Selain bermain-main sepuasnya, bulan Ramadan juga dipakai untuk latihan seni tradisi atau boleh juga seni kontemporer sebagai persiapan tampil di acara halal bi halal. Anggaran dan biaya berasal dan donasi warga yang diambil secara berkeliling oleh anak-anak kampung usia SD dan SMP dari rumah ke rumah.

Menjelang lebaran, ngabedahkeun balong, memanen ikan mujaer atau sepat atau tambak, kadang dapat ikan lele, belut, dan bogo. Beberapa jenis ikan tidak ditemukan lagi di masa sekarang.

Ketiga, bermain rorodaan. Sebentuk mobil-mobil terbuat dari kayu yang bisa dinaiki. Biasanya anak kampung naik rorodaan di jalan menurun atau didorong bergantian. Pelumasnya menggunakan daun dan wera, sejenis tumbuhan yang juga tidak kelihatan lagi saat sekarang. Jenis permainan ini sangat mengasyikan dan menyenangkan untuk mengisi waktu bermain anak kampung.

Keempat, dahulu kala sebelum membangun rumah, orang di kampung mempersiapkannya jauh-jauh hari. Membakar tanah sebagai bahan semen merah bermingu-minggu lamanya. Sekarang tidak lagi populer penggunaan semen merah.

Kayu untuk kusen mengambil dari kebun. Tidak ada jual beli kayu bahan rumah. Digergaji secara tradisional dalam sebuah kerangka yang dibuat khusus. Posisi penggergaji, di atas satu-di bawah satu. Ditarik ulur dalam ritme teratur oleh dua orang tersebut. Agar kayu dibentuk dalam garis yang lurus, digaris menggunakan benang kasur setelah dicelup air dicampur dalemannya batu baterry. Anak zaman sekarang tidak usah membayangkan, karena tidak akan terbayang.

Selesai dibentuk dan digergaji, kayu direndam di kolam selama kurang lebih dua atau tiga bulan. Katanya menjadi lebih kuat dan anti rayap.

Pada saat meruntuhkan, masyarakat bergotong royong. Menurunkan genting, menata lahan dan membangun rumah. Biasa disuguhi makan dengan ikan asin dan sayur lodeh. Nikmat …

Kelima, ronda malam adalah kebiasaan menyenangkan zaman dulu. Secara bergilir warga menjadi petugas ronda malam. Biasanya seminggu sekali.

Markas ronda biasa dibangun tersendiri atau di Balai Desa/Balai Kampung. Warga yang bertugas tidak melulu berdiam di pos dan main kartu, tetapi setiap jam memukul kohkol. Jumlah pukulan sesuai waktu. Kalau jam dua belas malam dipukul dua belas kali. Bahkan ada kode-kode tertentu dalam menabuh kohkol. Kode kalau terjadi kebakaran, kode kalau terjadi pembunuhan, kode kalau terjadi pencurian, kode kalau terjadi bencana dan sebagainya.

Yang mengasyikan dan masih terdengar sampai sekarang, saat keliling kampung, ronda memainkan alat musik seperti calung dan berjalan keliling sambil bersenandung. Sayup-sayup di kejauhan terdengar merdu dan menenteramkan bagi orang-orang yang tidur di rumah.

Keenam, sesungguhnya orang kampung itu sangat produktif. ***

Suheryana Bae terlahir di desa. Berangan menjadi penulis, penyair, atau novelis tetapi dalam perjalanan hidupnya tercatat sebagai ASN sepuluh tahun mengabdi di Timor Timur. Sekarang Asisten Administrasi Umum Pemda Pangandaran.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *