Menggugat Kitab Kelangkaan, Dialog Imajiner Lintas Generasi

ilustrasi ekonomi 169
Ilustrasi “Menggugat Kitab Kelangkaan, Dialog Imajiner Lintas Generasi”, (Foto: Istimewa).

Oleh Emiral Bahari

DARI lantai empat puluh dua Menara Veritas, Kota Megapolis tampak seperti sirkuit elektronik raksasa yang tidak pernah tidur. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis merah dan putih yang bergerak konstan, memompa denyut nadi perdagangan urban. Di dalam ruang rapat utama yang berdinding kaca tebal, udara terasa dingin oleh embusan penyejuk udara sentral.

Di ujung meja marmer hitam yang panjang, berdiri Profesor Julian Vance. Ia adalah penasihat ekonomi utama dewan kota, seorang pria berusia lima puluh tahun dengan rambut klimis perak dan setelan jas bespoke yang tak bercela. Di belakangnya, sebuah layar holografik menampilkan kurva-kurva matematis yang rumit, bergerak fluktuatif mengikuti detak bursa efek real-time.

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya anggota Dewan,” suara Julian menggema, jernih dan penuh keyakinan tekno-akademis. “Kita harus kembali pada fondasi fundamental yang diletakkan oleh sosiolog sekaligus ekonom besar, Lionel Robbins, hampir seabad yang lalu dalam An Essay on the Nature and Significance of Economic Science.”

Julian mengetuk tablet digitalnya. Layar holografik berganti, memunculkan sebuah kalimat tebal berbahasa Inggris kuno: “Economics is the science which studies human behavior as a relationship between ends and scarce means which have alternative uses.” “Ekonomi,” Julian menerjemahkan dengan nada teatrikal, “adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan yang tidak terbatas, dan sarana atau sumber daya yang terbatas, yang memiliki kegunaan alternatif. Ini adalah hukum alam peradaban kita. Keinginan manusia pada dasarnya adalah jurang tanpa dasar—ia tidak terbatas. Sementara bumi ini, dengan segala isinya, adalah ruang yang sempit dan terbatas. Oleh karena itu, satu-satunya cara bagi Megapolis untuk bertahan hidup adalah melakukan efisiensi ketat, kompetisi total, dan optimalisasi pilihan alternatif. Siapa yang cepat, dia yang dapat. Siapa yang produktif, dia yang berhak atas kenyamanan.”

Di deretan kursi dewan, para birokrat dan investor mengangguk serempak. Bagi mereka, doktrin Julian adalah seperti sesuatu yang sakral yang melegitimasi pembangunan megaproyek kilang minyak baru di pesisir, perluasan tambang batu bara di pegunungan utara, dan pemangkasan subsidi pangan bagi masyarakat kelas bawah demi menjaga stabilitas fiskal.

“Jika kita melonggarkan kendali produktivitas ini,” Julian melanjutkan, “kita akan jatuh ke dalam lubang kelangkaan (scarcity). Kita harus memacu masyarakat untuk terus mengonsumsi, terus memproduksi, dan terus bersaing. Itulah motor penggerak eksistensi kita.”

Namun, di sudut ruangan yang agak temaram, duduk seorang pemuda 25 tahunan dengan pakaian katun organik sederhana berwarna hijau segar. Namanya Emiral. Ia hadir di sana bukan sebagai investor, melainkan sebagai perwakilan Dewan Keberlanjutan Ekologi dan Spiritual—sebuah posisi simbolis yang jarang sekali didengar suaranya dalam pengambilan keputusan kota. Emiral mendengarkan presentasi Julian dengan tatapan sedih. Di tangannya, ia memegang sebuah gawai tua yang menampilkan foto udara Gunung Cakrabuana yang gundul, serta sungai hilir kota yang kini berwarna hitam kecokelatan akibat limbah industri.

“Apakah ada interupsi atau tanggapan?” tanya ketua sidang, bersiap mengetuk palu tanda persetujuan anggaran baru. Emiral menegakkan punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya. “Saya ingin mengajukan sebuah gugatan dasar, Tuan Ketua. Bukan terhadap angka anggaran Anda, melainkan terhadap jiwa dari teori ekonomi yang baru saja dipaparkan.”

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Julian Vance menaikkan sebelah alisnya, melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang tersungging di sudut bibirnya.

Gugatan Fitrah

“Silahkan, Saudara Emiral,” ujar Ketua Sidang, agak enggan. “Namun harap diingat waktu kita terbatas.”

Emiral berdiri, melangkah perlahan mendekati layar holografik yang masih menampilkan dogma Lionel Robbins tentang kelangkaan dan keinginan tak terbatas. Ia tidak membawa grafik, tidak pula membawa matriks akuntansi.

“Profesor Julian mengatakan bahwa ekonomi kita harus dibangun di atas asumsi bahwa keinginan manusia tidak terbatas, sedangkan sarana yang disediakan alam sangat terbatas,” Emiral memulai suaranya, tenang namun bertenaga. “Definisi Robbins ini sepintas terdengar sangat ilmiah, logis, dan objektif. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam dengan kacamata spiritual, gagasan ini sesungguhnya mengandung cacat bawaan yang fatal. Ia melahirkan apa yang disebut sebagai scarcity mindset—pola pikir kelangkaan yang akut.”

Julian memotong dengan nada meremehkan, “Cacat? Itu adalah realitas empiris, Mir. Lihatlah keluar jendela! Minyak bumi menipis, lahan menyusut, sementara populasi bertambah. Bagaimana Anda bisa menyebut hukum kelangkaan sebagai sesuatu yang cacat?”

“Kelangkaan itu terjadi bukan karena alam ini miskin, Profesor, melainkan karena sistem Anda melegitimasi kerakusan,” balas Emiral tegas, menatap langsung ke mata Julian.

“Ketika Anda mendoktrinkan bahwa ‘keinginan manusia tidak terbatas’ sebagai sebuah keniscayaan yang harus dilayani, Anda sedang melakukan pembenaran ilmiah terhadap penyakit mental bernama keserakahan.

Teori ekonomi konvensional ini memperlakukan hasrat manusia seperti binatang liar yang tidak boleh dikekang. Akibatnya, lahir sistem ekonomi yang kita lihat hari ini: Serakahnomic. Sebuah tatanan di mana setiap individu merasa terancam akan kekurangan, sehingga mereka berlomba-lomba menimbun kekayaan, mengeruk bumi tanpa batas, dan menyingkirkan sesamanya demi memuaskan ambisi yang dianggap ‘tidak terbatas’ itu”. Serakahnomic adalah wajah vulgar atau manifestasi ekstrem dari ideologi Liberal dan Neoliberal (Neoliberalisme).

Emiral menyentuh layar holografik, mematikan teks Robbins dan menggantinya dengan visual sungai kota yang mati dan hutan-hutan yang terbakar.

“Dalam pandangan spiritual dan konsep Ecofitrah, pemikiran seperti ini adalah bentuk kezaliman eksistensial. Sang Pencipta tidak pernah menciptakan bumi ini dalam keadaan cacat atau kurang. Alam semesta ini didesain dalam keseimbangan yang sempurna (mizan) dan penuh dengan kelimpahan yang terukur. Apa yang kita butuhkan untuk hidup—pangan, air, udara, ruang—semuanya disediakan dalam jumlah yang cukup dan berlapang-lapang. Allah menciptakan sarana di bumi ini dengan prinsip kifayah (kecukupan) dan potensialitas barakah (keberkahan) yang bisa terus berkembang jika dikelola dengan adab dan spiritualitas.”

“Cukup?” seorang investor terkekeh. “Jika semuanya cukup, mengapa masih ada kelaparan dan kemiskinan di distrik selatan?”

“Kelaparan terjadi bukan karena bumi kehabisan bahan pangan, tetapi karena bahan pangan tersebut ditimbun di gudang-gudang komoditas untuk mempermainkan harga pasar!” suara Emiral meninggi, bergaung di ruang kedap suara itu. “Kemiskinan terjadi karena egoisme sistemik yang lahir dari ajaran ekonomi Anda. Ketika Robbins mengatakan ekonomi mengurus ‘pilihan alternatif’ berdasarkan kelangkaan, dia memisahkan ekonomi dari moralitas dan spiritualitas. Ekonomi dijadikan ilmu yang bebas nilai, steril dari dosa dan pahala. Di dalam rumusan Robbins, perilaku seorang dermawan yang membagikan makanan dan seorang spekulan yang memanipulasi pasar demi keuntungan pribadi dinilai setara secara ekonomi, selama keduanya melakukan ‘pilihan alternatif atas sarana yang terbatas’. Ini adalah devaluasi radikal terhadap martabat manusia!”

Julian Vance melangkah maju, wajahnya mulai mengeras. “Kita berada di dewan kota untuk mengelola realitas materi, Emiral, bukan memimpin khotbah di rumah ibadah. Nilai-nilai spiritual tidak bisa dipakai untuk menghitung tingkat pertumbuhan domestik bruto atau inflasi bulanan!”

Benturan di Altar Materi

“Justru di situlah letak kehancuran kita, Profesor Julian,” sahut Emiral dengan nada melunak, namun menyiratkan kesedihan yang mendalam. “Karena Anda memisahkan ekonomi dari ruh spiritual, Anda mengubah manusia menjadi sekadar mesin pengonsumsi dan pemburu materi. Anda mengukur kemajuan sebuah peradaban hanya dari angka-angka pertumbuhan statistik di atas kertas, sementara jiwa manusia di dalamnya mengalami kekosongan eksistensial yang mengerikan.”

Emiral berjalan ke arah jendela kaca besar, menunjuk ke arah jalanan kota di bawah.

“Lihatlah orang-orang yang berjalan di bawah sana. Mereka berangkat subuh dan pulang larut malam, terjebak dalam kecemasan yang konstan bahwa mereka akan kekurangan uang, kehilangan pekerjaan, atau tertinggal dalam status sosial. Mengapa? Karena sejak kecil sistem pendidikan dan sistem ekonomi kita mencekoki mereka dengan dogma Anda: bahwa sumber daya itu langka dan mereka harus bertarung tanpa henti. Hasrat mereka dibiarkan liar dan terus dipicu oleh iklan-iklan konsumerisme, bahkan ketika semua kenyamanan fisik sebenarnya sudah tersedia di hadapan mereka.”

Julian mencemooh, “Tanpa hasrat konsumsi yang tinggi, roda industri akan berhenti berputar, Mir! Pabrik-pabrik akan tutup, dan kota ini akan mati. Konsumerisme adalah bahan bakar kemajuan!”

“Kemajuan menuju tepi jurang,” potong Emiral cepat. “Lihatlah dampak lingkungan dari ‘bahan bakar’ Anda itu. Pembalakan liar di hulu, kerusakan ekosistem di Gunung Cakrabuana, banjir bandang yang setiap tahun merendam distrik bawah, dan polusi udara yang meracuni paru-paru anak-anak kita. Dalam kitab suci, sudah diperingatkan dengan sangat jelas bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah akibat langsung dari perbuatan tangan manusia sendiri. Manusia yang mendzalimi dirinya sendiri dengan menuruti hawa nafsu tanpa batas. Teori ekonomi Lionel Robbins tidak berusaha mengendalikan hawa nafsu tersebut; ia justru membingkainya sebagai kaidah ilmiah yang harus dimaklumi dan dilayani.”

Ruang rapat kembali senyap. Beberapa anggota dewan saling berpandangan. Argumen Emiral mulai menyentuh titik-titik kesadaran yang selama ini mereka kubur di bawah tumpukan laporan keuntungan kuartalan.

“Lalu apa alternatifmu, Mir?” tanya Ketua Sidang, kali ini dengan nada yang lebih serius, menurunkan palu sidang yang sejak tadi dipegangnya. “Kita tidak bisa menghapus seluruh sistem pasar modern ini dalam satu malam. Bagaimana struktur ekonomi bisa berjalan tanpa konsep kelangkaan?”

Emiral tersenyum tipis. Ia menghargai pertanyaan itu. “Kita tidak perlu menghancurkan pasar, Tuan Ketua. Kita hanya perlu mengembalikan jiwa ke dalam raganya. Kita harus mengubah paradigma berpikir kita dari Scarcity Mindset (Pola Pikir Kelangkaan) yang rakus, menjadi Abundance & Sufficiency Mindset (Pola Pikir Kelimpahan dan Kecukupan) yang berbasis spiritual.”

Emiral menampilkan tiga poin utama di layar digitalnya:

1. Pengendalian Hasrat (Adab al-Nafs): Ekonomi tidak boleh lagi mendefinisikan keinginan manusia sebagai sesuatu yang ‘tidak terbatas’ dan harus dipenuhi secara liar. Pendidikan ekonomi harus mengajarkan adab konsumsi—membedakan antara kebutuhan nyata (need) dan keinginan semu yang digerakkan oleh ego (greed). Hasrat harus dikendalikan, bukan dimanjakan.

2. Keadilan Distribusi berbasis Berkah: Fokus ekonomi harus dialihkan dari sekadar membesarkan kue pertumbuhan (GDP) ke arah pemerataan distribusi yang berkeadilan. Sumber daya alam dikelola sebagai amanah, bukan hak milik mutlak untuk eksploitasi komersial sepihak. Ketika alam dijaga dan kekayaan dialirkan kepada mereka yang membutuhkan melalui mekanisme filantropi spiritual, nilai kegunaannya akan berlipat ganda melalui jalan barakah.

3. Indikator Kesejahteraan Fitrah: Kesuksesan Kota Megapolis tidak boleh lagi diukur hanya dari akumulasi kapital atau perputaran uang. Kita harus memasukkan indikator spiritual dan ekologis: kebahagiaan batin masyarakat, kebersihan air dan udara, kelestarian hutan, serta keharmonisan hubungan sosial antarpenduduk.

“Jika kita terus mempertahankan doktrin Robbins,” Emiral mengakhiri penjelasannya dengan pandangan menyapu seluruh ruangan, “kita mungkin akan melihat menara-menara kaca ini menjulang semakin tinggi ke langit. Namun di saat yang sama, kita sedang menggali kuburan masal bagi masa depan manusia dan alam semesta. Kita akan menjadi makhluk yang kaya secara materi, namun mati secara spiritual.”

Titik Balik di Neo-Veritas

Julian Vance terdiam di tempatnya berdiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karier akademiknya, argumen logisnya yang biasanya kokoh tak tergoyahkan terasa tumpul di hadapan narasi yang memiliki jangkar moralitas spiritual. Ia ingin membantah dengan menyitir formula ekonometrika terbaru atau teori utilitas marjinal, namun ia sadar, rumus-rumus matematika itu tidak akan bisa menjawab pertanyaan sederhana tentang mengapa bumi di luar sana sedang hancur lebur.

Ketua Sidang perlahan meletakkan palu sidangnya di atas meja marmer. Ia menatap Julian, lalu beralih menatap Emiral dengan pandangan yang telah berubah.

“Rapat anggaran untuk megaproyek perluasan industri di pesisir dan hulu utara … ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan,” pengumuman Ketua Sidang mengejutkan seisi ruangan. “Dewan Kota akan membentuk tim khusus bersama Dewan Ekologi-Spiritual untuk meninjau kembali seluruh dampak lingkungan dan melakukan restrukturisasi kebijakan ekonomi berbasis kecukupan.”

Julian Vance tidak memprotes. Ia hanya mematikan layar holografiknya yang menampilkan grafik-grafik dingin kapitalisme, lalu terduduk lesu di kursinya. Di sudut ruangan, Emiral mengembuskan napas lega seraya mengucapkan syukur di dalam hatinya.

Malam itu, di luar Menara Veritas, angin berembus pelan membawa aroma tanah yang kering dari arah pegunungan. Megapolis masih menyala terang dengan jutaan lampunya, namun di dalam jantung sistem kekuasaannya, sebuah retakan kecil pada dinding tebal keserakahan ekonomi modern baru saja tercipta—membuka jalan bagi secercah cahaya fitrah manusia yang telah lama merindukan kedamaian dan keseimbangan sejati. ***

Emiral Bahari, Risk Analyst di korporasi; Sarjana Ekonomi – Bisnis; anggota Komunitas ECOFITRAH.