Oleh Suheryana Bae
KEMATIAN adalah keniscayaan bagi manusia. Tidak ada satu pun yang dapat menghindari atau menolaknya, bahkan dengan kecanggihan obat-obatan modern dan rekayasa genetika sekalipun. Kematian datang begitu saja, tanpa mengenal status, usia, atau prestise. Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup yang penuh ketidakpastian. Namun, anehnya, kepastian ini justru sering kita perlakukan sebagai sesuatu yang jauh, abstrak, dan tidak relevan dengan keseharian. Kita sibuk dengan rencana-rencana panjang, menimbun harta, mengejar jabatan, seolah-olah waktu di dunia ini tak terbatas. Padahal, setiap detik yang berlalu adalah detak menuju perjumpaan dengan kematian.
Tapi bagi orang di luar diri kita, bagi lingkungan sosial yang lebih luas, kematian sering kali hanya angka. Satu orang meninggal. Jumlah penduduk berkurang. Statistik berubah, grafik turun, lalu berita berganti. Tidak ada getaran batin, tidak ada perenungan mendalam. Kematian yang seharusnya menjadi pengingat paling penting bagi setiap jiwa, justru direduksi menjadi sekadar catatan administrasi kependudukan. Sungguh ironi yang menggelitik akal sehat. Bagaimana mungkin peristiwa yang mengakhiri segalanya bagi seseorang—yang merenggut seluruh mimpi, cinta, dan harapannya—bagi kita hanya sekadar angka.
Ironi ini menjadi lebih menusuk ketika kita menyadari bahwa kematian adalah misteri terbesar kehidupan. Tidak ada yang tahu persis bagaimana rasanya, apa yang terjadi setelahnya, atau kapan ia akan menjemput. Kematian adalah batas terakhir pengetahuan manusia. Para filsuf menghabiskan ribuan tahun untuk memikirkannya, para ilmuwan mencoba memahaminya melalui biologi, dan para sufi menjadikannya sebagai pintu menuju kesadaran tertinggi. Namun, bagi sebagian besar manusia modern, kematian bukan lagi misteri yang menggelitik, melainkan masalah teknis yang harus ditunda selama mungkin. Kita membeli asuransi, menabung untuk masa tua, berolahraga agar sehat—semua itu baik, tetapi sering kali kita lupa bahwa semua usaha itu tidak pernah bisa menolak takdir. Kita hanya berpura-pura bahwa kita bisa mengendalikan sesuatu, padahal sesungguhnya di luar kendali.
Inilah sebabnya para sufi mengajarkan kita untuk tidak melupakan kematian. Bukan untuk menjadikannya sumber ketakutan, melainkan sumber kesadaran. Imam Al-Ghazali berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia akan menghilangkan kecintaanmu terhadap dunia dan menguatkan keinginanmu untuk berbuat baik.” Kata-kata ini bukanlah seruan pesimisme, melainkan ajakan untuk hidup lebih jernih. Orang yang sadar akan kematian tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Tidak akan terperangkap dalam perlombaan duniawi yang tiada batas akhirnya. Ia akan lebih mudah memaafkan, lebih ringan dalam memberi, dan lebih tulus dalam beribadah. Karena tahu, semua yang dikumpulkan di dunia tidak akan pernah bisa menemaninya ke liang lahat. Yang tersisa hanyalah amal, hubungan, jejak kebaikan yang ditinggalkan, dan doa orang-orang tercinta.
Mengapa kita begitu sulit mengingat kematian? Sebab terbiasa melihatnya dari luar. Ketika orang lain mati, kita berduka sebentar, lalu kembali pada rutinitas. Tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa kematian itu akan tiba juga. Kita berpikir masih ada waktu, masih ada kesempatan nanti, masih ada hari esok untuk bertobat dan berbuat baik. Padahal, tidak ada jaminan. Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengingatkan, “Janganlah engkau menunda taubat, karena kematian datangnya tidak terduga.” Maka, mengingat kematian adalah bentuk kecerdasan spiritual tertinggi, karena membawa kita pada kesadaran bahwa hidup ini singkat dan setiap detik adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam perspektif orang beragama, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang sebenarnya. Kematian adalah pintu yang harus kita lewati, siap atau tidak. Dan di hadapan pintu itu, semua angka, semua gelar, semua aset, menjadi tidak berarti. Yang berarti hanyalah seberapa baik kita menjalani hidup, seberapa banyak memberi manfaat bagi orang lain, dan seberapa dalam kita mengenal Tuhan. Maka, jangan biarkan kematian sekadar angka, melainkan menjadi pengingat, guru, dan pendorong untuk berbuat baik. ***
Suheryana Bae, Kolumnis.











