Oleh Didin Tulus
DALAM dunia sastra, khususnya di ranah puisi dan komunitas daring, kita sering menyaksikan fenomena yang berulang: lahirnya kelompok-kelompok yang tampak subur pada awalnya, namun kemudian layu karena konflik internal. Seperti bunga yang mekar indah, lalu perlahan kehilangan kelopaknya, komunitas sastra di media sosial sering kali berakhir dengan perpecahan.
Tokoh Sentral dan Bayangan Kekuasaan
Setiap kelompok biasanya dimulai dengan semangat kebersamaan. Ada sosok yang menjadi penggagas—ibarat pohon yang meneduhkan bunga-bunga di sekitarnya. Namun, perlahan, figur ini sering berubah menjadi pusat gravitasi yang terlalu kuat. Anggota lain merasa ide-idenya tidak mendapat ruang, bahkan kadang disepak begitu saja. Akibatnya, komunitas yang semula terbuka berubah menjadi arena perebutan pengaruh.
Akar Permasalahan: Orientasi dan Ego
Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya bukan sekadar perbedaan ide, melainkan orientasi. Banyak kelompok sastra yang pada akhirnya mengarah ke urusan materi: buku antologi, lomba berbayar, atau proyek yang menjanjikan keuntungan. Orientasi semacam ini membuat komunitas kehilangan ruh awalnya—yakni ruang berbagi dan belajar. Ego tokoh sentral semakin menguat, sementara anggota lain merasa hanya menjadi penonton.
Sastrawan Instan dan Hilangnya Konsistensi
Fenomena ini melahirkan sastrawan instan. Mereka menulis hanya ketika ada proyek atau lomba, bukan karena panggilan batin. Begitu tokoh sentral gugur atau mundur, kelompok pun bubar. Tidak ada kesinambungan, tidak ada tradisi menulis yang berlanjut. Padahal, menulis sejatinya adalah laku konsisten, bukan sekadar ikut tren.
Puisi yang Ramai, Esai yang Sepi
Menariknya, yang paling banyak melahirkan kelompok adalah puisi. Puisi dianggap lebih ringan, lebih cepat viral, dan lebih mudah diproduksi. Esai atau tulisan reflektif jarang mendapat tempat. Padahal, esai bisa menjadi ruang kritik yang sehat, tempat gagasan tumbuh tanpa harus terikat pada figur atau tren.
Kritik Santun untuk Taman Sastra
Kita perlu belajar dari pengalaman ini. Komunitas sastra seharusnya menjadi taman yang menumbuhkan bunga-bunga beragam, bukan hanya satu jenis yang mendominasi. Tokoh sentral memang penting sebagai penggerak, tetapi ia tidak boleh menjadi raja. Anggota pun perlu berani menjaga independensi, menulis dengan konsisten tanpa menunggu arahan.
Menulis Tanpa Ikatan Figur
Sastra sejati lahir dari kejujuran dan ketekunan. Menulis tidak harus bergantung pada komunitas, ketua, atau figur tertentu. Justru ketika seseorang menulis dengan konsisten, tanpa pamrih, ia sedang membangun akar yang kuat. Akar itu akan menumbuhkan pohon sastra yang tahan lama, tidak mudah roboh oleh angin konflik.
Pamungkas: Taman yang Seimbang
Bayangkan sebuah taman di mana bunga dan pohon tumbuh berdampingan, saling melengkapi. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, tidak ada yang merasa lebih indah. Itulah gambaran ideal komunitas sastra: ruang yang memberi tempat bagi semua suara, tanpa orientasi sempit pada uang atau kekuasaan.
Sastra, terutama di ranah Sunda, akan lebih hidup jika kita berani melepaskan bayangan tokoh sentral. Biarlah setiap orang menulis dengan konsistensi, dengan kejujuran, dan dengan cinta. Karena pada akhirnya, yang membuat sastra bertahan bukanlah figur atau komunitas, melainkan karya yang terus lahir dari hati yang tulus. ***
Cimahi, 28 April 2026
Didin Tulus, editor, penulis, penggiat literasi di Kota Cimahi.











