Oleh Didin Tulus
ADA manusia yang hidup di zamannya, dan ada yang hidup untuk melampauinya. Ajip Rosidi termasuk yang terakhir. Ketika banyak orang Sunda mulai malu menggunakan bahasa ibu, ketika naskah-naskah kuno berserak tanpa pembaca, ketika generasi muda lebih akrab dengan sinetron ketimbang dongeng pantun—Ajip justru melihat panggung yang berbeda. Ia tidak meratapi kegelapan; ia menyalakan lentera.
Manusia visioner, kata para pemikir, bukanlah peramal. Ia adalah arsitek yang sekaligus tukang kayu. Ajip tidak hanya bermimpi tentang kebangkitan sastra Sunda—ia membangun fondasinya. Dengan berdirinya penerbit Kiblat Buku Utama di Bandung, ia membuka ruang bagi penulis muda untuk menerbitkan karya dalam bahasa Sunda. Bukan sekadar bisnis, ini adalah perlawanan halus terhadap arus homogenisasi budaya nasional yang cenderung meninggalkan akar lokal.
Karakter visioner pertama Ajip tampak dari cara pandangnya yang melampaui angka tahun. Ia tidak mengejar popularitas instan. Ketika kebanyakan orang berlomba menulis dalam bahasa Indonesia yang lebih menjanjikan pasar, Ajip justru merawat apa kata Goethe—”Apa yang tidak kau warisi dari leluhur, harus kau usahakan sendiri.” Ia menggali naskah kuno, mengedit ulang, menerbitkan ulang, seolah berbicara kepada masa depan: Ingatlah, kalian pernah memiliki peradaban yang agung.
Ia juga inovatif. Ajip tidak sekadar menerbitkan buku; ia menciptakan ekosistem. Dari diskusi sastra di pinggir jalan hingga mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage yang memberikan hadiah tahunan bagi penulis berbahasa Sunda. Ia tahu bahwa seorang visioner butuh teman. Dan itu membawanya pada karakter ketiga: adaptif. Di era digital, saat aksara Sunda nyaris tergusur papan tik, Ajip justru mendorong digitalisasi naskah dan kamus daring. Perubahan bukan musuh, melainkan kanvas baru.
Namun, visi tanpa komunikasi hanyalah monolog dalam gua. Ajip adalah komunikator ulung. Dengan goresan pena yang mengalir seperti Ci Tarum di musim hujan, ia mampu meyakinkan para akademisi, seniman, bahkan politisi bahwa melestarikan bahasa Sunda bukan berarti menolak keindonesiaan. Ia berbicara dengan data, dengan puisi, dengan senyum khas yang membuat orang merasa dihargai. Hasilnya? Ribuan anak muda kembali menulis pantun, para ibu membacakan dongeng ke anak dalam bahasa Sunda, dan naskah-naskah yang nyaris punah kini hidup lagi di layar gawai.
Ajip Rosidi telah tiada. Tapi kita yang masih bernapas di tanah Parahyangan ini adalah saksi: manusia visioner tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berbisik dari setiap baris buku yang ia selamatkan, dari setiap aksara yang ia yakini takkan mati. Kini giliran kita—bukan hanya membaca, tetapi juga melanjutkan. *Karena literasi Sunda bukan warisan mati, ia benih yang menunggu tangan visioner berikutnya. ***
Didin Tulus, editor, penulis, penggiat literasi di Kota Cimahi.











![70 Tahun Pamplet Perlawanan Sunda (Front Pemuda Sunda [1956-2026] dan Adeng S. Kusumawijaya) 13 WhatsApp Image 2026 05 31 at 19.39.06 1](https://zonaliterasi.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-19.39.06-1-400x225.jpeg)