ZONALITERASI.ID – Memeringati Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) 2026, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menggelar berbagai kegiatan kampanye pelestarian bahasa daerah, baik secara daring maupun luring, mulai 13 sampai 21 Februari 2026.
Selain itu, Badan Bahasa juga menginisiasi gerakan mencoba satu hari berbahasa daerah, pada puncak HBII, tanggal 21 Februari 2026.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan, peringatan HBII 2026, merupakan refleksi penting bagi Indonesia sebagai negara dengan jumlah bahasa daerah terbanyak kedua di dunia.
“Pada tahun ini, HBII mengambil tema Peran Generasi muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa. Tema ini selaras dengan upaya pelestarian bahasa dengan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Kami juga berharap agar bahasa daerah dapat berperan penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” kata Hafidz, dalam keterangan resmi dari Badan Bahasa, dikutip Sabtu, 21 Februari 2026.
Kata Hafidz, upaya revitalisasi bahasa daerah menjadi sebuah program yang harus terus dilanjutkan. Dia mengajak dan mengimbau kepada para Kepala Balai dan Kantor untuk terus menginisiasi kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, dan berbagai lembaga terkait.
“Proses pengimbasan bahasa daerah pada anak harus diawali dari pembelajaran di sekolah, masyarakat, dan keluarga. Selain itu, penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada kelas awal pendidikan dasar begitu penting. Itu membantu siswa memahami informasi dan pengetahuan dengan lebih baik,” pungkasnya.
Hari Bahasa Ibu Internasional 2026
Sebagai informasi, pada tahun 2026, Unesco menetapkan tema Youth Voices on Multilingual Education untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional 2026. Tema ini dilatarbelakangi oleh tantangan global mengenai bahasa ibu, yaitu sekitar 40% pelajar di seluruh dunia masih kekurangan akses terhadap pendidikan dalam bahasa ibu mereka. Kelompok yang paling terdampak adalah kaum muda masyarakat adat, komunitas migran, dan kelompok minoritas.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, diperlukan kebijakan dan praktik pendidikan yang menanamkan pendidikan multibahasa yang inklusif, setara, dan efektif bagi semua peserta didik. Tema ini membawa harapan terhadap peran generasi muda dalam merevitalisasi bahasa ibu, termasuk melalui penggunaan teknologi untuk meningkatkan penghargaan terhadap keberagaman linguistik.
Melalui tindakan nyata, seperti mendorong dialog di antara kaum muda, pendidik, dan pembuatan kebijakan, inisiatif global ini diharapkan dapat menciptakan ruang pertukaran gagasan yang dapat menghasilkan solusi guna memperkuat keragaman bahasa di sekolah dan komunitas di seluruh dunia. (des)***











