ZONALITERASI.ID – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, Purwanto, mengatakan, di tengah semakin merebaknya teknologi digital, sekolah harus tetap memberikan ruang bagi aktivitas literasi yang melibatkan tulisan tangan.
Dengan begitu, siswa tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tapi juga memiliki kemampuan berpikir yang kuat dan terstruktur.
Pernyataan itu disampaikan Purwanto menyikapi kritikan dari Founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, yang menyebutkan, di era digital, kebiasaan menulis dengan tangan di kalangan generasi muda semakin terpinggirkan. Saat berbagai teknologi hadir, generasi muda pun beralih untuk menggunakan gadget.
“Sekolah perlu bijak memanfaatkan teknologi agar tidak menghilangkan keterampilan fundamental (literasi dasar) yang menjadi fondasi proses belajar,” kata Purwanto, dikutip dari laman Disdik Jabar, Sabtu, 14 Maret 2026.
Purwanto menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi digital dan penguatan keterampilan dasar siswa.
Menurutnya, transformasi digital dalam pendidikan memang tidak bisa dihindari, namun keterampilan dasar seperti membaca, menulis tangan, dan kemampuan berpikir reflektif tetap harus diperkuat.
“Menulis tangan memiliki peran penting dalam melatih konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan mengolah gagasan siswa,” pungkasnya.
Menulis Tangan Mulai Terpinggirkan
Dalam sebuah unggahan video, Rhenald Kasali, menuturkan, di era digital saat ini, kebiasaan menulis tangan mulai terpinggirkan. Hadirnya berbagai teknologi membuat generasi muda beralih untuk menggunakan gadget.
Rhenald mengisahkan, saat dirinya memberikan evaluasi di beberapa pelatihan. Saat itu, dia sengaja memberikan formulir untuk diisi para peserta pelatihan tersebut.
Namun sayangnya, justru sebagian besar peserta pelatihan tersebut memintanya untuk memberikan formulir dalam format digital.
“Saya kemarin beberapa kali memberikan evaluasi dari beberapa pelatihan saya minta saya bagikan formulir. Saya minta tolong isi ini evaluasinya dengan tulis tangan. Namun ternyata sebagian besar minta diberikan digital copy-nya,” ujarnya.
“Saya tanya kenapa? Kami tidak biasa pak menulis tangan. Jadi biasanya pakai gadget. Jadi saya rasa kemampuan menulis tangan saat ini memang sudah digantikan oleh gadget,” sambung Rhenald.
Melihat fenomena itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini, berharap generasi muda bisa kembali membiasakan diri untuk menulis dengan tangan.
Dia mencontohkan, anak-anak sekolah di Inggris kini mulai kembali dibiasakan untuk membuat tulisan dengan menggunakan tulisan tangan.
“Di Inggris misalnya, itu sekarang setiap hari anak-anak dari SD diwajibkan untuk menulis tangan. Ya untuk memberikan refleksi mereka, pandangan mereka,” ujarnya.
Rhenald menambahkan, menulis dengan tangan terbukti memiliki dampak positif terhadap perkembangan otak.
Sebab, berdasarkan ilmu neurologi, seseorang yang terbiasa menulis dengan tangan cenderung lebih cerdas apabila dibandingkan dengan seseorang yang kerap menulis dengan papan ketik digital.
“Saya tanya sama Neuroscientist yang ada di sana, kenapa begitu. Mereka bilang ini sesuai dengan temuan di bidang neurologi bahwa anak yang menulis dengan tangan itu lebih cerdas daripada mereka yang memakai gadget,” ucapnya.
“Meski budaya menulis kian digantikan oleh teknologi, bagi saya tulisan tangan tidak akan tergantikan. Menulis dengan tangan juga dapat menumbuhkan kemampuan literasi yang nantinya membantu seseorang menjadi pemikir kritis, pemecah masalah, dan pengguna bahasa yang cerdas,” tandas Rhenald. (des)***











