Oleh Nunu A. Hamijaya
MASYARAKAT umum tentu lebih mengenal ‘Pandanwangi’ dan ‘Gentur’ daripada Jambudipa. Pandanwangi mengingatkan pada beras pulen wangi khas Cianjur; sedangkan Gentur, mengingatkan pada nama pesantren, Mama Gentur, dan lampu gentur. Terlebih ada ‘Monumen Lampu Gentur ‘ di bunderan kota Cianjur ke arah Jakarta. Tentunya ini adalah salah-satu ‘icon’ Cianjur yang ingin dikenalkan kepada masyarakat Indonesia. Namun, mengenalkan Pandanwangi dan Gentur mestinya mengetahui juga tentang Jambudipa. Sejarahnya pun cukup menarik untuk diketahui publik.
Desa Jambudipa ini adalah salah satu desa di Kecamatan Warungkondang. Tidak ada data dokumen otentik mengenai kapan dan bagaimana asal usul berdirinya, namun orang tua di sana menyebutkan Desa Jambudipa telah ada sejak tahun 1890 Masehi.
Bermula pada abad ke-17 Masehi pengaruh Kesultanan Mataram mulai menyebar dan memasuki wilayah Tatar Priangan. Salah-satu tokohnya, seorang kepala prajurit bernama Ratu Ringgo tiba wilayah Warungkondang itu. Ia mendirikan padepokan ilmu yang disebut dengan Ilmu Jawu. Banyak masyarakat berdatangan dan mendirikan semacam padepokan Jawu Dwiva (Dwiva berarti negara atau daerah yang berasal dari bahasa Sanskerta). Para pemukim mulai membuka lahan pesawahan sehingga menjadi sebuah perkampungan Jawu Dwiva. Seiring berjalannya waktu, pelafalan kata Jawu Dwiva perlahan berubah menjadi Jambudipa.
Menurut catatan sejarah, kepala desa yang tercatat: Mama H. Sarbini (1890-1907); Raden Adi Praja (1907-1927); Madsukri (1927-1934); H. Waro’i Wiradinata (1934-1945); Madsukri, (1945-1946).
Awal Mula Pandanwangi
Menurut sejarah lisan, padi Pandanwangi bermula ditanam oleh Mbah Sariem. Ia merupakan ‘panyawah’ (petani penggarap) kepercayaan Dalem Aria Cikondang.
Pada suatu saat Raden Aria Cikondang memanggil Mbah Sariem dan menyerahkan secangkir benih padi yang konon ia dapatkan dari pemberian kakek pertapa di kaki Gunung Gede. Benih padi langka itu kemudian ditanam dan setelah lebih dari 6 bulan dipanen lalu dibenihkan lagi. Selanjutnya, gabah benih itu dibagi-bagi kepada para petani dan abdi dalem di sekitar Nagri Pamoyanan yang wilayahnya mencakup beberapa kecamatan di sekitar Cianjur saat ini.
Awal Mulanya di Tahun 70-an
Pada awalnya, nama ‘Pandawangi’ sama sekali belum pernah disebutkan namun hanya mengenal beras Jambudipa yang merupakan satu-satunya beras dari desa di Kecamatan Warungkondang. Hingga pada tahun 1970-an, H. Nawawi dari Kampung Cisalak, Desa Mayak Kecamatan Cibeber dan H. Damiri dari Kampung Sadamaya, Desa Peteuycondong, Kecamatan Cibeber memperkenalkan satu jenis padi bulu yang memiliki citarasa seperti beras Jambudipa namun beraroma daun pandan kepada H. Jalaludin warga Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang.
Secara sederhana, Beras Pandanwangi adalah jenis beras lokal Indonesia yang dikenal karena aromanya yang harum alami, teksturnya yang pulen, serta cita rasanya yang lembut setelah dimasak.Aroma wangi ini bukan hasil tambahan perisa. Ia muncul secara alami dari senyawa aromatik dalam beras, terutama 2-acetyl-1-pyrroline, senyawa yang juga ditemukan pada pandan dan beberapa jenis beras aromatik lain. Secara ilmiah, beras pandan wangi termasuk dalam spesies Oryza sativa L. Lebih spesifik, beras pandan wangi Cianjur masuk ke dalam kelompok padi lokal aromatik (aromatic rice varieties).
Dikenal sebagai ‘Beras Menak’ atau ‘Beras Menteri’
Pada tahun 1970-an, padi jenis ini sudah agak dikenal di Jakarta. Karena rasanya enak, harum, pulen, dan disukai konsumen – bahkan dimakan oleh para menteri di Indonesia – dinamakanlah Beras Menteri. Masyarakat lainnya menamakan beras ini sebagai Beras Menak (Beras Bangsawan) karena hanya dinikmati para Dalem atau Bangsawan.
Seiring dengan munculnya varietas padi jenis baru yang waktu tanamnya lebih pendek, para petani mulai meninggalkan Pandanwangi karena dianggap tidak ekonomis. Akibatnya persediaan beras Pandanwangi terus berkurang. Walaupun keberadaannya sangat terbatas, Pandanwangi masih jadi ikon Beras Cianjur di pasaran beras nasional, sehingga banyak yang menggunakan nama Pandanwangi atau Pandan Wangi sebagai merek dagang beras.
Padi Pandanwangi kemudian dimurnikan selama lima musim tanam oleh Dr. Aan A. Daradjat dan Ir. Suwito, M.S. pada tahun 2001. Atas dasar usulan dari Pemkab Cianjur, Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Balai Penelitian dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB TPH) Provinsi Jawa Barat, serta Balai Penelitian Padi Departemen Pertanian, maka Menteri Pertanian Bungaran Saragih mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor: 163/Kepts/LB.240/3/2004 tanggal 17 Maret 2004 tentang Pelepasan Galur Padi Sawah Lokal Pandanwangi Cianjur Sebagai Varietas Unggul dengan nama PANDANWANGI.
Lampu Gentur Jambudipa
Lampu Gentur Lampu Gentur berasal dari Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang. Di kampung ini, terdapat sebuah pesantren yang didirikan oleh K.H. Ahmad Syathibi Al-Qonturi, atau yang lebih dikenal dengan Mama Gentur.
Awalnya, lentera gentur pada tahun 1918 digunakan sebagai alat penerangan oleh para santri yang akan pergi mengaji ke pondok pesantren, Pada perkembangannya lampu tersebut mengalami modifikasi dan inovasi sehingga berubah peruntukannya menjadi hiasan rumah, hotel, lestoran dan sebagai dekorasi pesta-pesta. Industri lentera gentur merupakan warisan budaya dari Desa Jambudipa.
Kerajinan lentera di Kampung Gentur bermula pada 1923. Awalnya, salah seorang warga kampung ini, Mus’in, terinspirasi membuat lampu sentircempor alias lampu minyak dengan berbagai desain unik. Seiring perkembangan zaman, kerajinan ini terus berkembang dan sampai kini beralih memproduksi lentera yang berfungsi sebagai kap lampu listrik.
Mama Gentur Pendiri Pesantren Gentur
Pesantren Gentur memiliki akar sejarah yang panjang dan mulia. Didirikan pada abad ke-18, pesantren ini berawal dari inisiatif tokoh agama dan intelektual di masa itu, yaitu sosok yang bernama K.H. Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi atau yang kerap disapa dengan Mama Gentur.
Syekh Ahmad Syatibi adalah seorang ulama dari tatar Sunda yang cukup dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat. Ia memiliki gelar Al’Allim Al’Allamah Al-Kamil Al-Wara. Dikenal juga sebagai guru dari ulama-ulama besar di Tatar Sunda .
Kiai Ahmad Syathibi tercatat memiliki sejumlah karya, baik yang ditulis dalam bahasa Arab atau pun Sunda Pegon. Di antaranya adalah al-Manzhûmah al-Qantûriyyah, Nazham al-Âjurûmiyyah, Nazham al-Samarqandiyyah, Nazham al-Dahlâniyyah, Tahdîd al-‘Ainain, Muntîjah al-Lathîf, dan lain-lain. Karya-karya Kiai Syathibi lebih dominan dalam bidang fikih, gramatika Arab, retorika Arab, dan ilmu-ilmu logika.
Sesudah Mama Gentur belajar di Mesir dan mukim di Mekkah, datanglah utusan Syeikh Shoheh Bunikasih Cianjur. Ia menyampaikan Amanatnya “Katakan kepada Syatibi segeralah pulang kemudian mukim di Cianjur, sebab di daerah Pasundan sudah tidak ada lagi yang kuat untuk jadi pemimpin dan tauladan dari pengamalan ilmu yang sebenarnya. Menerima pesan dan amanat tersebut Mama Syathibi langsung pulang ke Cianjur melanjutkan ngaji ke Syeikh Shoheh Bunikasih kemudian mukim di Gentur. ***
Madrasah al I’anah, Syawal 1447 H./Maret 2026.
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











