Oleh Dinn Wahyudin
SUATU hari di ruang kelas VI, SDN Kadujajar. Dialog antara Guru Cecep dengan muridnya.
“Anak-anak, siapa yang tadi pagi membuka media sosial sebelum berangkat ke sekolah?”
Hampir semua tangan terangkat.
Pak Guru Cecep tersenyum.
“Kalau begitu, siapa yang membaca berita hari ini?”
Beberapa murid saling berpandangan. Ada yang mengangguk pelan.
“Saya, Pak. Ada berita tentang banjir.”
“Saya juga, Pak. Katanya ada artis yang ditangkap.”
“Saya malah lihat video tentang planet baru.”
Guru Cecep kembali bertanya.
“Dari semua informasi yang kalian lihat pagi ini, siapa yang yakin semuanya benar?”
Ruangan mendadak sunyi.
Seorang murid di bangku belakang mengangkat tangan.
“Kalau jujur, saya tidak tahu, Pak. Kadang satu akun bilang begini, akun lain bilang berbeda.”
Murid lain menimpali.
“Kalau saya biasanya langsung percaya kalau videonya sudah banyak yang menonton.”
Guru Cecep tersenyum lagi.
“Nah, di sinilah persoalannya.”
Pak Guru mengambil sepotong kapur, lalu menggambar jalan berkelok di papan tulis. Di atasnya digambar gumpalan-gumpalan kabut.
“Kalau kalian mengendarai motor di jalan seperti ini, apa yang terjadi?”
“Pelan-pelan, Pak.”
“Takut salah jalan.”
“Bisa menabrak.”
Guru Cecep mengangguk.
“Padahal jalannya ada, kan?”
“Iya.”
“Rambu-rambunya juga ada?”
“Ada.”
“Lalu mengapa kalian tetap bisa tersesat?”
“Karena tertutup kabut.”
Pak Guru meletakkan kapurnya.
“Begitulah keadaan kita sekarang. Informasi ada di mana-mana. Faktanya ada. Pengetahuannya juga ada. Tetapi semuanya sering tertutup oleh kabut.”
Seorang murid bertanya lagi.
“Maksud Bapak, kabut informasi?”
“Betul.”
Pak Guru Cecep kemudian menampilkan layar telepon genggamnya. Dalam waktu kurang dari satu menit muncul puluhan berita tentang topik yang sama. Judulnya berbeda-beda. Ada yang saling bertentangan. Ada yang bombastis. Ada yang ternyata berasal dari situs yang tidak jelas.
“Kalau kalian hanya membaca judulnya, apa yang kalian simpulkan?”
“Jadi bingung, Pak.”
“Mana yang benar?”
“Itulah yang oleh para ahli disebut information fog, atau kabut informasi.”
Guru Cecep berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Robert N. Proctor menjelaskan bahwa ketidaktahuan tidak selalu lahir karena kita kekurangan informasi. Justru sering kali ketidaktahuan muncul karena informasi terlalu banyak, sumbernya tidak jelas, saling bertentangan, bahkan ada yang sengaja dimanipulasi. Kita merasa tahu banyak, padahal belum tentu memahami.”
Beberapa murid mulai mengangguk.
Seorang murid yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan,
“Berarti yang berbahaya bukan cuma tidak tahu, Pak.”
Guru tersenyum.
“Benar.”
“Yang lebih berbahaya adalah merasa sudah tahu.”
Percakapan sederhana itu sebenarnya terjadi hampir setiap hari di banyak ruang kelas. Anak-anak kita tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka mampu menemukan jawaban dalam hitungan detik. Namun, mereka yang menemukan jawaban tidak selalu berarti memahami persoalan.
Inilah tantangan pendidikan abad ke-21.
Sekolah tidak lagi menghadapi generasi yang kekurangan informasi, melainkan generasi yang hidup di tengah limpah ruah informasi. Persoalannya bukan lagi bagaimana mencari informasi, tetapi bagaimana memilihnya, memahaminya, menghubungkannya, dan menggunakannya secara bijaksana.
Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai agnogenesis, yaitu lahirnya ketidaktahuan di tengah melimpahnya pengetahuan. Ironisnya, semakin mudah memperoleh informasi, semakin besar pula kemungkinan seseorang tersesat di dalamnya apabila tidak memiliki kemampuan berpikir kritis.
Beberapa hari kemudian, Pak Guru Cecep mengajar pelajaran IPA.
“Anak-anak, hari ini kita belajar tentang pencemaran sungai.”
Seorang murid langsung membuka mesin pencari.
“Pak, jawabannya sudah ketemu.”
Guru tersenyum.
“Simpan dulu telepon genggammu.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena hari ini kita tidak sedang mencari jawaban.”
“Lalu?”
“Kita akan mencari pemahaman.”
Murid-murid saling memandang.
Guru kemudian mengajak mereka berjalan keluar kelas menuju sungai kecil di belakang sekolah.
“Perhatikan airnya.”
“Apa yang kalian lihat?”
“Airnya keruh.”
“Baunya tidak enak.”
“Banyak sampah plastik.”
Guru kembali bertanya.
“Menurut kalian, mengapa ini bisa terjadi?”
Diskusi pun dimulai. Ada yang menyalahkan warga, ada yang menyebut limbah rumah tangga, ada pula yang mengaitkannya dengan kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Hari itu tidak ada murid yang diminta menghafal definisi pencemaran. Sebaliknya, mereka diminta mengamati, bertanya, berdiskusi, mewawancarai warga, mencari data, lalu menawarkan solusi.
Di akhir pelajaran guru hanya bertanya satu kalimat.
“Hari ini, apa yang paling kalian pelajari?”
Seorang murid menjawab,
“Ternyata mencari jawaban itu mudah, Pak.”
“Lalu?”
“Yang sulit adalah memahami kenyataan.”
Guru Cecep tersenyum.
“Itulah yang disebut belajar.”
Murid di kelas itu tersenyum. Mereka bahagia. ***
Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wakil Rektor I Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN University).











