QS Yasin Ayat 65: Tafsir Taufik Ismail dan Chrisye

header mozaik chrisye tirto ratio 16x9 1
Chrisye, (Foto: Tirto.id).

Oleh Nunu A. Hamijaya

DI Ramadan ini, pernahkah kita bertanya, kapan puncak karier dalam hidup? Ternyata bukan jabatan tertinggi, prestasi bisnis, popularitas, atau hafalan 30 juz. Bukan.

Marilah kita belajar dari Chrisye alias Chrismansyah Rahadi. Itu terjadi tahun 1997. Peristiwa ini bercerita tentang kisah sebuah lirik yang diminta Chrisye kepada Taufik Ismail, penyair Angkatan ’66.

Hampir-hampir Taufik menyerah. Hingga usai salat, dia membaca Al Quran, Surat Yasin hingga berhenti di ayat 65. Dadanya bergetar membaca terjemahannya. Tak dapat dibendungnya, inspirasi mengalir deras.

Ketika lirik lagu itu diserahkan kepada Chrisye, ia tercenung usai membacanya, dadanya sesak. Begitu dipadukan dengan melodi dan musik, sang penyanyi merasa lagu ini begitu kuat memengaruhi jiwanya. Begitu masuk ke bagian vocal, namun Chrisye tidak mampu melanjutkan.

Akan datang hari … mulut dikunci … kata tak ada lagi

Akan tiba masa … tak ada suara … dari mulut kita

Lalu terhenti. Tiba-tiba Chrisye terisak-isak. Tubuhnya berguncang. Air matanya tak terbendung. Ia tak mampu melanjutkan ke bait berikutnya.

Berkali-kali take vocal diulang. Namun hal sama terjadi. Chrisye kembali terhenti hanya sampai bait kedua. Akhirnya Yanti Noor–istri Chrisye—turun tangan. Ia tenangkan suaminya. Memintanya berwudhu lalu salat sunat—agar tenang. Setelah salat, rekaman kembali dilanjutkan.

Kali ini Chrisye berhasil hingga menyanyikan bait terakhir. Lagi-lagi  Chrisye kembali menangis sesegukan dalam pelukan sang istri. Ia benar-benar terguncang oleh lirik lagu karya Taufik Ismail itu.

Ketika diminta mengulangi untuk mendapatkan hasil rekaman terbaik, Chrisye merasa tak sanggup lagi. Ia menolak mengulang. Ia tahu, lagu itu tak akan pernah lagi mampu ia nyanyikan dengan utuh hingga akhir hayat.

Setelah Chrisye wafat, Yanti Noor bercerita, setiap nada yang keluar dari suara Chrisye saat itu bukan sekadar lagu, tapi doa yang disampaikan lewat nyanyian jiwa. Bagi Chrisye, “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” bukan puncak karier, tapi puncak kesadaran. Lagu itu menandai titik balik perjalanan spiritualnya. Di sana, Chrisye tidak sedang bernyanyi untuk penggemar, tapi untuk dirinya sendiri–dan untuk Sang Pengadil Terakhir yang sesungguhnya tak pernah diam dan maha mengetahui segala sesuatu. ***

Madrasah al I’anah, 22 Februari 2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.