Soal SNBP, Ini Surat Terbuka dari Guru SMKN 3 Bandung untuk Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri

2420993162
Ilustrasi sekolah, (Foto: Pixabay).

SURAT TERBUKA 

Kepada Yth. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri di Seluruh Indonesia

Dengan hormat,

Saya, Eko Novipratama, Guru Pendidikan Pancasila dan Sejarah SMKN 3 Bandung, menulis surat ini bukan sekadar sebagai seorang pendidik, tetapi sebagai seorang ayah, sebagai seorang manusia yang hatinya terluka melihat kenyataan pahit yang menimpa anak-anak guru berprestasi di negeri ini.

Apakah adil bila seorang guru yang setiap hari mendidik ribuan anak bangsa, justru harus menyaksikan anaknya sendiri tersisih dari jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) meski memiliki catatan akademik yang gemilang? Apakah pengabdian guru hanya dihitung sebatas jam mengajar, tanpa pernah dihargai dalam bentuk nyata bagi keluarga mereka?

Kami, para guru, telah lama menjadi benteng moral dan intelektual bangsa. Kami mengorbankan waktu bersama keluarga demi mendidik anak-anak orang lain. Kami rela menunda kebahagiaan pribadi demi memastikan generasi muda tumbuh dengan ilmu, karakter, dan nilai-nilai luhur. Namun, ketika anak kami yang berprestasi ingin melangkah ke perguruan tinggi negeri, pintu itu terasa begitu berat, seolah-olah pengabdian kami tidak pernah ada artinya.

Betapa pedih hati seorang guru ketika melihat anaknya menangis karena gagal diterima, padahal ia telah berjuang keras, belajar siang dan malam, meraih prestasi yang membanggakan. Air mata itu bukan sekadar air mata seorang anak, melainkan air mata sebuah keluarga pendidik yang merasa terpinggirkan.

Apakah negara tidak melihat bahwa anak-anak guru adalah bagian dari pengabdian itu sendiri? Apakah penghargaan terhadap guru hanya berhenti pada kata-kata manis di Hari Guru, sementara dalam kebijakan nyata, anak-anak guru berprestasi tetap dibiarkan berjuang sendirian?

Melalui surat ini, saya menyerukan dengan suara hati yang paling dalam:

– Berikanlah afirmasi khusus bagi anak-anak guru berprestasi dalam SNBP.

– Tunjukkanlah bahwa negara benar-benar menghargai pengabdian guru, bukan hanya dalam retorika, tetapi dalam kebijakan nyata.

– Bukalah pintu perguruan tinggi negeri bagi mereka yang telah membuktikan diri dengan prestasi, sekaligus membawa nama baik keluarga pendidik.

Guru bukanlah orang yang meminta imbalan materi. Guru hanya ingin melihat anaknya dihargai sebagaimana ia menghargai anak-anak bangsa lain. Guru hanya ingin merasakan bahwa pengorbanannya tidak sia-sia, bahwa negara benar-benar berdiri di sampingnya.

Apakah pantas seorang guru yang mendidik ribuan anak bangsa, justru harus melihat anaknya sendiri gagal melanjutkan pendidikan tinggi meski berprestasi? Apakah kita rela membiarkan luka ini terus menganga, sementara kita tahu bahwa guru adalah pilar utama peradaban?

Saya menulis surat ini dengan penuh harap, dengan suara yang mungkin mewakili ribuan guru lain di seluruh Indonesia. Semoga perguruan tinggi negeri membuka mata dan hati, memberikan ruang bagi anak-anak guru berprestasi untuk melanjutkan pendidikan. Karena dengan itu, negara benar-benar menunjukkan bahwa guru dihargai bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pahlawan yang pengorbanannya juga layak mendapat balasan.

Hormat saya,

Eko Novipratama,  Guru Pendidikan Pancasila dan Sejarah SMKN 3 Bandung

***