Majalaya Era Kini: di Balik Industri, Lingkungan Tertekan

sampah 3
Tumpukan sampah di kampung Cibeunying, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, (Foto: Titin Juartini).

Oleh Fitria Salsabila Oktavia

LINGKUNGAN hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Keberadaan lingkungan yang bersih, sehat, dan seimbang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan industri dan pertumbuhan penduduk yang pesat telah membawa konsekuensi terhadap menurunnya kualitas lingkungan di berbagai daerah. Salah satu wilayah yang menghadapi kondisi tersebut adalah Majalaya.

Majalaya dikenal sebagai salah satu pusat industri tekstil di Kabupaten Bandung. Aktivitas industri ini memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, seperti membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup. Akan tetapi, di balik manfaat tersebut, terdapat berbagai permasalahan lingkungan yang muncul sebagai dampak dari aktivitas industri dan perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Salah satu permasalahan lingkungan yang paling menonjol di Majalaya adalah pencemaran air, khususnya pada aliran Sungai Citarum dan anak sungainya seperti Cikakembang. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat kini mengalami perubahan kondisi yang cukup signifikan bahkan terlihat sangat amat keruh. Berdasarkan hasil pengamatan, air sungai tampak keruh, berwarna kecoklatan, dan dalam kondisi tertentu menimbulkan bau yang tidak sedap.

Selain limbah industri, pencemaran juga diperparah oleh limbah domestik yang berasal dari aktivitas rumah tangga. Sampah seperti plastik, kemasan makanan, dan sisa bahan organik sering kali dibuang sembarangan, bahkan ke aliran sungai. Kebiasaan ini menyebabkan penyumbatan aliran air serta mempercepat proses pencemaran lingkungan.

Permasalahan sampah juga dapat diamati secara langsung di lingkungan permukiman. Berdasarkan hasil observasi di Kampung Cibeunying, masyarakat telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang cukup terorganisir. Setiap hari Sabtu, warga diwajibkan untuk mengeluarkan sampah dari rumah masing-masing dan meletakkannya di depan rumah untuk kemudian diangkut oleh truk sampah.

Sistem ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala, seperti penumpukan sampah dalam jumlah besar sebelum proses pengangkutan dilakukan. Sampah-sampah tersebut umumnya berupa limbah rumah tangga yang belum dipilah, sehingga memperbesar volume dan mempercepat timbulnya bau tidak sedap serta potensi penyebaran penyakit.

Di sisi lain, kondisi lingkungan yang kurang terkelola dengan baik juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir. Wilayah seperti Rancabali sering mengalami banjir, terutama pada musim hujan. Banjir ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga oleh faktor lain seperti pendangkalan sungai akibat sedimentasi, penyumbatan aliran air oleh sampah, serta berkurangnya daya tampung sungai.

Banjir yang terjadi secara berulang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada kerusakan infrastruktur, kerugian ekonomi, serta meningkatnya risiko penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan lingkungan di Majalaya telah mencapai tingkat yang memerlukan perhatian serius.

Jika dianalisis lebih mendalam, permasalahan lingkungan di Majalaya merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan. Aktivitas industri yang belum sepenuhnya menerapkan sistem pengolahan limbah yang baik menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga turut memperburuk kondisi yang ada.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan fasilitas pengelolaan lingkungan, seperti kurangnya tempat pembuangan sampah dan sistem pengelolaan limbah yang memadai. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas industri dan pengelolaan lingkungan juga masih perlu ditingkatkan agar dapat berjalan lebih efektif.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan upaya yang terintegrasi dan melibatkan berbagai pihak. Industri perlu meningkatkan tanggung jawab lingkungan dengan menerapkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara optimal. Dengan demikian, limbah yang dihasilkan tidak langsung mencemari lingkungan.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam melakukan pengawasan serta penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Selain itu, pemerintah dapat menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang lebih memadai serta meningkatkan sistem drainase untuk mengurangi risiko banjir. Di sisi lain, masyarakat juga harus berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dapat menjadi langkah awal yang efektif dalam mengurangi jumlah sampah.

Selanjutnya, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan tidak mencemari sungai harus terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Program pemerintah seperti Citarum Harum juga perlu didukung secara aktif oleh masyarakat dan pelaku industri. Program ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi Sungai Citarum secara menyeluruh, sehingga dapat kembali berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat.

Sebagai generasi muda kita memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Kita dapat menjadi agen perubahan melalui edukasi, kampanye lingkungan, serta tindakan nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar. ***

Fitria Salsabila Oktavia, mahasiswa Program Studi Kimia angkatan 2025, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), UIN Sunan Gunung Djati Bandung.