Strategi Branding Digital untuk Gen Z Dikupas di UIN Bandung

da9b0a11 a1d4 4dc3 8be7 696b27e0fbe7
HMJ Akuntansi Syari’ah FEBI UIN Bandung menggelar Seminar Kewirausahaan dan Olimpiade Nasional Akuntansi yang digelar dalam rangkaian kegiatan SPECTRA 2026, di Aula Abjan Soelaeman, Selasa, 14 April 2026, (Foto: Dok. UIN Bandung).

ZONALITERASI.ID Tantangan utama para kreator pemula saat ini bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi ketidakjelasan positioning.

Banyak yang sudah punya skill, tetapi belum mendapatkan klien karena tidak memiliki niche yang jelas, identitas brand yang tidak konsisten, sulit ditemukan, dan belum memiliki portofolio yang terstruktur.

Nah, untuk membedah sengkarut persoalan ini, Performance Marketer, Dzulfikar Malik, mengupasnya saat menjadi pembicara Seminar Kewirausahaan dan Olimpiade Nasional Akuntansi yang digelar dalam rangkaian kegiatan SPECTRA 2026, di Aula Abjan Soelaeman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa, 14 April 2026.

Dalam acara yang diselenggarakan HMJ Akuntansi Syari’ah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bandung ini, Dzulkifar membahas materi bertajuk “Digital Brand Playbook: Strategi Branding Digital, Tools AI, Kolaborasi, dan Digital Marketing bagi Aktivitas Kreatif Digital Gen Z.”

Menurut Dzulfikar, sebelum membangun brand digital, ada tiga fondasi utama yang harus ditentukan, yakni niche, target market, dan value proposition. Semakin spesifik seseorang menentukan segmen pasar, maka semakin mudah pula calon klien mengenali dan mempercayai kompetensinya.

Kata dia, peran AI sebagai alat bantu strategis dalam membangun identitas brand.

“AI dapat membantu menyusun bio profesional, merancang portofolio digital yang lebih terstruktur, hingga menentukan konsep identitas brand yang konsisten, mulai dari tone komunikasi hingga visual,” jelasnya.

Dzulfikar menjelaskan, dalam konteks produksi konten, pemanfaatan AI dapat mencakup seluruh alur kerja, mulai dari riset ide, penulisan caption, desain visual, hingga perencanaan content calendar dan optimasi hashtag.

“Dengan AI, proses yang sebelumnya memakan waktu bisa dipercepat tanpa mengurangi kualitas, bahkan bisa terarah sesuai target audiens,” tuturnya.

Langkah selanjutnya, sebut Dzulfikar, yaitu memahami funnel pemasaran digital, mulai dari awareness, engagement, hingga conversion. Setiap tahap membutuhkan pendekatan konten dan platform yang berbeda agar efektif menjangkau hingga mengonversi audiens menjadi klien.

“Konten bukan hanya soal estetika, tetapi bagaimana membangun kepercayaan. Dari konten edukasi, interaksi dengan audiens, hingga call to action yang jelas, semua harus terintegrasi dalam strategi yang konsisten,” ungkapnya.

Dia menambahkan, langkah praktis untuk mendapatkan klien pertama tanpa iklan, di antaranya memperbaiki profil, membuat konten edukatif, melakukan pendekatan proaktif ke calon klien, menawarkan proyek awal, serta membangun testimoni.

“Klien pertama tidak datang karena Anda terbaik, tetapi karena Anda paling mudah ditemukan dan konsisten menunjukkan keahlian,” bebernya.

Saling Melengkapi

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Program Studi Akuntansi Syari’ah, Mia Lasmi Wardiyah, mengatakan, kewirausahaan dan akuntansi merupakan dua bidang yang saling melengkapi.

“Wirausaha membutuhkan akuntansi untuk mengelola keuangan, mengukur kinerja, serta mengambil keputusan strategis. Akuntansi menuntut generasi muda untuk mengasah kemampuan analitis, etika, dan integritas dalam mengelola informasi keuangan,” ujarnya.

Mia mengajak seluruh peserta untuk menerapkan prinsip sustainability dan etika dalam setiap langkah bisnis. Dengan memberikan semangat kepada para finalis Olimpiade Akuntansi agar menjadikan ajang ini sebagai wadah untuk menunjukkan talenta, belajar, dan membangun jejaring profesional.

Ketua HMJ Akuntansi Syari’ah, Ilham Abdullah, didampingi Ketua Pelaksana Kartika Dwifa Siregar, menjelaskan, Olimpiade Akuntansi merupakan salah satu agenda utama dalam rangkaian Sharia Premier Accounting Championship Tournament (SPECTRA) yang telah diselenggarakan secara rutin sejak 2023.

Kata Ilham, tema besar yang diusung dalam SPECTRA 2026 adalah “Spectrum of Knowledge: Igniting Magic in Science and Analysis”, sedangkan untuk Seminar Kewirausahaan mengusung tema “Digital Brand Playbook: Strategi Branding Digital, Tools AI, Kolaborasi, dan Digital Marketing bagi Aktivitas Kreatif Digital Gen Z.”

Kompetisi ini diperuntukkan bagi siswa kelas X, XI, dan XII tingkat SLTA sederajat secara nasional. Tujuannya untuk mengukur dan berusaha meningkatkan kemampuan peserta di bidang akuntansi.

SPECTRA 2026 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, di antaranya Olimpiade Akuntansi, Competition of Sharia Accounting (COSTING), Gelar Talenta Berilmu, Magical Attire Parade, serta seminar akuntansi dan kewirausahaan.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk menggali potensi diri, memperluas wawasan ekonomi, serta menjadi garda terdepan dalam pengembangan profesi akuntan di masa depan,” jelas Ilham.

“Dengan adanya seminar ini, peserta diharapkan mampu memahami strategi branding digital secara komprehensif, memanfaatkan teknologi seperti artificial intelligence, serta membangun kolaborasi kreatif yang relevan dengan karakteristik generasi Z dalam menghadapi tantangan dunia usaha berbasis digital,” tambahnya. (des)***