Krisis Kesehatan Mental Anak dan Remaja Tambah Parah, Hipnoterapis Jadi Solusi

WhatsApp Image 2026 05 25 at 21.05.12 1 1 scaled
Uji Kompetensi Hipnoterapis yang diselenggarakan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) RI, (Foto: Kemendikdasmen).

ZONALITERASI.ID – Sebanyak 71 orang dari berbagai latar belakang profesi mengikuti Uji Kompetensi Hipnoterapis Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) RI. Mereka terdiri dari dokter, psikolog klinis, dosen, guru, tokoh agama, hingga ibu rumah tangga.

Kegiatan ini digelar oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Kompeten Hipnotis Indonesia (LSP KHI) melalui Tempat Uji Kompetensi (TUK) Indonesian Hypnosis Centre (IHC), di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu pelaksanaannya berlangsung di Hotel Asyana Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Minggu, 24 Mei 2026. Asesor penguji yang hadir, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya. Dewa juga dikenal sebagai Pemerhati Pendidikan Kesehatan Mental Anak dan Remaja di Indonesia. Dia menegaskan, kegiatan ini jauh lebih dari sekadar formalitas sertifikasi.

“Ini bukan sekadar mengejar sertifikat, tetapi memperjuangkan pengakuan resmi negara terhadap profesi Hipnoterapis sekaligus melindungi masyarakat untuk bisa dilayani oleh praktisi yang legal, profesional, dan kompeten,” ujar Dewa.

Dewa menjelaskan, saat ini terjadi fenomena dua krisis kesehatan mental yang saling memperparah. Pernyataannya didasarkan pada tingginya prevalensi masalah mental pada anak dan remaja di satu sisi, serta minimnya tenaga dan fasilitas kesehatan jiwa di sisi lain. Kondisi ini diperburuk oleh stigma sosial yang kuat serta biaya layanan yang tidak terjangkau.

“Jutaan anak Indonesia tumbuh dengan gangguan yang tidak tertangani, dengan dampak jangka panjang yang serius bagi generasi mendatang,” ungkap Dewa.

Kondisi ini diperparah oleh krisis tenaga kesehatan jiwa yang akut. Berdasarkan data yang disampaikan dalam Konferensi Ilmiah Tahunan Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia (UI) pada Juli 2024, Indonesia hanya memiliki 1.053 psikiater.

Sementara itu, data resmi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) per 2024 mencatat 4.109 psikolog klinis, dengan anggota aktif sebanyak 3.067 orang. Angka yang masih jauh dari ideal mengingat besarnya populasi Indonesia.

Lebih khusus pada kalangan anak dan remaja di tingkat sekolah, satu guru bimbingan dan konseling (BK) kerap harus melayani 500 hingga 1.000 siswa.

“Kondisi guru BK kita jauh di atas angka ideal 150 siswa per guru. Sementara itu, sebagian besar guru BK tidak memiliki kompetensi terapi yang memadai. Kompetensi hipnoterapis profesional akan memampukan mereka untuk lebih berdaya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LSP KHI, Riswan Ekananta, mengungkapkan, sejak berdiri lima tahun lalu, lembaga ini telah berhasil menyertifikasi dua skema kompetensi kerja: Juru Hipnotis dan Hipnoterapis. Tahun 2026, LSP KHI siap melaksanakan uji kompetensi untuk empat skema.

“Terkini, tahun 2026 organisasi profesi Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI) memberikan amanah baru kepada LSP KHI untuk mengawal empat skema kompetensi. Adapun dua skema terbaru yaitu Hipnoterapis Klinis dan Instruktur Hipnosis,” pungkasnya. (des)***