ZONALITERASI.ID – Institut Teknologi Bandung (ITB) akan meluncurkan program sarjana dan magister yang bisa ditempuh hanya dalam 10 semester. Program baru ini akan dirilis secara resmi pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun akademik 2026/2027 yang dimulai Agustus mendatang.
Pada program ini mahasiswa jenjang sarjana ITB akan ditawari mengikuti pendidikan lanjutan menuju gelar semester dengan total masa tempuh 10 semester. Mahasiswa akan ditawari mulai semester tiga.
“Mereka diminta mendaftar di semester tiga, apakah bersedia menjalani perkuliahan 10 semester. Karena di semester tiga dan lima, mereka mulai mencicil beberapa mata kuliah S2,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, di Sabuga, Jalan Tamansari No. 73, Kota Bandung, dikutip Minggu, 1 Februari 2026.
Irwan menjelaskan, dalam 10 semester tersebut mahasiswa akan mendapat gelar sarjana sekaligus magister. Karena itu, wisuda mahasiswa yang bersangkutan akan dilakukan dua kali.
Selain itu, mahasiswa juga boleh mengambil jurusan magister lintas disiplin. Ini membuat kurikulum cenderung lebih fleksibel dan berbasis kebutuhan mahasiswa.
“Justru itu bagus dan kami dorong. Misalnya, ada yang mengambil S1 Geodesi, tapi ingin belajar bisnis. Di semester tiga, dia bisa mendaftar program 10 semester di bidang bisnis,” kata Irwan.
Walaupun program ini masih terus dikembangkan, Irwan mengatakan, kombinasi lintas disiplin ilmu sejauh ini belum punya batasan kaku. Dia memberi contoh, mahasiswa S1 Seni Rupa bisa saja mengambil S2 Teknik Elektro.
“Bisa saja yang diambil fokus pada aplikasi AI (artificial intelligence), tidak perlu belajar turunan rumusnya. Kurikulumnya sangat fleksibel. Ini tantangan besar, tapi saya pikir kurikulum masa depan akan seperti itu,” jelasnya.
Tidak Ada Matrikulasi Tambahan
Irwan menuturkan, walaupun lintas disiplin, kemungkinan tidak ada matrikulasi tambahan untuk mahasiswa yang menyeberang jurusan. Sebab, setiap mahasiswa baru S1 ITB sudah menempuh Tahap Persiapan Bersama (TPB) sebagai standardisasi pemahaman dasar.
“Saya termasuk yang tidak setuju adanya matrikulasi. Mahasiswa ITB semuanya sudah melewati TPB dengan baseline yang sama. Sehingga, mereka punya kemampuan berpikir terstruktur dan matematis,” katanya.
“Sekarang pun ada mata kuliah wajib AI, critical thinking, dan sustainability. Itu modal mereka untuk belajar di mana pun,” sambung Irwan.
Menurut Irwan, program ini secara resmi baru akan diperkenalkan pada semester ganjil 2026/2027. Namun, skema 10 semester sudah mulai diterapkan untuk mahasiswa S1 yang sedang menempuh semester 5 dan 7.
“Pada Januari 2026 jumlah mahasiswa magister dari S1 ITB meningkat. Salah satunya karena program baru ini,” ujarnya.
Alasan Diadakannya Program Ini
Irwan mengungkapkan, salah satu alasan diadakannya program ini yaitu sebagai upaya link and match antara dunia akademik dengan industri.
“Kami melacak alumni melalui tracer study, pekerjaan mereka saat ini semakin kompleks. Program ini dibuat karena tantangan pekerjaan di masa depan tidak terprediksi. Jangan-jangan mahasiswa akan bekerja di bidang yang saat ini belum ada. Jadi, untuk apa belajar terlalu tajam di satu bidang saja?” ujar Irwan.
Kata dia, ITB telah berdiskusi dengan sektor industri mengenai skema perkuliahan ini. Beberapa program kerja sama dengan perusahaan juga mulai dimatangkan.
“Sekarang ini ITB sedang mendesain program kerja sama, misalnya dengan Uniqlo dan Paragon. Kerja sama yang dimaksud berupa job training yang memungkinkan mahasiswa bekerja di perusahaan sambil tetap menyelesaikan perkuliahan pada semester 9 dan 10 sebagai mahasiswa magister,” terangnya.
Irwan mengatakan, S2 di ITB ada yang berbasis riset, proyek, dan case study. Program ini dapat menggunakan skema case study tersebut.
Terkait kedalaman ilmu dibandingkan program konvensional, Irwan menyebutkan, pendekatan pembelajaran keduanya berbeda.
“Di ITB ada dua skema, yakni skema ‘dalam’ dan skema ‘lebar’. Dari riset tracer study, kedalaman studi secara spesifik hanya dibutuhkan sekitar 10 persen, biasanya untuk profesi dosen atau peneliti. Itu penting, tapi tidak untuk semua orang. Industri lebih butuh mereka yang mengerti banyak hal,” jelasnya.
“Program ini sifatnya tidak wajib. Mahasiswa jenjang sarjana tetap punya pilihan untuk menyelesaikan jenjang sarjana dalam 8 semester seperti biasa,” pungkas Irwan. (haf)***





