Guru Besar UPI Prof. Wawan Gunawan Tegaskan Pentingnya Kekuatan Bahasa dalam Kehidupan

WhatsApp Image 2026 05 07 at 15.26.43 1536x1021 1
Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Guru Besar FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., menegaskan pentingnya kekuatan bahasa dalam kehidupan.

Menurutnya, secara sadar atau tidak, bahasa dikontstruksi. Kekuatan bahasa diuraikan dalam interaksi dengan dunia dan sesama.

“Kekuatan bahasa adalah kapasitas bahasa untuk membentuk makna, memengaruhi pikiran, mengarahkan tindakan, dan mengatur relasi sosial melalui pilihan kata, struktur, dan gaya. Dalam kehidupan, kekuatan ini diuraikan lewat cara kita menamai pengalaman, menegosiasikan sikap dan kuasa, serta membangun wacana yang membingkai realitas sehari-hari,” kata Prof. Wawan, saat Pidato Pengukuhan Guru Besar Linguistik Fungsional FPBS UPI, di Gedung Ahmad Sanusi, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut Prof. Wawan, bahasa menentukan apa yang kita anggap mungkin dan penting. Bahasa membentuk identitas, menata emosi, serta memberi kategori bagi pengalaman. Melalui cerita, slogan, dan aturan, bahasa melegitimasi nilai dan kekuasaan.

“Dalam pendidikan dan media, pilihan bahasa memandu pengetahuan, memicu empati, atau menumbuhkan prasangka. Bahasa menghubungkan komunitas, menggerakkan perubahan, dan menyembuhkan konflik,” terangnya.

Selanjutnya Prof. Wawan mengungkapkan, dalam kajian Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) disebutkan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kaidah, melainkan sumber daya semiotik untuk membangun makna di dalam konteks sosial.

Dengan memandang bahasa sebagai system of choices, LSF membingkai bagaimana percakapan seharusnya dilakukan agar tujuan komunikasi tercapai. Penutur memilih sumber daya ideasional untuk merepresentasikan pengalaman (siapa melakukan apa, dalam keadaan apa), sumber daya interpersonal untuk menegosiasikan hubungan, sikap, dan komitmen melalui pemilihan misalnya mood, modalitas, evaluasi, dan sumber daya tekstual untuk mengemas pesan secara koheren dengan pemilihan misalnya tema–rema dan sistem kohesi.

“Dalam praktik komunikasi, kerangka ini membantu kita merancang percakapan yang efektif, misalnya menentukan seberapa langsung permintaan disampaikan, bagaimana mengelola ketidaksetujuan secara dialogis, dan bagaimana membangun alur topik agar percakapan tetap fokus—karena setiap pilihan bahasa selalu berkonsekuensi pada relasi sosial dan keberhasilan tindakan,” jelasnya.

Kata Prof. Wawan, sebagai kerangka penelitian, LSF menyediakan jalur analisis yang sistematis: peneliti menautkan konteks (genre dan register: field–tenor–mode) dengan pola semantik dan leksikogramatika yang eksplisit dalam teks.

Di bidang pendidikan, riset LSF menyoroti bagaimana literasi akademik dan literasi disipliner dapat diajarkan secara eksplisit melalui pemahaman genre dan pilihan kebahasaan, sehingga peserta didik mampu mengakses pengetahuan dan membangun argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lalu, di ranah analisis wacana, LSF memungkinkan pembacaan yang rinci terhadap cara teks membingkai realitas, membangun legitimasi, dan mengelola solidaritas maupun kuasa, misalnya melalui transitivitas untuk memetakan agensi, melalui modalitas untuk menandai derajat kewajiban/kepastian, dan melalui appraisal untuk menelusuri evaluasi dan posisi dialogis.

Sementara itu, dalam deskripsi bahasa, LSF mendorong pemetaan sistem kebahasaan sebagai jaringan pilihan yang merealisasikan metafungsi, sehingga deskripsi tidak berhenti pada daftar kategori, tetapi menjelaskan bagaimana suatu bahasa menyediakan sumber daya makna bagi penggunanya.

“Pada akhirnya, LSF memberi kontribusi konseptual dan praktis. Secara konseptual, LSF menjembatani bentuk dengan fungsi, teks dengan konteks, dan analisis linguistik dengan kebutuhan sosial,” ucapnya.

Prof. Wawan menuturkan, lebih jauh, sejalan dengan perkembangan kajian kontemporer, LSF juga menegaskan bahwa pemaknaan tidak hanya berlangsung secara verbal, tetapi juga secara visual dan multimodal, misalnya melalui gambar, tata letak, tipografi, warna, dan gestur, yang bersama-sama membangun makna dalam komunikasi modern.

“Karena itu, LSF tidak hanya relevan untuk bahasa sebagai ujaran atau tulisan, tetapi juga menjadi landasan kuat untuk membaca dan merancang makna dalam kerangka multimodality,” katanya.

Prof. Wawan menambahkan, prospek LSF semakin strategis karena komunikasi makin dimediasi platform digital, data besar, dan AI. Integrasi SFL dengan linguistik korpus dan komputasi memungkinkan pemetaan register, genre, dan appraisal pada skala jutaan teks untuk memantau polarisasi, disinformasi, serta gaya komunikasi institusi.

Dalam pendidikan, pedagogi genre berbasis LSF dapat diperluas untuk literasi disipliner, literasi data, dan literasi AI yang lebih adil. Di ranah multimodal, multilingual yang melibatkan praktik translanguaging. LSF akan makin kuat membaca makna gabungan bahasa–visual–gestur dalam video, infografik, dan antarmuka.

“Secara tipologis, perluasan studi lintas bahasa memperkaya deskripsi bahasa-bahasa Indonesia dan praktik translanguaging serta membuka ruang kolaborasi dengan kajian kebijakan, kesehatan, dan komunikasi,” pungkasnya. (des)***