Oleh Nunu A. Hamijaya
1 SYAWAL 1447 H., kembali ke fitrah. Sering dimaknai suci bersih tanpa dosa seperti halnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Bagi penulis, mengingatkan kepada frasa dalam salah-satu buku pertama seri tetralogi Islam bernegara, yaitu Titik Nol. Apakah makna Syawal Idulfitri itu serupa senilai dengan titik nol? Buku dengan judul Titik Nol: Kehendak Berpemerintahan Sendiri (Zelfbestuur,1916), terbit tahun 2018.
Makna Nol
Banyak yang berasumsi keliru bahwa nol sama dengan kosong – (empty). Jelas, dalam bahasa Inggris, angka nol disebut zero.
Angka 0 yang dalam bahasa Inggris disebut zero berasal dari bahasa Arab “sifr” yang bermakna “kosong”, sehingga angka 0 seringkali diartikan sebagai ketiadaan, kekosongan dan kehampaan dalam diri dan kehidupan manusia.
Alquran adalah sumber paling terpercaya dan terjaga isi dan redaksionalnya, maka merujuk kepadanya tentang angka-angka memiliki landasan yang kuat.
Dibandingkan dari seluruh angka yang ada (1-9), angka 0 (nol) merupakan angka yang paling terakhir kemunculannya. Bahkan, angka nol ini pernah ditolak keberadaannya oleh kalangan gereja. Kemudian muncullah ilmuwan muslim bernama Al-Khawarismi, yang kemudian sangat berjasa dalam memperkenalkan angka nol di dunia ini. Dia memperkenalkan angka nol ini melalui karyanya yang monumental Al-Jabr Wa Al-Muqbala atau yang lebih dikenal dengan nama Aljabar. Angka nol ini kemudian dibawa ke Eropa oleh Leonardo Fibonacci dalam karyanya Liber Abaci. Dan semakin dikenal luas pada zaman Renaisance dengan tokoh-tokohnya yang antara lain: Leonardo da Vinci dan Rene Descrates.
Angka nol sendiri memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu kekuatan di luar kendali manusia. Hal ini berkenaan dengan suatu pernyataan antara sains dan agama tentang sesuatu yang kekal dan tidak ada. Dalam hal ini Charles Seife mengatakan bahwa misteri angka nol merupakan urusan antara Timur dan Barat:
“Zero was at the heart of the battle between East and West. Zero was at the center of the struggle between religion and science. Zero became the language of nature and the most important tool in mathematics. And the most profound problems in physics (the dark core of a black hole and the brilliant flash of the big bang) are struggles to defeat zero.”
“Angka nol berada di jantung pertempuran antara Timur dan Barat. Angka nol berada di pusat perjuangan antara agama dan sains. Angka nol menjadi bahasa alam dan alat terpenting dalam matematika. Dan masalah-masalah paling mendalam dalam fisika (inti gelap lubang hitam dan kilatan cemerlang dentuman besar) adalah perjuangan untuk mengalahkan angka nol.”
Kini, dalam dunia yang serba numerik yang disuguhkan era digital, manusia bergelut dengan banyak angka nol: di depan atau belakang. Nol yang tadinya hampa bisa berlipat ganda artinya hanya dengan menggeser ke belakang. Ke depan artinya menambahkan angka nol menjadi bilangan yang bertambah besar. Sedangkan ke belakang menjadi semakin kecil bilangannya. Sebuah pelajaran berarti bagi dunia manusia yang beranjak dari ketiadaan menjadi keberadaan. Berpikir ke depan adalah sebuah kemajuan peradaban yang berujung pada alam akhirat. Sementara ke belakang, adalah menjadi sadar akan betapa kecil-nya diri kita di hadapan Al Kholiq.
Istilah “kembali ke titik nol” memberikan makna merupakan awal atau bahkan hakikat hidup manusia yang sebenarnya. Sesungguhnya, hidup manusia tidak dimulai dari titik nol atau dari ketiadaan, sebab kita tidak akan pernah sampai menghitung bilangan hingga sampai ke bilangan nol, sebab selalu ada ruang dan jarak ada yang bilangnya tak terhingga.
Titik Nol Manusia: Syahadah (QS 7:172)
Allah SWT menyebutnya penciptaan manusia dari sesuatu yang tidak diberi nama atau belum diberi nama, tetapi bukan nol. Menurut Alquran, hidup manusia dimulai dari komitmen Syahadah, bukankah aku Robb-mu, Bala Syahidna (QS al A’raf : 172) . Inilah awal eksistensi sebagai manusia menurut fitrahnya, yaitu manusia yang bersyahadah Illaloh-Rosululloh.
Dalam kehidupan ini, angka nol tidaklah berwujud tidak ada yang menyerupainya.Tapi juga bukan kosong-hampa, dari ketiadaan menjadi ada. Alquran memperkenalkan bilangan ahad, yang berarti satu. Namun, tidak dengan angka nol. Alquran memberikan simbol untuk nol dengan titik. Angka nol ini jika dalam angka Arab dilukiskan seperti titik (٠), misal angka 10, jika dalam angka Arab menjadi ١٠. Dan apabila angka nol (Arab) itu ditarik ke konsep umum, maka menjadi sebuah tanda atau simbol.
Pesan Misterius Alquran dengan Nol
Surah al-Fajr ayat 2-3
Artinya: “Demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil.”
Ayat di atas menjelaskan tentang bilangan cacah, yaitu bilangan yang terdiri dari bilangan asli (satu) dan nol. Bilangan sepuluh tidak mungkin disebut jika tidak ada konsep bilangan Nol di dalamnya.
Ada pesan misterius di Alquran yang berkaitan dengan angka nol. Alquran menyatakan bahwa manusia itu adalah sebuah bilangan angka yakni nol. Ini dijelaskan dalam Alquran surah al-Fathir ayat 15, “Yaa ayyuhannasu antum ul-fuqara u ilallah. Wallahu huwalghaniy yul hamid.” Artinya “Wahai manusia kalian semuanya miskin memerlukan Allah dan Allah-lah yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.”
Nol adalah Basmalah
Pemahaman tentang arti angka nol dijelaskan oleh Fahmi Basya, sarjana Matematika UI yang juga seorang ulama yang khusus berfokus pada kajian matematika Alquran. Menurutnya, angka nol adalah basmalah. Mengapa demikian? Karena dalam susunan mushaf Alquran (Usmani), basmalah tidak diberi nomor. Jika demikian basmalah nomor ke berapa? Lalu Fahmi Basya menyimpulkan bahwa basmalah adalah ayat ke nol.
Alquran yang ayatnya berjumlah 6.236 itu terangkum dalam satu surah, yaitu al-Fatihah, yang sudah terangkum dalam kalimah basmalah. Dan kalimah basmalah sendiri pada hakikatnya kuncinya ada di huruf Ba’(ب), dan huruf Ba’, kuncinya ada pada tanda titik nya. Titik inilah yang dimaksud dengan nol.
Jadi, titik ini bukanlah kosong atau hampa, atau tiada. Tanda bilangan nol ini menjadi ada, karena di’ada-kan’ oleh Sang Alloh SWT dan dalam kehidupan nyata adalah oleh manusia dengan segala amal perbuatan. Jika, perbuatan itu benar-haq, maka bertambahlah; sebaliknya jika perbuatan itu bathil, artinya rusak tidak sempurna, maka berkuranglah nilainya.
Bilangan (number) secara sederhana dapat dikatakan sebagai hasil dari kegiatan membilang atau menghitung. Jika seseorang membilang jari-jari pada tangan kirinya maka akan didapat bilangan lima. Dengan demikian, bilangan adalah abstrak karena hanya terdapat di otak seseorang. Karena bilangan adalah sesuatu yang bersifat abstrak, maka untuk menyajikannya secara konkret digunakan simbol-simbol yang mewakili suatu bilangan-bilangan tersebut.
Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu.
Berdasarkan derajat hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?
Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang sesungguhnya tidak bisa berangkat dari titik nol, karena bukankah titik nol sesuatu titik yang tidak ada?
Filosofis Nol dalam Kehidupan
Angka 0 memiliki arti filosofis dalam diri dan kehidupan kita. Pertama, ketika kita mengartikan angka 0 sebagai kelipatan, maka 0 berarti titik tolak untuk melipatgandakan kemampuan kita, serta hasil yang ingin kita capai dari proses upaya yang kita pilih dalam menyikapi dan melakukan sesuatu.
Kedua, angka 0 membuat angka 1 lebih bernilai, dan angka 1 bisa membuat angka 0 ada nilainya, yaitu 0 satuan. Hal ini menunjukkan arti bahwa sesuatu memiliki manfaat, dan kebermanfaatan itu bisa dinilai ketika sesuatu tersebut mampu mengisi kekosongan dan menutupi kekurangan. Tanpa memahami kekurangan, kita tidak akan menggali dan mencari, serta memanfaatkan kelebihan kita untuk menutupi kekurangan tersebut.
Nol termasuk dalam bilangan cacah. Pengukuran semua dilakukan dari titik nol. Seperti titik nol kilometer yang ada di daerah Sabang Indonesia. Itulah awal titik pengukuran geografis wilayah Indonesia tercinta. Atau titik nol kilometer yang ada di daerah Pantai Anyer. Titik awal pengukuran jalan bersejarah pada zaman pemerintahan Belanda, jalan Daendles antara Anyer hingga Panarukan, ada juga “nol kilometer”.
Pengukuran pada penggaris juga akan dimulai dari nol, bukan satu. Bahwa mengukur itu selalu dimulai dari titik atau angka nol. Petugas SPBU bila kita mengisi bahan bakar kendaraan, pasti ia akan mengatakan: “Dari nol ya Pak! atau “Dari nol ya Bu!”. Kita juga berumah tangga dengan suami atau istri kita tentu semua dimulai dari nol, yaitu akad-nikah. Nikmat dari Alloh SWT yang harus disyukuri. Bahkan jika Idulfitri kita juga sering mengatakan, mulai dari nol lagi. ***
Madrasah al I’ anah, 1 Syawal 1447 H./Maret 2026
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











