Oleh Fauziyyah Nur Shalihah
BANJIR merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang kompleks di wilayah perkotaan karena tidak hanya berdampak pada kondisi fisik lingkungan, tetapi juga memengaruhi aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Di kawasan perkotaan yang berkembang pesat, seperti Bandung timur, banjir sering kali terjadi akibat ketidakseimbangan antara pembangunan dan daya dukung lingkungan.
Kawasan Gedebage menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, di mana banjir terjadi secara berulang terutama pada musim hujan. Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir di wilayah tersebut bukan lagi fenomena sesaat, melainkan telah berkembang menjadi masalah struktural yang memerlukan penanganan serius.
Secara ilmiah, banjir di Bandung timur dipengaruhi oleh faktor hidrologi dan perubahan lingkungan. Tingginya curah hujan di wilayah hulu menyebabkan peningkatan debit aliran sungai yang mengalir ke wilayah hilir seperti Gedebage.
Lalu, perubahan tata guna lahan dari area resapan seperti sawah dan ruang terbuka hijau menjadi kawasan permukiman dan industri menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Akibatnya, terjadi peningkatan limpasan permukaan (runoff) yang secara langsung berkontribusi terhadap terjadinya genangan.
Fenomena ini menunjukkan adanya hubungan erat antara aktivitas manusia dan peningkatan risiko banjir di wilayah perkotaan.
Permasalahan semakin diperparah oleh kondisi infrastruktur yang belum memadai. Sistem drainase yang tidak optimal, baik karena kapasitas yang terbatas maupun kurangnya pemeliharaan, menyebabkan air hujan tidak dapat dialirkan secara efektif.
Selain itu, penumpukan sampah di saluran air juga menjadi faktor yang menghambat aliran, sehingga mempercepat terjadinya genangan. Kondisi sungai yang mengalami pendangkalan turut mengurangi kapasitas tampung air, sehingga meningkatkan potensi luapan saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan banjir tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh kelemahan dalam pengelolaan infrastruktur dan lingkungan.
Dampak banjir di Bandung timur bersifat luas dan saling berkaitan. Dari sisi lingkungan, genangan air yang berlangsung lama dapat menurunkan kualitas tanah dan air serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Dari sisi sosial, banjir menghambat aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan dan mobilitas sehari-hari, serta meningkatkan risiko penyakit seperti infeksi saluran pernapasan dan penyakit kulit.
Secara ekonomi, masyarakat mengalami kerugian akibat kerusakan rumah, fasilitas umum, dan terganggunya aktivitas usaha.
Banjir juga berdampak signifikan terhadap sektor transportasi, di mana genangan air menyebabkan kemacetan panjang karena kendaraan tidak dapat melintas dengan lancar.
Kemacetan yang terjadi di Bandung timur tidak hanya disebabkan oleh banjir, tetapi juga oleh tingginya volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan. Ketika banjir terjadi, kapasitas jalan semakin menurun karena sebagian ruas tertutup air, sehingga memperparah kemacetan. Kondisi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara sistem transportasi dan permasalahan lingkungan. Kemacetan yang berkepanjangan tidak hanya menurunkan efisiensi mobilitas, tetapi juga berdampak pada peningkatan konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang memperburuk kualitas udara.
Solusi Komprehensif dan Berkelanjutan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan solusi yang bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Salah satu langkah utama adalah optimalisasi sistem drainase melalui perbaikan kapasitas saluran dan pemeliharaan rutin agar aliran air dapat berjalan dengan lancar.
Normalisasi sungai juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tampung air dan mengurangi risiko luapan.
Langkah lainnya, pembangunan kolam retensi dan sumur resapan dapat menjadi solusi efektif dalam menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke permukaan.
Selanjutnya, pengelolaan tata ruang harus dilakukan secara lebih ketat dengan membatasi alih fungsi lahan dan meningkatkan keberadaan ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan air.
Penerapan konsep infrastruktur hijau, seperti taman resapan dan biopori, dapat membantu mengurangi limpasan permukaan. Upaya ini perlu didukung dengan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah agar tidak menyumbat saluran drainase.
Selain penanganan aspek lingkungan, solusi terhadap kemacetan juga perlu dilakukan secara terintegrasi. Pengembangan transportasi publik yang efisien dan terjangkau dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Peningkatan kapasitas jalan dan pengaturan lalu lintas yang lebih baik juga diperlukan untuk meningkatkan kelancaran mobilitas. Dengan demikian, permasalahan banjir dan kemacetan dapat ditangani secara bersamaan.
Dengan penerapan berbagai solusi tersebut secara konsisten dan terkoordinasi, permasalahan banjir kronis dan kemacetan di Bandung timur diharapkan dapat diminimalisasi. Penanganan yang berbasis pada pendekatan ilmiah dan berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tangguh dan layak huni di masa depan. ***
Daftar Pustaka
Pradoto, R. G. K., Nugroho, E. O., Syakira, H., et al. (2025). Urban Flood Risk Management Based on Asset Life Cycle Method for Drainage System: Case Study Gedebage Area
Cakrapravastha, A., & Akliyah, L. S. (2023). Analysis of Land Use Change Impact on Flood Disaster in Gedebage District.
Alsadilla, S., & Wardhani, E. (2024). Perencanaan Konsep Zero Runoff dengan Menggunakan Sumur Resapan di Kabupaten Bandung.
Sarbidi. (2013). Aplikasi Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan Zero Runoff pada Kawasan Permukiman.
Rahmawati, N. H. (2024). Penerapan Infrastruktur Hijau sebagai Solusi Limpasan Permukaan di Kota Bandung.
Putra, R. (2023). Peran Pemerintah dalam Mitigasi Banjir di Gedebage.
Fauziyyah Nur Shalihah, mahasiswa Program Studi Kimia angkatan 2025, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), UIN Sunan Gunung Djati Bandung.











