ZONALITERASI.ID – Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menegaskan, penetapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028, merupakan langkah strategis untuk membekali murid dengan kemampuan dasar sejak dini.
Pernyataan itu disampaikan Nunuk dalam Webinar Sapa GTK Episode 2 dengan tema “Siap Mengajar Bahasa Inggris di SD melalui PKGSD-MBI”, Selasa, 31 Maret 2026.
“Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib merupakan upaya kita untuk membekali murid dengan kemampuan dasar berbahasa Inggris. Oleh karena itu, pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan guru agar dapat memberikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan mudah dan menyenangkan. Dalam jangka panjang, guru perlu terus melakukan refleksi agar pembelajaran semakin relevan dengan kebutuhan murid,” ujar Nunuk, dilansir dari siaran pers yang disampaikan Kemendikdasmen, Sabtu, 4 April 2026.
Menurut Nunuk, menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus penguatan kapasitas guru dalam mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar.
Nunuk menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi guru dalam implementasi program Pengembangan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).
“Program PKGSD-MBI dirancang untuk memberikan penguatan kapasitas guru secara bertahap dan berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa guru tidak berjalan sendiri, tetapi didukung melalui pelatihan, pendampingan, dan ruang berbagi praktik baik,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan, sasaran program PKGSD-MBI mencakup 90.447 satuan pendidikan, dengan pelatihan yang dilaksanakan secara bertahap. Pada tahap awal, satu sekolah diwakili oleh satu guru kelas dengan latar belakang non-Bahasa Inggris, khususnya di sekolah yang belum menerapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran, baik pilihan maupun wajib. Guru yang belum mengikuti pelatihan pada tahap ini akan diikutsertakan pada tahap berikutnya.
Nunuk menambahkan, guru yang telah menyelesaikan pelatihan diharapkan dapat melakukan pengimbasan kepada rekan sejawat. Sementara itu, guru yang belum mengikuti pelatihan tetap dapat belajar secara mandiri melalui Learning Management System (LMS) dan kanal RGTK pada aplikasi Rumah Pendidikan.
Sementara Tim Pengembang Program PKGSD-MBI, Herri Mulyono, menjelaskan, pendekatan pembelajaran dalam program ini menekankan aspek kontekstual dan menyenangkan.
“Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar perlu dirancang secara kontekstual dan menyenangkan. Fokusnya bukan pada hafalan semata, tetapi pada bagaimana murid berani menggunakan bahasa dalam situasi sederhana sehari-hari,” ungkap Herri.
“Program PKGSD-MBI memberikan dampak positif terhadap perubahan pola pikir guru. Dari yang awalnya merasa ‘saya bukan guru Bahasa Inggris, kemampuan saya belum baik, dan takut salah di depan murid’, berubah menjadi ‘saya bisa mulai dari ungkapan sederhana, menciptakan aktivitas yang disukai anak, dan tidak harus sempurna untuk mulai mengajar’,” imbuhnya.
Salah satu peserta program, guru SDN Cinunuk 04 Kabupaten Bandung, Tintin Supriatin, menyambut baik pelaksanaan PKGSD-MBI. Dia menuturkan, sebelum mengikuti program, dirinya sempat mencari kursus mandiri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, sebelum akhirnya mendapat penugasan dari kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan ini.
“Bagi kami, para guru peserta PKGSD-MBI, program ini tidak hanya menambah pengetahuan tentang pengajaran Bahasa Inggris, tetapi juga mengubah cara pandang kami terhadap diri sendiri sebagai pengajar, sehingga membuat kami lebih percaya diri,” ujar Tintin.
Tintin juga membagikan praktik sederhana dalam memperkenalkan Bahasa Inggris kepada siswa, seperti mengenalkan kosakata dasar (misalnya warna), mengajak bernyanyi lagu berbahasa Inggris, membiasakan sapaan seperti “Good Morning”, serta menambahkan kosakata baru setiap hari agar pembelajaran terasa lebih alami dan menyenangkan. (des)***











