KDM Usulkan Masuk Sekolah Jam 6 Pagi, P2G: Jangan Jadikan Sistem Pendidikan untuk Percobaan Kebijakan

1 screenshot 2023 05 12 200616
Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) P2G, Satriawan Salim, tidak setuju jika sistem pendidikan, guru, dan siswa dijadikan upaya percobaan kebijakan. (Foto: Suara.com)

ZONALITERASI.ID – Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) P2G, Satriawan Salim, mengatakan, tidak setuju jika sistem pendidikan, guru, dan siswa dijadikan upaya percobaan kebijakan.

Pernyataan itu disampaikan Satriawan untuk menyikapi usulan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, yang menginginkan agar jam masuk sekolah dimulai pukul 06.00 WIB.

“Jangan jadikan sistem pendidikan, guru, dan anak sebagai upaya trial and error kebijakan yang tidak matang, tidak evidence based policy dan tidak research based policy,” katanya, Selasa, 3 Juni 2025.

Menurut Satiawan, kebijakan pendidikan yang disampaikan oleh KDM, sapaan Dedi Mulyadi, masih rapuh secara konseptual dan rentan untuk berubah secara drastis karena tidak kuat. Kebijakan pendidikannya lebih banyak didasarkan pada ide spontanitas, bukan yang terencana dan sistematis sebagaimana konsep dasar pendidikan itu sendiri.

“Yang menjadi sorotan bukan jamnya saja, melainkan kebijakan yang tidak terencana. Mau jam berapa pun kalau idenya spontan, tidak terencana dan sistematis dalam kebijakan pendidikan, hasilnya akan tidak berdampak- kualitas pendidikan tak akan membaik,” ucapnya.

Menurut Satriawan, selama ini, berbagai riset atau kajian ilmiah telah mengaitkan jam masuk sekolah terlalu pagi dengan kurangnya waktu tidur anak. Menurut penelitian, dampak negatif kurang tidur bisa membuat anak akan sulit berkonsentrasi, penurunan daya ingat, gangguan metabolisme tubuh, sarapan bisa terlewatkan, kelelahan, kecemasan, bahkan penurunan prestasi akademik.

Agar anak-anak mendapatkan kualitas hidup dan kesehatan prima, lanjutnya, perlu mencukupi jam tidur ideal secara medis yakni sekitar 8-10 jam (usia 13-18 tahun) dan 9-12 jam (usia 6-12 tahun). Ini menjadi alasan kenapa banyak negara maju memiliki jam masuk sekolah yang lebih siang.

“Di Malaysia, China, dan sebagian Amerika Serikat, rata-rata masuk sekolah sekitar 07.30 pagi. Di India, Inggris, Rusia, Kanada, dan Korea Selatan, jam masuk sekolah pukul 08.00 pagi. Sementara di Singapura, Jepang, dan sebagian Amerika Serikat masuk pukul 08.30 pagi. Semuanya dengan skema belajar 5 hari atau Senin-Jumat,” sebutnya.

Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri, mengatakan, kebijakan KDM seharusnya belajar dari provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2023. Provinsi NTT pernah mencoba menerapkan kebijakan masuk sekolah pukul 05.00 pagi, tapi setelah uji coba dan evaluasi di sekolah lalu direvisi menjadi pukul 05.30 pagi. Pada akhirnya kembali menerapkan masuk sekolah pukul 07.00 pagi setelah melakukan evaluasi komprehensif termasuk mendengarkan masukan berbagai pihak.

“Kita harus belajar dari NTT, jangan sampai kebijakan pendidikan coba-coba dan akhirnya kembali seperti sedia kali. Sebaiknya hati-hati dan kaji dulu,” ungkap Iman.

Iman menilai, penerapan jam masuk sekolah lebih pagi akan banyak kesulitan dalam implementasi. Mulai dari akses ke sekolah yang jauh dari rumah siswa dan guru hingga ketidaktersediaan kendaraan umum pada pagi buta.

Hal ini belum ditambah risiko keamanan bagi siswa dalam keberangkatan, karena kondisi jalan sepi atau langit masih gelap. Guru dan orang tua siswa juga merasa lebih terbebani karena harus menyiapkan sarapan dan bekal lebih awal.

“Guru dan siswa yang rumahnya jauh harus bangun lebih pagi lagi. Malah sarapan pada jam sahur. Ini tentu saja sangat tidak berkeadilan,” ujar Iman. (des)***

Sumber: detikEdu