Belajar Kesehatan Mental Saat Libur Sekolah di Komunitas Gada Membaca

WhatsApp Image 2026 07 04 at 19.45.58 1
Komunitas Gada Membaca bersama Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis menggelar Mental Health Class, di Komunitas Gada Membaca, Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, pada 1,2, dan 4 Juli 2026, (Foto: Komunitas Gada Membaca).

ZONALITERASI.ID – Komunitas Gada Membaca bersama Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis menggelar Mental Health Class, di Komunitas Gada Membaca, Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, pada 1,2, dan 4 Juli 2026.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk bertumbuh, berefleksi, dan menjaga kesehatan mental di tengah masa libur sekolah.

Kegiatan yang diikuti oleh 66 peserta, terdiri atas pelajar SMP, SMA, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ciamis serta Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya ini menghadirkan ruang belajar melalui tiga tema utama, yaitu Mengenal Diri: Aku Siapa & Mau ke Mana?, Berdamai dengan Isi Pikiranku, dan Know Your Limits: Belajar Berkata “Tidak” dan Memiliki Batasan yang Sehat.

Selama tiga pertemuan, peserta memperoleh materi dari Asri Nasrilah Alam, M.Psi., Psikolog dari Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis.

Pada sesi pertama bertema “Mengenal Diri: Aku Siapa & Mau ke Mana?”, peserta diajak memahami bahwa mengenal diri merupakan proses memahami kelebihan, kekurangan, nilai hidup, potensi, serta tujuan yang ingin dicapai. Kesadaran diri (self-awareness) menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental, membangun kepercayaan diri, serta membantu seseorang mengambil keputusan yang selaras dengan nilai hidupnya. Proses mengenal diri tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pengalaman, refleksi, keberanian mencoba hal baru, dan belajar dari setiap proses kehidupan.

Pada sesi kedua bertema “Berdamai dengan Isi Pikiranku”, peserta mempelajari hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Pikiran yang dipenuhi prasangka negatif akan memengaruhi perasaan dan tindakan seseorang. Oleh karena itu, peserta diajak mengenali distorsi kognitif atau pola pikir yang kurang adaptif, kemudian belajar membangun cara berpikir yang lebih sehat melalui refleksi, self-talk, journaling, serta memperbanyak konsumsi hal-hal positif, termasuk membaca. Sesi ini juga dipadukan dengan art therapy sebagai media untuk membantu peserta mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat.

Pada sesi penutup bertema “Know Your Limits: Belajar Berkata ‘Tidak’ dan Memiliki Batasan yang Sehat”, peserta belajar bahwa mengatakan “tidak” bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian dari menjaga diri sekaligus tetap menghormati orang lain.

Asri menjelaskan, seseorang baru dapat dikatakan egois apabila hanya mementingkan kepentingan diri sendiri, mengabaikan hak orang lain, atau menolak dengan cara yang merendahkan dan menyakiti. Sebaliknya, batasan diri yang sehat (healthy boundaries) adalah kemampuan memperhatikan kebutuhan diri tanpa mengabaikan hak orang lain. Peserta juga dikenalkan pada konsep traffic light boundaries sebagai panduan menentukan kapan harus mengatakan “iya”, mempertimbangkan, atau mengatakan “tidak”.

Selain itu, peserta dibekali cara berkomunikasi secara asertif dengan menyampaikan penolakan secara jujur, sopan, dan tetap berempati, serta metode T-I-D-A-K (Tenangkan diri, Identifikasi kemampuan dan kebutuhan, Dengan jelas sampaikan keputusan, Akui orang yang meminta, dan Kasih alternatif apabila memungkinkan) agar tidak merasa bersalah setelah berkata “tidak”.

Asri menegaskan, kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengatasi masalah, tetapi juga keberanian mengenal diri, mengelola pikiran, menerima emosi, serta membangun batasan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemampuan tersebut perlu terus dilatih agar seseorang mampu menjalani kehidupan dengan lebih tenang, terarah, dan bermakna.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Pepi Sulastri, seorang mahasiswa, mengaku kegiatan ini menjadi kesempatan baginya untuk tetap berkembang di tengah libur kuliah.

“Bagi saya sebagai mahasiswa rantau yang sedang pulang kampung, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk tetap berkembang di tengah kekosongan jadwal liburan, sekaligus menambah wawasan dan mengobati hati yang sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Thoriq Fauzan, pelajar SMA. Menurutnya, seluruh materi yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan remaja.

“Alhamdulillah, selama tiga hari ini materinya ‘daging’ banget dan relate, terutama untuk saya dan teman-teman lainnya. Acaranya sangat menyenangkan sekaligus menenangkan,” tuturnya.

Sementara itu, Iyus Nurmilah, guru MI, mengatakan, kegiatan tersebut membantunya melihat persoalan hidup dengan lebih tenang.

“Alhamdulillah saya mengikuti kegiatan Mental Health Class di Gada Membaca. Bagus sekali, dapat membuka pikiran yang tadinya terasa ruwet menjadi lebih tenang,” ujarnya.

Rahayu, guru SMK, juga menilai pelatihan ini memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan lebih memahami diri sendiri. Menurutnya, setiap sesi membuka sudut pandang baru tentang pentingnya mengenal diri, berdamai dengan isi pikiran, serta memahami bahwa berkata “tidak” dan memiliki batasan yang sehat bukanlah bentuk egois, melainkan cara menghargai diri sendiri. Ia berharap kegiatan seperti ini terus dihadirkan agar semakin banyak generasi muda yang tidak hanya sehat raganya, tetapi juga sehat mentalnya sehingga mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijak, tangguh, dan bahagia.

Ghalib Anugrah, relawan Komunitas Gada Membaca, menyampaikan terima kasih kepada Ilyas Rohili, Direktur Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis beserta narasumber Asri Nasrilah Alam, M.Psi., Psikolog, atas ilmu, pengalaman, dan semangat yang telah dibagikan kepada seluruh peserta selama rangkaian Mental Health Class.

Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh peserta yang telah mengikuti setiap sesi dengan antusias, aktif berdiskusi, dan berkomitmen untuk terus belajar mengenal serta merawat diri.

Ke depannya, Komunitas Gada Membaca berharap kolaborasi dengan Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis ini dapat terus berlanjut melalui berbagai program edukasi, pendampingan, dan layanan psikologi yang mudah diakses masyarakat. Besar harapannya, semakin banyak generasi muda yang tidak hanya memiliki budaya literasi yang baik, tetapi juga mampu mengenal dirinya, menjaga kesehatan mental, membangun relasi yang sehat, serta menjadi pribadi yang tangguh, bijaksana, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (Naufalia Qisthi, relawan Komunitas Gada Membaca)***