Bahasa Inggris dan Matematika Jeblok dalam TKA 2025, Tak Sepenuhnya Mencerminkan Kelemahan Siswa

TKA 2 PERSEGI
Kemendikdasmen mengumumkan rekapitulasi hasil TKA 2025 sejak 24 Desember lalu. Data menunjukkan, bahasa Inggris dan Matematika menjadi mata pelajaran (mapel) yang rata-rata nilainya paling rendah, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan rekapitulasi hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 pada 24 Desember lalu. Data menunjukkan, bahasa Inggris dan Matematika menjadi mata pelajaran (mapel) yang rata-rata nilainya paling rendah.

Adapun mata pelajaran wajib TKA terdiri dari bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris.

Dalam data capaian nasional, rata-rata nilai bahasa Inggris wajib hanya 24,93 dari 3.509.688 siswa. Kemudian, rata-rata nilai matematika wajib 36,10 dari 3.489.148 siswa, dan rata-rata bahasa Indonesia 55,38 dari 3.477.893 siswa.

Begitu juga dalam rata-rata nilai TKA berdasarkan jenjang SMA atau SMK. Untuk TKA di jenjang SMA nilai rata-rata TKA bahasa Indonesia (57,39), matematika (37,23), dan bahasa Inggris (26,71). Kemudian untuk jenjang SMK nilai rata-rata TKA bahasa Indonesia (53,62), matematika (34,74), dan bahasa Inggris (22,55).

Menyikapi jebloknya nilai mapel bahasa Inggris dan Matematika dalam TKA, Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Hetifah Sjaifudian, berpendapat nilai tersebut tak sepenuhnya mencerminkan kelemahan siswa.

Hetifah menyebut data TKA tersebut menjadi peringatan bagi guru dan sekolah. Menurutnya, ada persoalan struktural dalam pembelajaran.

“Rendahnya nilai TKA bahasa Inggris dan matematika, menurut saya perlu dilihat sebagai peringatan bahwa ada persoalan struktural dalam pembelajaran, bukan semata kelemahan siswa,” kata Hetifah kepada wartawan, dikutip dari detikNews, Jumat, 26 Desember 2025.

Ia melihat kualitas guru dan pemerataan guru yang perlu dibenahi, Begitu juga dalam hal metode ajar, sifatnya belum kontekstual.

“Dalam konteks ini, TKA diperlukan sebagai alat yang mampu memeriksa kebijakan untuk memperbaiki proses belajar, bukan sekadar instrumen evaluasi hasil belajar saja,” tambahnya.

Pemicu Jebloknya Bahasa Inggris dan Matematika TKA versi Kemendikdasmen

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusaspendik), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Rahmawati mengungkap sederet penyebab jebloknya nilai bahasa Inggris dan Matematik.

“Bahasa Inggris ini dalam bentuk teks yang sifatnya naratif dan deskriptif dengan jumlah paragraf sekitar 4 sampai 5, anak-anak kita ini biasanya akan sukses menjawab ketika itu keluar di paragraf pertama gitu ya,” kata Rahmawati dalam dalam Taklimat Media Laporan Pelaksanaan TKA Jenjang SMA 2025 dan Persiapan TKA Jenjang SD & SMP 2026 di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, dikutip dari detikEdu.

Namun, kendala siswa muncul saat soal sudah bersifat inferensial. Menurut Rahmawati, siswa masih belum mampu membuat kesimpulan.

“Di mana tidak bisa ditemukan hanya di salah satu paragraf, harus membaca tuntas dari paragraf 1 sampai 4 atau 5, di sinilah kami menemukan tingkat kesukaran soal langsung menjadi lebih sukar gitu,” tambahnya.

Rahmawati juga menemukan banyak siswa yang kesulitan dalam memastikan validnya sebuah informasi dalam soal. Menurutnya, hal tersebut disebabkan bahasa pengantarnya bahasa Inggris.

“Termasuk pada wacana yang sifatnya non-teks ya yang sifatnya infografis, ada gambar-gambar, ada tips and trick ini ternyata juga kesulitan ketika sudah pada level inferensial merefleksi dan juga melakukan evaluasi. Itu untuk Bahasa Inggris,” katanya.

Rahmawati juga menyampaikan masalah-masalah yang ditemui dalam soal matematika. Menurutnya, soal matematika sebenarnya memiliki konten sederhana tetapi cara bertanyanya jarang ditemui di sekolah.

“Misalnya kalau tentang data dan peluang, biasanya kita langsung ini ada 5 data berapakah rata-ratanya? Seperti itu. Tetapi kemarin ada salah satu butir soal yang memang divariasikan lintas zona dan sesi itu ada lima data semuanya bilangan cacah dengan jumlah total data itu kalau dijumlahkan 30 jadi itu seperti hitungan anak SD sebenarnya ya 5 data 30 rata-ratanya 6,” beber Rahmawati.

“Tapi pertanyaannya bukan seperti itu, pertanyaannya adalah kalau dua data itu kosong kemudian ada syarat dan ketentuan yang berlaku, misalnya produksinya minimal berapa setiap harinya, setiap hari memproduksinya tidak pernah sama, ternyata anak-anak kita mungkin tidak terbiasa mengkaitkan data yang tertera di tabel dengan syarat dan ketentuan yang berlaku secara pointer naratif,” sambungnya.

Dari sana, Rahmawati melihat siswa memiliki kendala dalam mengkaitkan antara data dengan ketentuan. Di mana ketentuannya tersebut sebenarnya berupa kalimat-kalimat sederhana.

Perlu Perbaikan Kurikulum

Menyusul adanya realitas yang menunjukkan jebloknya mapel bahasa Inggris dan Matematika dalam TKA, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, meminta Kemendikdasmen untuk melakukan evaluasi dan perbaikan kurikulum. Ia juga mendorong penguatan kapasitas guru.

“Komisi X DPR RI tentu akan mendorong Kemendikdasmen agar kebijakan pendidikan diarahkan pada penguatan kapasitas guru, perbaikan kurikulum dan materi ajar, serta intervensi berbasis di daerah dan mata pelajaran yang capaian belajarnya masih rendah, tapi pendekatannya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan penambahan beban asesmen bagi siswa,” tegasnya.

Terkait bahasa Inggris, Hetifah menekankan agar pembelajarannya lebih berfokus pada fungsional. Bahasa Inggris sebagai kemampuan fungsional dan pemahaman konteks. ***