1,6 Juta Peserta Ikuti TKA SD, Kemendikdasmen: Harus Berdampak terhadap Peningkatan Kualitas Pembelajaran

WhatsApp Image 2026 04 21 at 21.15.00
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, meninjau pelaksanaan TKA jenjang pendidikan SD gelombang pertama di SDN 03 Rawa Buntu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin, 20 April 2026, (Foto: Kemendikdasmen).

ZONALITERASI.ID Sebanyak 1.607.830 peserta mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD/MI/sederajat pada hari pertama di seluruh Indonesia.

Tes berlangsung secara serentak mulai pukul 07.00 hingga 15.30 WIB. Kegiatan ini terbagi ke dalam empat sesi untuk sebagian besar wilayah Indonesia, sementara untuk wilayah Indonesia bagian timur diselenggarakan dalam tiga sesi menyesuaikan kondisi setempat.

Adapun TKA sesi pertama diikuti oleh 701.137 peserta, sesi kedua diikuti oleh 632.505 peserta, sesi ketiga diikuti oleh 233.848 peserta, dan sesi keempat diikuti oleh 40.340 peserta.

“Hal ini menunjukkan partisipasi yang luas dari peserta didik di berbagai daerah. Pelaksanaan hari pertama TKA jenjang SD/MI/sederajat berlangsung dengan baik,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, melalui keterangan yang disampaikan Selasa, 21 April 2026.

Toni mengungkapkan, perhatian terhadap TKA tidak lagi berhenti pada aspek pelaksanaan semata, seperti kesiapan teknis, kelancaran proses, dan integritas penyelenggaraan. Namun ke depannya, fokus perlu diperluas pada bagaimana hasil TKA dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar pengambilan kebijakan pendidikan, baik di tingkat satuan pendidikan, pemerintah daerah, maupun pusat.

Pergeseran ini penting agar TKA tidak hanya menjadi instrumen pengukuran, tetapi juga alat yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran.

“Selama ini kita cenderung berfokus pada bagaimana TKA dilaksanakan di daerah-daerah. Ke depan, yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasilnya benar-benar dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan yang berbasis data. Data dari TKA harus menjadi rujukan dalam memperbaiki pembelajaran, menyusun kebijakan, dan memastikan setiap intervensi pendidikan lebih tepat sasaran,” ujar Toni.

Menurut Toni, pemanfaatan hasil TKA diharapkan dapat memperkuat berbagai aspek, mulai dari perbaikan proses pembelajaran di kelas, penyusunan intervensi yang lebih tepat sasaran, hingga perencanaan program pendidikan yang berbasis data.

Untuk mendukung hal tersebut, masyarakat, satuan pendidikan, dan pemerintah daerah dapat mulai mengakses dan memanfaatkan hasil TKA melalui laman resmi di tka.kemendikdasmen.go.id/hasiltka sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan berbasis data.

Melalui pemanfaatan laman tersebut, TKA menjadi bagian dari siklus peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan, di mana hasil asesmen digunakan secara aktif untuk mendorong transformasi pendidikan yang lebih adaptif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

“Kami ingin memastikan bahwa TKA tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan yang hanya dibahas ketika sedang pelaksanaan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem peningkatan mutu pendidikan. Ketika hasilnya dimanfaatkan secara optimal oleh sekolah dan pemerintah daerah, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh peserta didik,” ucapnya.

Toni menambahkan, pemanfaatan hasil TKA secara optimal menjadi kunci dalam memastikan setiap upaya peningkatan mutu pendidikan berjalan lebih terarah, berbasis data, dan berkelanjutan.

“Selain itu, memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan satuan pendidikan agar setiap kebijakan dan intervensi yang dilakukan benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan capaian peserta didik,” pungkasnya. (des)***