Karut Marut Seleksi Sekolah Maung hingga Jadwal PCMB yang Bikin Bingung Orang Tua Murid

Screenshot 182 1
Ratusan orang tua calon murid baru mendatangi Kantor Disdik Jabar untuk meminta kejelasan terkait hasil pengumuman SPMB Sekolah Maung dan proses pendaftaran pada Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB), (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Ratusan orang tua calon murid baru mendatangi Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat. Mereka meminta kejelasan terkait hasil pengumuman SPMB Sekolah Manusia Unggul (Maung) dan proses pendaftaran pada Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB)

Sebagai informasi, pengumuman SPMB Sekolah Maung dilakukan pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 10.00 WIB. Tercatat ada 38.478 pendaftaran yang memperebutkan kuota penerimaan yakni 18.272 murid baru.

Calon murid yang tidak lulus di SPMB Sekolah Maung masih bisa mendaftar di SPMB SMA/SMK negeri maupun sekolah swasta kerja sama. Adapun pendaftaran dapat dilakukan hingga Senin, 8 Juni 2026, pukul 00.00 WIB melalui laman spmb.jabarprov.go.id.

Salah satu orang tua calon murid baru, asal Kopo, Kota Bandung, Hendri Hidayat (42), mengatakan, dia meminta penjelasan mengenai pengurangan skor saat proses seleksi jalur prestasi non-akademik di Sekolah Maung SMAN 3 Bandung.

Padahal, anaknya memiliki skor yang cukup memenuhi kelulusan sekolah yang dituju, yakni 369 poin.

“Dari Sekolah Maung memang gugur dari awal. Tapi kalau dilihat, dari informasi itu poin terendahnya 333, sedangkan anak saya 369. Itu seharusnya masuk kategori kan? Ternyata gugur,” ujar Hendri, di Disdik Jabar, Senin, 8 Juni 2026.

Orang tua calon murid baru lainnya, Nurcholis Hakim (46), asal Kota Cimahi, menuturkan, dirinya datang ke Disdik Jabar untuk memperoleh kejelasan terkait SPMB 2026, baik hasil pengumuman Sekolah Maung maupun proses pendaftaran PCMB 2026.

Nurcholis mengungkapkan, dia sangat kecewa dengan proses pelaksanaan seleksi SPMB jalur tes kemampuan akademik (TKA) Sekolah Maung karena banyak terdapat kejanggalan.

Mulai dari daftar peserta yang hilang setelah proses verifikasi, pengurangan skor, hingga penetapan standar minimum IQ yang mencapai 130 poin.

Belum lagi server yang belum begitu optimal hingga harus beberapa kali mencoba masuk ke dalam sistem aplikasi SPMB untuk pendaftaran.

“Sudah masuk ke kuota peringkat, anak saya kembar. Kemudian pada hari terakhir tanggal tiba-tiba hilang data 65 orang yang diverifikasi, jadi semua data 65 orang yang telah diverifikasi nol. Termasuk anak saya yang sudah masuk kuota itu,” ungkap Nurcholis.

Setelah diminta verifikasi ulang oleh panitia pelaksana SPMB, anaknya dikatakan telah tersingkir begitu saja akibat persoalan persyaratan mulai dari standar nilai IQ dan lain sebagainya.

“Ternyata persyaratannya itu soal ada IQ yang kayak gitu IQ, kreativitas tinggi, komitmen tinggi dan yang jadi masalahnya itu pertama masuk verifikasi bertahan beberapa hari tiba-tiba nol, jadi banyak yang hilang,” katanya.

Kacaunya Perencanaan

Selain karut marut seleksi, jadwal pengumuman kelulusan SPMB Sekolah Maung yang bersamaan dengan batas akhir Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) menambah bingung orang tua.

Ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis), Dwi Subianto, menuturkan, penumpukan jadwal di hari yang sama ini sebagai bukti nyata kacaunya perencanaan lini masa oleh Disdik Jabar.

Idealnya, jalur khusus seperti Sekolah Maung diselesaikan secara bertahap agar tidak menciptakan tumpang tindih data dengan proses pemetaan reguler.

“Hari ini kan pengumuman sekolah Maung, kemudian hari terakhir juga masa pemetaan. Itu yang dikeluhkan oleh orang tua,” ujar Dwi, dikutip dari detikJabar.

Bentroknya kedua agenda besar SPMB di hari yang sama ini diperparah oleh kondisi sistem pendaftaran digital yang belum matang.

Dwi mengungkapkan, sejak proses pemetaan (PCMB) berjalan, terjadi error fatal di mana data siswa yang baru sekadar dipetakan langsung terkunci dan otomatis dianggap sudah mendaftar.

Kondisi tersebut sempat membuat sistem terhenti demi perbaikan sepihak oleh tim IT. Namun, hingga malam menjelang hari H penutupan dan pengumuman, tanda-tanda kesiapan sistem belum juga terlihat jelas oleh para orang tua.

“Katanya kemarin mau diperbaiki, tapi kami tidak yakin bahwa hari ini yang merupakan hari terakhir akan bisa diselesaikan malam hari ini. Bisa servernya, bisa juga memang sistemnya belum mantap alias masih tambal sulam. Masih dalam rangka desain ulang,” katanya.

Melihat situasi penutupan PCMB dan pengumuman jalur Sekolah Maung yang berbarengan di tanggal 8 Juni ini, Fortusis mencium adanya indikasi kejar tayang dari para pembuat kebijakan.

Dwi bahkan mengkritik Disdik Jabar karena membuang sistem lama yang sudah stabil dan memilih memaksakan sistem baru yang membingungkan masyarakat.

“Orang tua melihatnya orientasi para pihak yang terlibat di dalam SPMB ini cenderung ke arah proyek. Yang penting saya sudah dibayar sama pemerintah daerah. Orientasinya semuanya adalah proyek, bukan pendidikannya,” pungkasnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, berharap, panitia pelaksana dapat memberikan penjelasan kepada orang tua yang tidak puas dengan hasil seleksi SPMB. Dia meyakini, banyak orang tua yang merasa kecewa karena anaknya tidak lolos Sekolah Maung.

“Pastilah ada yang kecewa, ada yang merasa sistem sekarang kurang baik dari yang dulu atau bagaimana, karena anaknya tidak masuk, ya, itu harus betul-betul diselesaikan dengan baik,” kata Erwan.

Soal kendala sistem SPMB, Erwan meminta panitia pelaksana memperkuat aplikasi sehingga masyarakat tidak kesulitan saat pendaftaran dan sebagainya.

“Saya berharap aplikasi ini setiap tahun tidak berubah-ubah, bisa lebih diperkuat lagi, diperbaiki lagi, sehingga tidak ada kejadian tidak diinginkan seperti tiba-tiba aplikasi tidak bisa digunakan dikarenakan sedang ada masalah,” katanya. ***