ZONALITERASI.ID – Tim peneliti dari Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan perangkat lunak kemudi canggih yang mampu mengubah kendaraan konvensional menjadi wahana tanpa awak (driverless).
Inovasi tersebut menjadi solusi atas tingginya biaya teknologi navigasi otonom impor yang selama ini menghambat pengembangan kendaraan pintar di Indonesia.
Melalui riset bertajuk Inovasi Kendaraan Otonom Adaptif, Andal, dan Ekonomis, tim peneliti yang dipimpin Augie Widyotriatmo, Ph.D. membuktikan teknologi kendaraan otonom dapat dikembangkan dengan biaya lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.
“Proyek ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) buatan lokal yang dipadukan dengan perangkat keras ekonomis, namun tetap memiliki tingkat presisi dan keamanan tinggi untuk penggunaan masyarakat luas,” kata Augie, dikutip dari laman Instagram @driitb.
Salah satu keunggulan utama inovasi kendaraan tanpa awak buatan Tim DRI ITB ini terletak pada algoritma persepsi visual yang adaptif. Berbeda dari teknologi otonom komersial yang umumnya mengandalkan sensor berharga mahal, tim peneliti memanfaatkan kombinasi kamera dan low-cost lidar.
Pendekatan tersebut lebih ekonomis tanpa mengurangi kemampuan sistem dalam membaca kondisi sekitar kendaraan.
Tantangan utama navigasi visual biasanya muncul akibat perubahan intensitas cahaya, misalnya ketika cuaca mendung mendadak atau cahaya matahari terlalu menyilaukan. Kondisi seperti itu kerap mengganggu kemampuan sensor dalam mendeteksi lingkungan.
Menurut Augie, perangkat navigasi menjadi komponen paling vital karena menentukan posisi kendaraan secara presisi.
“Itu yang mengetahui posisi dari autonomous vehicle ini. Dari kita mengetahui posisinya, maka kita bisa menggerakkan autonomous vehicle ini sesuai dengan keinginan atau tujuan dan arahannya,” terangnya.
Algoritma cerdas yang dikembangkan mampu memproses perubahan lingkungan tersebut dengan sangat stabil. Sistem kontrol ini memastikan kendaraan tetap bisa mengenali jalur secara konsisten, sehingga keamanan penumpang tetap terjaga di berbagai kondisi cuaca.
Dalam proyek kolaboratif ini, tim peneliti DRI ITB bertugas mengembangkan “otak” digital kendaraan otonom, sementara mitra industri menyediakan sasis serta sistem elektronik penggeraknya. (des)***











