Oleh Achmad Tans
DI tengah derasnya arus informasi, kemajuan teknologi, dan perlombaan ekonomi global, manusia modern sering terjebak dalam satu bentuk perjalanan saja: perjalanan ke luar. Kita berlomba menaklukkan gunung, mengarungi samudera, menjelajah antariksa, membangun jaringan perdagangan lintas benua, dan mengembangkan kecerdasan buatan yang semakin canggih. Namun di balik semua pencapaian itu, ada satu pertanyaan yang sering luput diajukan: sudahkah kita menjelajahi diri kita sendiri?
Alquran menghadirkan keseimbangan yang menakjubkan dalam memandang kehidupan. Dalam Surah Al-Mulk ayat 3–5, Allah SWT mengajak manusia memandang langit, memperhatikan keteraturan kosmos, lalu mengulang pengamatan itu berkali-kali. Kemudian pada Surah Al-Mulk ayat 15, Allah SWT berfirman: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kalian dibangkitkan.”
Perintah itu sederhana tetapi sangat mendalam: berjalanlah, jelajahilah, pelajarilah bumi. Menariknya, Alquran tidak pernah memisahkan penjelajahan fisik dari penjelajahan batin. Ketika manusia diperintahkan melihat langit dan menjelajahi bumi, pada saat yang sama Allah SWT juga berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 21: “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?”
Di sinilah tampak sebuah paradigma besar yang relevan sepanjang zaman: manusia harus memiliki pandangan ke luar (outward looking) sekaligus pandangan ke dalam (inward looking).
Menjelajahi Alam Semesta
Peradaban besar lahir dari keberanian menjelajah. Tidak ada bangsa pelaut tanpa keberanian mengarungi lautan. Tidak ada kemajuan pertanian tanpa keberanian memahami tanah dan iklim. Tidak ada perkembangan ilmu pengetahuan tanpa keberanian mempertanyakan, meneliti, dan menguji. Ketika Allah SWT memerintahkan manusia berjalan di penjuru bumi, sesungguhnya Allah sedang mendorong lahirnya peradaban yang dinamis. Islam bukan agama yang mengajarkan kemalasan intelektual. Sebaliknya, Islam mendorong eksplorasi, observasi, penelitian, dan pengembangan ilmu.
Ayat-ayat Alquran berulang kali mengajak manusia memperhatikan gunung, sungai, hujan, tumbuhan, hewan, pergantian siang dan malam, bahkan bintang-bintang di langit. Semua itu menunjukkan bahwa alam semesta bukan sekadar tempat tinggal, melainkan kitab terbuka yang harus dibaca. Karena itulah para ilmuwan Muslim pada masa kejayaan Islam menjadi penjelajah yang luar biasa. Mereka tidak hanya membaca kitab di ruang belajar, tetapi juga mengamati dunia nyata. Mereka meneliti langit, memetakan bumi, mengembangkan kedokteran, matematika, astronomi, pertanian, dan navigasi.
Penjelajahan semacam itu bukanlah bentuk kesombongan manusia terhadap alam. Justru sebaliknya, semakin jauh manusia menjelajah, semakin besar rasa takjubnya kepada Sang Pencipta. Setiap teleskop yang diarahkan ke langit sesungguhnya sedang mengungkap sebagian kecil kebesaran Allah SWT. Setiap penelitian tentang tanah dan air sesungguhnya sedang membuka tabir hikmah penciptaan-Nya. Setiap penemuan ilmiah yang jujur pada akhirnya mengantarkan manusia pada kesadaran bahwa ilmu yang dimiliki hanyalah setetes dibanding lautan ilmu Allah SWT.
Menjelajahi Diri Sendiri
Namun perjalanan ke luar saja tidak cukup. Sejarah membuktikan bahwa manusia dapat mencapai kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi tetap gagal mengendalikan keserakahan, kebencian, dan kesombongan. Perang dunia, kolonialisme, perbudakan modern, eksploitasi lingkungan, dan berbagai bentuk ketidakadilan menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu diiringi kebijaksanaan.
Karena itu Alquran mengarahkan pandangan manusia ke wilayah yang lebih dekat: dirinya sendiri. Diri manusia adalah alam semesta mini yang menyimpan begitu banyak misteri. Di dalamnya terdapat akal yang mampu berpikir, hati yang mampu merasakan, nafsu yang harus dikendalikan, serta fitrah yang selalu merindukan kebenaran.
Menjelajahi diri berarti bertanya secara jujur: Mengapa saya hidup? Apa amanah yang Allah titipkan kepada saya? Apa kelebihan yang harus saya syukuri? Apa kelemahan yang harus saya perbaiki? Apa tujuan akhir dari seluruh aktivitas yang saya lakukan?
Muhasabah seperti ini jauh lebih sulit daripada mendaki gunung atau menyeberangi samudera. Banyak orang mampu memahami karakter orang lain tetapi gagal memahami dirinya sendiri. Banyak orang mampu mengoreksi kesalahan masyarakat tetapi enggan mengoreksi kesalahannya sendiri. Padahal perubahan besar hampir selalu dimulai dari perubahan diri.
Seorang pemimpin yang tidak mengenal dirinya akan mudah terjebak dalam kekuasaan. Seorang ilmuwan yang tidak mengenal dirinya akan mudah terjebak dalam kesombongan intelektual. Seorang pebisnis yang tidak mengenal dirinya akan mudah terjebak dalam kerakusan. Bahkan seorang aktivis yang tidak mengenal dirinya bisa terjebak dalam fanatisme yang membutakan.
Penjelajahan batin membantu manusia menjaga keseimbangan antara kemampuan dan kerendahan hati, antara ambisi dan amanah, antara keberhasilan dan rasa syukur.
Outward Looking dan Inward Looking
Keseimbangan inilah yang tampaknya menjadi salah satu pelajaran besar dari Surah Al-Mulk. Ayat-ayat tentang langit mengajarkan manusia untuk memperluas cakrawala berpikir. Ayat tentang menjelajahi bumi mengajarkan manusia untuk aktif berkarya dan berikhtiar. Sementara ayat-ayat tentang memperhatikan diri sendiri mengajarkan manusia untuk menjaga arah dan tujuan hidupnya.
Outward looking menghasilkan ilmu, teknologi, produktivitas, dan kemajuan ekonomi. Inward looking menghasilkan integritas, kejujuran, hikmah, dan ketenangan jiwa. Jika manusia hanya outward looking, ia mungkin menjadi sangat kuat tetapi kehilangan arah. Ia mampu membangun gedung-gedung pencakar langit tetapi gagal membangun karakter. Ia mampu menguasai sumber daya alam tetapi gagal mengendalikan hawa nafsunya.
Sebaliknya, jika manusia hanya inward looking tanpa memperhatikan dunia luar, ia berisiko menjadi pasif dan tertinggal. Ia mungkin memiliki niat baik, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan zaman. Alquran tidak menghendaki salah satu. Alquran menghendaki keduanya.
Keseimbangan antara langit dan bumi.
Keseimbangan antara ilmu dan iman.
Keseimbangan antara kerja dan zikir.
Keseimbangan antara eksplorasi dan kontemplasi.
Inilah karakter yang dalam banyak ayat digambarkan sebagai karakter Ulul Albab: mereka yang menggunakan akal untuk membaca alam sekaligus menggunakan hati untuk membaca makna.
Bangsa yang Mau Belajar
Pelajaran ini tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi sebuah bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mau menjelajahi dunia ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pertanian, kelautan, energi, dan berbagai peluang masa depan. Bangsa seperti itu tidak puas menjadi penonton. Mereka menjadi pembelajar yang aktif dan inovatif.
Namun kemajuan material semata tidak cukup. Sebuah bangsa juga harus menjelajahi dirinya sendiri. Bangsa harus berani melakukan muhasabah terhadap sejarahnya, kebijakan-kebijakannya, budaya kerjanya, kualitas kepemimpinannya, dan karakter warganya. Apakah kejujuran semakin tumbuh atau justru semakin tergerus? Apakah amanah semakin kuat atau semakin rapuh? Apakah ilmu digunakan untuk kemaslahatan atau sekadar untuk kepentingan sempit?
Apakah kekayaan alam benar-benar menjadi berkah bagi rakyat atau justru menjadi sumber konflik dan kesenjangan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merupakan bentuk inward looking kolektif yang sangat penting bagi keberlanjutan sebuah bangsa. Karena sering kali ancaman terbesar suatu bangsa bukan berasal dari luar, melainkan dari kelemahan yang tidak mau diakui dan diperbaiki.
Bangsa yang Bermuhasabah dan Bangsa yang Menolak Muhasabah
Sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan dan kemunduran suatu bangsa sering kali ditentukan oleh kemampuannya melakukan muhasabah. Bangsa yang berani mengakui kelemahan dan memperbaiki diri biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bangkit. Sebaliknya, bangsa yang menolak kritik dan merasa selalu benar sering kali mengulangi kesalahan yang sama hingga akhirnya menghadapi krisis yang lebih besar.
Dalam Alquran, kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, dan Qarun menjadi contoh bagaimana kekuatan, kekayaan, dan kemajuan dapat berubah menjadi sebab kehancuran ketika tidak disertai kesediaan untuk menerima peringatan dan melakukan koreksi diri. Mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi kehilangan kerendahan hati untuk bermuhasabah.
Dalam sejarah modern, kita dapat melihat bagaimana Jepang melakukan evaluasi besar-besaran setelah kekalahan pada Perang Dunia II. Negeri yang luluh lantak itu membangun kembali dirinya melalui disiplin, pendidikan, inovasi, dan perbaikan tata kelola. Jerman juga melakukan refleksi mendalam terhadap tragedi masa lalunya, kemudian membangun institusi yang kuat, ekonomi produktif, dan budaya hukum yang relatif kokoh. Korea Selatan, yang pada dekade 1950-an termasuk negara miskin akibat perang, secara bertahap memperbaiki kualitas pendidikan, industri, riset, dan tata kelola sehingga mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Sebaliknya, berbagai negara yang terjebak dalam korupsi sistemik, konflik berkepanjangan, kultus individu, atau penolakan terhadap kritik sering mengalami kesulitan keluar dari lingkaran kemiskinan dan ketertinggalan. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan semata kekurangan sumber daya, melainkan kegagalan melakukan evaluasi diri secara jujur dan berkelanjutan.
Pelajaran pentingnya bukanlah meniru seluruh sistem negara lain, karena setiap bangsa memiliki sejarah, budaya, dan tantangan yang berbeda. Yang perlu diteladani adalah keberanian untuk bercermin, mengakui kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan terus belajar. Muhasabah yang jujur sering menjadi awal kebangkitan suatu bangsa, sedangkan kesombongan sering menjadi awal kemundurannya.
Sesungguhnya bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah salah, melainkan bangsa yang mau mengakui kesalahan, mengambil pelajaran, lalu memperbaikinya sebelum sejarah memaksanya belajar dengan cara yang lebih menyakitkan.
Muhasabah Perjalanan Bangsa
Di tengah berbagai tantangan zaman, bangsa ini sesungguhnya memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Allah SWT menganugerahkan negeri yang kaya akan sumber daya alam, keanekaragaman hayati yang luar biasa, tanah yang subur, laut yang luas, serta masyarakat yang religius dan penuh potensi. Namun nikmat yang besar selalu diiringi amanah yang besar.
Karena itu, perjalanan bangsa tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Kita perlu terus menjelajahi ilmu pengetahuan, memperkuat daya saing, mengembangkan pertanian yang berkelanjutan, menjaga sungai dan hutan, membangun industri yang berkeadilan, serta mempersiapkan generasi muda yang unggul.
Pada saat yang sama, kita juga perlu menjelajahi hati nurani bangsa ini. Kita perlu menumbuhkan kejujuran sebagai budaya, amanah sebagai karakter, profesionalisme sebagai kebiasaan, dan kepedulian sebagai identitas bersama.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya, melainkan bangsa yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan moralitas, antara kekuatan dan kerendahan hati, antara kecerdasan dan kebijaksanaan.
Mudah-mudahan kita semua, sebagai individu maupun sebagai bangsa, mampu melaksanakan dua perjalanan yang diajarkan Alquran: menjelajahi alam semesta dan menjelajahi diri sendiri. Menjelajahi bumi dengan ilmu, mengelola karunia Allah dengan amanah, serta menata hati dengan takwa.
Semoga setiap langkah penjelajahan itu mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang semakin dekat kepada ridha Allah SWT; negeri yang para pemimpinnya jujur dan amanah, para cendekiawannya berintegritas, para pelaku usahanya berkeadilan, dan rakyatnya saling menguatkan dalam kebaikan.
Dan semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kepada bangsa ini keselamatan dalam perjalanan, kesejahteraan dalam kehidupan, kemajuan dalam peradaban, keberkahan dalam rezeki, serta limpahan rahmat-Nya yang tidak pernah putus dari generasi ke generasi. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin. ***
Achmad Tans, XFITVAL (Explorer Fitrah Values).











