Inilah Ciri Awal Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual

Ilustrasi Kampanye Anti Kekerasan Seksual 8e66264c
Ilustrasi "Inilah Ciri Awal Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual". (Foto: Istimewa)

ZONALITERASI.ID – Kewaspadaan orang tua terhadap ciri-ciri awal anak yang mengalami kekerasan seksual sangat penting. Pemahaman orang tua terhadap ciri-ciri ini krusial di tengah meningkatnya angka kekerasan terhadap anak yang kian mengkhawatirkan.

Sebagai informasi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memberikan data yang mengerikan. Hal tersebut tertuang dalam Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2021.

Survei itu menyebutkan, 4 dari 10 anak perempuan dan 3 dari 10 anak laki-laki berusia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan dalam bentuk apapun di sepanjang hidupnya.

“Anak-anak sedang dalam masa pencarian identitas. Sehingga kerap kali mereka membutuhkan perhatian lebih dan ingin diakui. Sayangnya seringkali dua hal tersebut tidak bisa didapatkan anak dari lingkungan terdekat, terutama orang tua. Sehingga, mereka kerap mencari sosok lain yang bisa memberikan hal tersebut,” kata Psikolog Klinis Universitas Gadjah Mada (UGM), Indria Laksmi Gamayanti, dilansir dari laman UGM, Minggu, 1 Juni 2025.

“Ketika hal ini tidak terpenuhi dari lingkungan terdekat, mereka menjadi lebih mudah tergoda oleh bujuk rayu dan pujian dari lawan jenis,” sambungnya.

Ciri Awal Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual

Gamayanti mengungkapkan, ketika anak tanpa pengawasan terjun lebih dalam ke dunia digital, mereka menjadi sangat rentan. Kurangnya pemahaman menjadi celah besar bagi pelaku kekerasan seksual untuk memanipulasi korban.

Anak-anak terkadang belum memahami batasan privasi, potensi ancaman, dan sikap yang tepat ketika berhadapan dengan ajakan mencurigakan. Terutama bila hal tersebut menjurus ke arah konten seksual.

“Oleh karena itu, orang tua dan pendidik diharapkan mampu mendeteksi tanda-tanda awal anak menjadi korban kekerasan seksual, meski tidak selalu tampak jelas,” ujar Gamayanti.

Ada beberapa tanda yang bisa jadi peringatan orang tua, seperti:

– Perubahan perilaku yang mencolok

– Penurunan prestasi akademik

– Mimpi buruk hingga mengigau

– Ketakutan berlebihan terhadap sentuhan fisik

– Menarik diri dari lingkungan sosial.

Gamayanti mengingatkan agar orang tua bisa merespons secara bijak bila menemukan ciri tersebut pada anak. Alih-alih menyalahkan, seharusnya orang tua bisa memberikan dukungan emosional dan pendampingan agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis lebih lanjut.

“Respons orang tua menjadi krusial. Kalau langsung menyalahkan, anak akan makin tertutup dan merasa tidak aman. Padahal, ia butuh dukungan emosional untuk pulih sekaligus pendampingan agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis di kemudian hari,” terangnya.

Pentingnya Pendidikan Seksual Sejak Dini

Dampak jangka panjang dari kekerasan seksual pada anak bisa bervariasi. Terutama berkaitan dengan keadaan psikologis, seperti gangguan kecemasan, depresi, hingga takut menjalin hubungan sosial dengan orang lain secara sehat.

Kata Gamayanti, dalam beberapa kasus, trauma yang tidak tertangani bisa memengaruhi perkembangan seksual korban. Bahkan korban bisa memiliki pola perilaku menyimpang ketika dewasa.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya pendidikan seksual sejak dini. Pendidikan bisa diberikan dalam bentuk positif sesuai dengan usia anak.

Contohnya pengenalan bagian tubuh, batasan interaksi fisik, dan pemahaman tentang media digital. Selanjutnya, Gamayanti menyarankan agar orang tua dan anak memiliki bentuk komunikasi yang terbuka. Hal ini bisa menjadi sebuah kunci pencegahan.

“Kita tidak bisa hanya mengedukasi anak, tetapi juga orang tua. Supaya saat anak menghadapi situasi berisiko, mereka tahu harus bersikap bagaimana, dan siapa yang bisa dipercaya,” tandas Gamayanti. (des)***