Renungan Pahit Urang Sunda

sunda
Ilustrasi "Renungan Pahit Urang Sunda", (Foto: Youtube).

Oleh Marsma TNI Dr. Ir. Hikmat Zakky Almubaroq, S.Pd., M.Si.

SAYA sering memperhatikan satu fenomena menarik di banyak institusi: TNI, Kepolisian, Kejaksaan, BUMN, dunia bisnis, bahkan kampus.

Ketika dua orang Batak bertemu, biasanya langsung bertanya:
“Marganya apa?”

Ketika dua orang Jawa bertemu:
“Asalnya dari mana?”

Ketika dua orang Minang bertemu:
“Dari kampung mana?”

Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah cara membaca jaringan.

Begitu tahu satu daerah atau satu garis kekerabatan, biasanya hubungan langsung berubah:
saling mengenalkan, saling menarik, saling mensponsori, bahkan saling mendorong untuk naik.

Mereka memahami satu hal sederhana namun sangat kuat: solidaritas adalah kekuatan.

Lalu bagaimana dengan urang Sunda?

Kita dikenal ramah. Kita dikenal santun. Kita dikenal humoris dan mudah guyub.

Namun sering kali keguyuban itu berhenti di: pos ronda, warung kopi, dan obrolan ngalantur sambil ngabodor.

Namun begitu masuk ruang jabatan, ruang kekuasaan, ruang strategis, penentuan jabatan dan posisi, yang sering terlihat justru jalan sendiri-sendiri hare hare.

Bahkan kadang terasa menyedihkan. Sesama urang Sunda seperti tidak saling menarik, tidak saling mengangkat, tidak saling menopang, dan tidak saling mempromosikan. Adik-adinya berjuang sendirian.

Ironisnya, tidak jarang justru yang muncul adalah saling menjatuhkan secara halus. Padahal jumlah urang Sunda sangat besar. Talenta urang Sunda juga tidak sedikit. Namun, tanpa kesadaran kolektif untuk saling menguatkan, jumlah besar bisa berubah menjadi kerumunan yang tidak terorganisir.

Inilah yang mungkin membuat urang Sunda sering terlihat ramai di mana-mana, tetapi jarang terlihat saling menopang di puncak.

Ini bukan soal etnis. Ini soal kesadaran kolektif.

Karena sejarah selalu membuktikan satu hal: komunitas yang kuat bukan yang paling banyak orangnya, tetapi yang paling kuat solidaritasnya.

Mungkin sudah waktunya urang Sunda mulai naik kelas. Dari sekadar guyub sosial, tukang ngabodor menjadi solidaritas strategis.

Kalau tidak, kita akan terus ramai di warung kopi, tetapi sunyi di meja pengambilan keputusan. Dan itu, jujur saja, sangat menyedihkan.

Oleh karena itu, izinkan saya menyampaikan satu harapan, mari kita mulai budaya baru.

Jika ada adik-adik urang Sunda yang berprestasi, tarik mereka.

Jika ada yang potensial, dorong mereka.

Jika ada kesempatan promosi atau ruang strategis, sponsori dan promosikan mereka.

Bantu mereka naik, bimbing mereka berkembang.

Karena komunitas yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya sukses sendiri,
tetapi oleh orang-orang yang sukses dan mau mengangkat generasi di bawahnya.

Kalau tidak, kita sebagai “Urang Sunda Asli” hanya akan terus ramai di warung kopi dan di pos ronda, tetapi sunyi di meja pengambilan keputusan. ***

Marsma TNI Dr. Ir. Hikmat Zakky Almubaroq, S.Pd., M.Si., Pemerhati Kasundaan.