Audit Akhirat

Ganjar Kurnia
Ganjar Kurnia, (Foto: Istimewa).

Oleh Ganjar Kurnia

HIDUP di dunia ini bukan seperti di kantor kelurahan. Tidak semua urusan bisa selesai dengan tanda tangan, materai sepuluh ribu, stempel basah, dan senyum petugas yang sudah lelah sejak pagi. Seperti jemuran yang lupa diangkat saat hujan datang, banyak perkara manusia menggantung begitu saja. Ada sakit hati yang belum sempat disembuhkan. Ada utang yang pura-pura lupa. Ada janji yang sudah menjadi fosil. Ada orang yang minta maafnya ditunda-tunda sampai akhirnya yang datang adalah kereta jenazah.

Sungguh menyedihkan, banyak orang meninggal dalam keadaan masih membawa koper batin. Isinya bukan baju, tapi dendam, kecewa, luka, fitnah, dan chat WhatsApp yang belum sempat dibalas: “Nanti kita ngobrol baik-baik, ya.” Eh, belum sempat ngobrol, salah satunya keburu dipanggil Tuhan. Akhirnya urusan itu naik kelas. Dari perkara dunia menjadi perkara akhirat. Dari mediasi dunia menjadi sidang malaikat.

Di dunia, manusia sering merasa bisa kabur. Ada yang menyakiti orang lain, lalu pindah kota. Ada yang menipu teman, lalu ganti nomor HP. Ada yang berkhianat, lalu rajin memasang status religius: “Hidup ini hanya sementara.” Betul, hidup memang sementara. Tapi akibat perbuatannya, kadang-kadang lebih panjang daripada umur pelakunya.

Ada pula jenis manusia yang lebih ajaib: koruptor yang selama hidupnya tidak ketahuan. Bukan karena tidak mencuri, tapi karena sistemnya ikut rabun. Ia mencuri dengan rapi, tersenyum dengan sopan, bersedekah dengan kamera, umroh atau naik haji, lalu ketika mati diberi karangan bunga besar: “Selamat jalan putra terbaik bangsa.”

Lebih absurd lagi, orang semacam itu bisa dimakamkan di taman makam pahlawan.

Bayangkan, malaikat administrasi akhirat mungkin sampai mengernyitkan dahi. Di batu nisannya tertulis “Pejuang Bangsa”, padahal semasa hidup, ia hanya berjuang keras menyelamatkan rekening pribadi dan keluarganya. Di dunia disebut tokoh. Di akhirat mungkin diingatkan: “Saudara, mohon jelaskan sumber dana kekayaan anda.”

Enak benar kalau dunia menjadi satu-satunya tempat pengadilan. Banyak orang pasti lolos. Yang pandai berbohong akan menang. Yang punya kuasa akan bersih. Yang punya pengacara akan suci. Yang punya jabatan akan dikenang sebagai negarawan, meskipun rakyat kecil masih mengunyah pahitnya keputusan-keputusan yang ia buat sambil kelaparan.

Di sinilah gagasan tentang akhirat menjadi sangat masuk akal, bahkan menenangkan. Akhirat bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak mencuri mangga tetangga. Akhirat adalah bukti bahwa keadilan Tuhan tidak mudah dikelabui oleh konferensi pers, baliho, gelar kehormatan, atau pidato pemakaman yang sangat manis. Di sana, semua arsip moral dibuka. Semua luka punya saksi. Semua air mata punya catatan. Semua yang pernah diinjak, dikhianati, difitnah, dan diremehkan tidak hilang begitu saja seperti laporan panitia yang disimpan di folder: “final_revisi_terakhir_banget” yang tidak pernah dibuka.

Tuhan membuat akhirat karena dunia terlalu sering gagal menjadi ruang keadilan. Di dunia, pencuri ayam bisa dipukuli massa, sementara pencuri anggaran bisa potong pita peresmian gedung. Di dunia, orang kecil salah sedikit langsung viral, orang besar salah banyak langsung “sedang dikaji oleh tim internal”. Di dunia, korban sering disuruh sabar, sementara pelaku disuruh maju lagi dalam pemilihan.

Namun jangan salah, adanya akhirat adalah untuk tidak membiarkan ketidakadilan di dunia.

Jangan sampai ada orang berkata, “Sudahlah, biar Tuhan yang membalas,” sambil membiarkan maling terus mengelola brankas. Keadilan dunia tetap harus diperjuangkan. Hukum tetap harus ditegakkan. Koruptor tetap harus ditangkap, bukan diberi panggung, apalagi diberi gelar “Bapak Pembangunan brankas Keluarga”.

Dalam hubungan antarmanusia, ada perkara-perkara yang sebaiknya tidak ditunda sampai akhirat. Kalau masih bisa minta maaf, mintalah. Kalau masih bisa memaafkan, maafkanlah. Kalau masih bisa duduk bersama, duduklah.

Jangan semua perkara diserahkan ke pengadilan akhirat. Nanti antreannya panjang. Bayangkan seseorang di akhirat masih menggugat gara-gara di dunia tidak dibayar utang lima puluh ribu sejak tahun 1998. Malaikat memanggil: “Perkara berikutnya: makan di warung sekolah tidak bayar.”

Lebih baik selesai di dunia. Lebih murah, lebih ringan, dan tidak perlu melewati proses metafisik yang membuat lutut bergetar. Minta maaf itu memang berat, terutama bagi orang yang egonya sudah terlanjur menjadi kepala dinas dalam tubuhnya sendiri. Tapi lebih berat lagi mempertanggungjawabkan kesombongan di hadapan Tuhan. Di dunia kita masih bisa berkata, “Maaf, saya khilaf.” Di akhirat, tidak ada lagi ruang untuk membuat klarifikasi dengan kalimat, “Pernyataan saya dipelintir.”

Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kejahatan. Memaafkan adalah membersihkan hati dari racun yang diminum sendiri sambil berharap orang lain yang keracunan. Tapi memaafkan tidak harus membuat kita kembali membuka pintu kepada orang yang hobinya membawa bensin ke rumah kita. Ada maaf yang tulus, tetapi tetap disertai pagar. Ada damai yang indah, tetapi tetap perlu jarak.

Hidup ini singkat. Jangan terlalu lama memelihara dendam sampai dendam itu minta dibuatkan KTP. Jangan menunda maaf sampai suara azan di kuburan dikumandangkan. Jangan menyakiti orang hanya karena merasa dunia bisa diatur, hukum bisa dibeli, dan sejarah bisa ditulis ulang oleh panitia.

Kelak, ketika semua kosmetik sosial luntur, jabatan selesai, tepuk tangan berhenti, dan gelar-gelar dunia ditinggalkan di pintu kubur, manusia hanya datang membawa dirinya sendiri. Tidak ada ajudan. Tidak ada buzzer. Tidak ada tim sukses. Tidak ada notulen rapat yang bisa dimanipulasi.Yang ada hanya pertanyaan sederhana, tetapi menusuk: “Apa yang kau lakukan dengan hidupmu?” Dan di saat itu, tidak ada lagi kalimat paling populer di dunia: “Maaf …”. ***

270426

Ganjar Kurnia, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.