Oleh Ganjar Kurnia
DULU, mencintai Persib terasa sederhana. Pemainnya banyak orang lokal, bahasanya dimengerti, mukanya akrab, sehingga kalau tidak bertemu di stadion, mungkin bisa bertemu di warung mi kocok, di terminal, atau di lapangan becek belakang kecamatan.
Sekarang lain cerita. Persib sudah menjadi klub profesional. Pemainnya datang dari berbagai negeri. Nama-nama di daftar susunan pemain, jangankan bapak-bapak di pos ronda, komentator televisi saja sering belepotan menyebutkannya. Walau begitu, cinta Bobotoh tidak surut. Stadion tetap biru, media sosial tetap ramai. Kalau Persib menang, dunia terasa lebih sopan, tapi kalau kalah, rasa penderitaan merebak se-tatar Sunda. Apalagi sekarang, Persib sedang berada dalam suasana “hattrick”.
Cinta Bobotoh bukan hanya menyala, tetapi membakar seluruh gardu emosi rakyat Jawa Barat. Orang yang biasanya pendiam mendadak jadi analis taktik, yang biasanya cuek mendadak hafal klasemen, yang biasanya sulit tersenyum, tiba-tiba merasa hidupnya masih punya harapan. Di sinilah menariknya, Bobotoh ternyata tidak mencintai Persib semata-mata karena paspor pemainnya. Kalau cinta hanya berdasarkan alamat kelahiran, sepak bola modern pasti sudah bubar jalan sejak lama. Bobotoh itu, mencintai lambang, sejarah, warna biru, dan rasa memiliki yang sudah lama mengendap dalam ingatan Bersama.
Dalam bahasa sosiologi, Persib adalah identitas kolektif. Dalam bahasa warung kopi, Persib itu “urusan batin”. Pemain boleh datang dan pergi, pelatih boleh berganti. Sponsor boleh menempel di dada. Tetapi nama Persib tetap menjadi alamat emosional bagi banyak orang Jawa Barat. Maka para pemain asing tidak otomatis dianggap asing. Ia bisa menjadi bagian dari keluarga besar Persib, asal mau bekerja keras, menghormati klub, dan tidak bermain seperti orang yang sedang menunggu travel ke bandara. Bobotoh tidak terlalu peduli paspornya dari mana, yang penting, ketika bola direbut lawan, ia mengejar. Ketika klub membutuhkan keberanian, ia tidak menghilang — seperti pejabat ketika didemo mahasiswa atau buruh. Di sini berlaku apa yang oleh sosiolog disebut sebagai imagined community: komunitas yang tidak selalu saling mengenal secara pribadi, tetapi merasa terikat oleh simbol, cerita, dan pengalaman bersama.
Secara psikologis, dukungan Bobotoh juga bisa dipahami melalui teori social identity. Orang merasa dirinya menjadi bagian dari kelompok tertentu, lalu kebanggaan kelompok itu ikut menjadi kebanggaan dirinya. Ketika Persib menang, yang merasa menang bukan hanya pemain di lapangan, tetapi juga tukang parkir, mahasiswa, dosen, pedagang cilok, pensiunan, dan orang yang menonton sambil pura-pura tidak tegang. Kemenangan klub berubah menjadi kemenangan psikologis bersama.
“Hattrick” Persib kali ini, bukan pula hanya karena jadi juara tiga kali beturut-turut, tapi bisa dibaca sebagai metafora sosial: kemenangan olahraga, kemenangan identitas, dan kemenangan rasa memiliki. Globalisasi memang telah masuk ke lapangan. Tetapi tribun masih lokal. Cara marah masih lokal, cara berharap masih lokal, bahkan cara kecewa pun sangat Bandung: pedas, lucu, tetapi tetap membeli tiket atau menyalakan televisi pada pertandingan berikutnya.
Persib hari ini memperlihatkan bahwa lokalitas tidak selalu kalah oleh modernitas. Apa yang terjadi bukanlah hilangnya identitas daerah, melainkan perubahan bentuknya. Identitas Persib tidak lagi hanya ditentukan oleh asal-usul pemain, tetapi oleh kesediaan semua orang yang memakai seragam biru untuk menjaga kehormatan lambang itu. Dalam sosiologi kebudayaan disebutkan, bahwa simbol lokal dapat bertahan justru karena mampu menyesuaikan diri dengan zaman.
Namun demikian, cinta Bobotoh bukan cek kosong. Jangan dikira karena dicintai, lalu pemain boleh bermain seenaknya. Bobotoh bisa memaafkan kekalahan, tetapi sulit memaafkan permainan tanpa jiwa dan semangat. Kalah karena bertarung masih bisa diterima, tapi kalah karena malas, itu perkara lain. Di mata pendukung Persib, sepak bola bukan hanya olahraga, melainkan ujian moral selama memakai kaus berwarna biru.
Profesionalisme penting, pemain asing penting, manajemen modern penting. Tetapi akar sosial jauh lebih penting. Klub yang tercerabut dari pendukungnya akan berubah menjadi perusahaan hiburan yang kebetulan bermain bola. Ia mungkin kaya, tetapi kehilangan ruh.
Bobotoh tetap mencintai Persib karena Persib bukan hanya kesebelasan. Ia adalah cerita panjang tentang Bandung, Jawa Barat, ingatan keluarga, obrolan jalanan, dan harapan yang diwariskan sejak nenek moyang. Di dalam Persib, orang menemukan cara untuk merasa bersama, walaupun hidup sehari-hari semakin membuat banyak orang merasa sendiri. Maka biarlah pemain datang dari mana saja, dari Brasil, Afrika, Eropa, Asia, atau dari kampung sebelah, selama mereka bertarung untuk lambang yang sama. Selama bersemangat biru, mereka bukan lagi orang asing. Di sepak bola modern, yang paling asing bukanlah pemain dari luar negeri, tetapi pemain yang memakai seragam klub, namun tidak punya hati untuk membelanya.
Di luar “hattrick” Persib, di Jawa Barat pernah ada juga “hattrick” lain. Yaitu, ada kabupaten dan kota, yang bupati/walikotanya tiga kali berturut-turut ditangkap oleh KPK. Tapi “hattrick” semacam ini “mah”, tentu sangat jauh dari membanggakan. “Geuleuh wé nu aya.” ***
Cigadung, 230526
Ganjar Kurnia, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Sunda (PSS).











