Dua Mahasiswa UPI Berangkat bersama Relawan Medis ke Langkat Sumatera Utara, Tangani Kesehatan Pascabencana Banjir

4c5b0c25 2ec5 4b1e a628 03fc9c0e94f3 2
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberangkatkan dua mahasiswa sebagai bagian dari Tim Relawan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan menuju Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, untuk membantu penanganan kesehatan pascabencana banjir, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberangkatkan dua mahasiswa sebagai bagian dari Tim Relawan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan menuju Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, untuk membantu penanganan kesehatan pascabencana banjir. Pelepasan tim dilakukan langsung oleh Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. di Gedung Rektorat UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Selasa, 16 Desember 2025.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Ogi Permana, mahasiswa Program Profesi Ners Angkatan 2025 serta Mokh Rakhmad Abadi, mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Olahraga Angkatan 2025. Keduanya bergabung bersama sepuluh dosen dalam tim relawan lintas fakultas.

Ogi Permana menjelaskan, keterlibatannya sebagai relawan merupakan bagian dari tugas pengabdian sekaligus penerapan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan.

“Keikutsertaan saya sebagai relawan merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi ilmu keperawatan yang telah saya pelajari. Saya ingin memberikan kontribusi nyata dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana,” ujar Ogi.

Selama bertugas di Langkat, kedua mahasiswa akan membantu tim dosen dalam pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya pemeriksaan kesehatan dasar dan dukungan kegiatan medis di wilayah terdampak banjir.

Menurut Ogi, kondisi lapangan pascabencana diperkirakan menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses menuju lokasi hingga risiko meningkatnya penyakit akibat lingkungan yang kurang higienis.

“Akses ke lokasi kemungkinan terbatas karena dampak banjir. Selain itu, kondisi lingkungan pascabencana bisa meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti diare dan penyakit kulit,” katanya.

Meski demikian, Ogi mengaku telah mempersiapkan diri secara akademik dan mental. Ia menyebut mata kuliah keperawatan bencana dan kegawatdaruratan menjadi bekal utama dalam menghadapi situasi lapangan.

“Selain bekal ilmu, saya juga mempersiapkan kondisi fisik, mental, serta doa,” tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh Mokh Rakhmad Abadi, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Olahraga. Ia menilai keterlibatannya dalam tim relawan menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa lintas disiplin dalam mendukung pemulihan pascabencana.

Kedua mahasiswa memastikan bahwa keikutsertaan mereka sebagai relawan telah mendapatkan izin dari orang tua. Ogi menuturkan, orang tuanya sempat merasa khawatir, namun akhirnya memberikan dukungan penuh setelah mendapat penjelasan.

“Orang tua awalnya khawatir, tetapi setelah dijelaskan tujuan kegiatan, sistem pendampingan, dan pengawasan dari institusi, mereka mendukung penuh,” ujarnya.

Terkait mekanisme keberangkatan, Ogi menyebutkan, dirinya ditunjuk secara institusional untuk menjadi bagian dari tim relawan.

“Kesempatan ini merupakan amanah. Saya merasa ini menjadi pengalaman berharga untuk menumbuhkan empati, kepedulian sosial, dan profesionalisme sebagai calon perawat,” katanya.

Pelepasan tim relawan ini menandai komitmen UPI dalam menghadirkan peran nyata sivitas akademika—termasuk mahasiswa—dalam aksi kemanusiaan dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya bagi warga terdampak bencana alam.

Dua mahasiswa tersebut tergabung bersama tim relawan yang terdiri dari 12 orang, yakni 10 dosen dan 2 mahasiswa yang terdiri dari tiga fakultas di lingkungan UPI, yaitu Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK). (des)***