Lebih Dekat dengan Kin Sanubary, Kolektor Media Lawas dari Subang

WhatsApp Image 2023 07 08 at 07.17.06
Kin Sanubary, kolektor media lawas dari Subang, Jawa Barat, (Foto: Dok. Pribadi).

ZONALITERASI.ID – Pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2023, di Hotel Mercure, Karawang, 20 Mei lalu, PWI Jawa Barat menganugerahi tiga penghargaan penting untuk mereka yang berjasa terhadap perkembangan dunia pers di Jabar.

Dari tiga penerima penghargaan itu, Kin Sanubary, mendapat penghargaan Anugerah Rumawat Aksara. Penghargaan ini merupakan anugerah bagi insan non-pers yang peduli dengan karya-karya jurnalistik.

Sementara dua penghargaan lainnya diberikan kepada Yayat Hendayana (Lifetime Achiefment) dan Rosyid E. Abby (Anugerah Satya Budaya).

Ya, wajar jika PWI Jabar mengapresiasi kiprah yang dilakukan Kin Sanubary. Berpuluh-puluh tahun dia begitu tekun dan teliti menjadi kolektor media lawas. Tak semua orang bisa menjalani hobi dengan konsisten seperti yang dilakukan oleh Kin.

Pria kelahiran Subang, 4 Januari 1971 itu selama ini memang dikenal sebagai kolektor media lawas yang rajin menyimpan, mengarsip, mendokumentasikan, dan merawat berbagai media cetak edisi lama.

“Sebagian besar media cetak itu telah mengakhiri edisi cetaknya,” kata Kin, kepada Zonaliterasi.id, Minggu, 30 Juli 2023.

Sejak Sekolah Dasar

Minat Kin untuk mengoleksi media lawas tak muncul begitu saja. Sejak usia Sekolah Dasar (SD) dia sudah mempunyai kegemaran membaca.

“Saya makin senang membaca karena paman kebetulan mempunyai taman bacaan dan penyewaan buku-buku novel dan komik. Selanjutnya, waktu SMP, saya menjadi pengasuh dan pengelola koran dinding,” terang alumni Politeknik Negeri Bandung itu.

Ketertarikan Kin untuk mengumpulkan dan mengkoleksi media lawas berawal sejak dia menemukan beberapa lembar surat kabar Indonesia Raya terbitan tahun 1953 di lemari pakaian kakeknya (dijadikan alas tumpukan pakaian).

Hobi Kin mengumpulkan media lawas berlanjut dengan cara membeli surat kabar dan majalah secara eceran. Hampir semua surat kabar yang terbit dan beredar dari Bandung dan Jakarta, dia beli secara bergiliran.

Lalu, saat duduk di bangku SMP, tahun 1985, Kin baru bisa membeli koran dan majalah secara langganan dengan cara menyisihkan uang bekal sekolah. Ketika itu Majalah Bobo, Majalah Hai, dan tabloid hiburan Monitor, dibeli secara rutin dari awal terbitan perdana hingga tak beredar lagi karena dibredel oleh Departemen Penerangan, kementerian era Presiden Soeharto.

“Pengoleksian ini dipicu oleh keingintahuan terhadap informasi yang mengundang rasa penasaran, yang muncul di media massa, yang sampul depannya memuatkan foto-foto inspiratif, misalnya pada tahun 1990-an ketika Perang Teluk meletus, konser musik, atau film yang harus ditonton,” cetusnya.

Tersimpan 20 Tahun

Lebih dari 20 tahun, semua surat kabar dan majalah yang dikumpulkan oleh Kin tersimpan di lemari dan rak buku. Ada sekitar 3.000 eksemplar media cetak, baik surat kabar, koran mingguan, tabloid, maupun majalah yang ada di lemari dan rak buku. Media cetak itu berasal dari 300 perusahaan penerbitan, dalam dan luar negeri.

“Majalah tertua koleksi saya adalah terbitan tahun 1950, juga surat kabar Nusantara dan Indonesia Raya terbit tahun 1957. Saya belum lahir, dan menemukan surat kabar itu pada tumpukan pakaian di lemari baju,” ucap Kin.

Suami Kurnia Fatmawaty dan ayah dari Iqbal Fathuracman, Ichsan Syamsul Alam, dan Ikhwan Fakhrushiddik ini baru membuka kembali koleksi media lawasnya setelah ada sosial media. Dia mulai menyosialisasikan koleksi media lawas di media sosial sekitar tujuh tahun lalu.

“Sebenarnya, sebelum saya menyosialisasikan di medis sosial pun, koleksi media cetak lawas yang saya simpan mulai diketahui publik waktu surat kabar Pikiran Rakyat merayakan ulang tahun yang ke 40 tahun pada tahun 2006. Ketika itu PR memuat koleksi koran PR terbitan tahun 1966 pascaperistiwa G30S PKI yang saya miliki, yang secara kebetulan berkaitan erat dengan kelahiran Pikiran Rakyat,” sebutnya.

“Ketika koran Pikiran Rakyat merayakan ultah ke-40, saya diberi penghargaan sebagai pembaca PR terloyal,” imbuh Kim.

Terus Bertambah

Koleksi media lawas Kin dari tahun ke tahun terus bertambah. Untuk koran-koran daerah yang terbit di kota atau provinsi lain, ada yang didapat dengan cara korespondensi surat menyurat atau ketika Kin berkunjung ke sebuah kota. Dia berusaha bisa mendapatkan koran/majalah, satu hingga tiga eksemplar.

Selanjutnya, untuk mendapatkan surat kabar luar negeri, bermula saat Kin menjadi pendengar siaran radio luar negeri sejak 1980-an.

“Koleksi surat kabar luar negeri bisa didapat tanpa harus mengeluarkan uang, karena biasanya dikasih oleh bagian penerangan mereka,” katanya.

“Ada di antara penyiarnya yang bekerja dari Indonesia, mereka berkenan mengirimi saya surat kabar yang terbit di negerinya. Lalu, ada surat kabar dari Amerika, di antaranya USA To Day. Kebanyakan surat kabar dari Australia, Jerman, dan Prancis. Saya juga suka berkorespondensi dengan beberapa kedutaan luar negeri yang ada di Indonesia, dan dikirimi surat kabar atau majalah yang terbit di negara mereka,” tuturnya.

Kin menambahkan, agar koleksi media lawas yang dimilikinya tidak digerogoti rayap, dia pun melakukan antisipasi.

“Untuk konservasinya, salah satunya dengan dikasih plastik, dikasih zat kimia tertentu untuk konservasi dan restorasi yang rusak,” ujarnya.

Bermanfaat untuk Publik

Kin mengungkapkan, kegemarannya mengoleksi media lawas menarik perhatian berbagai kalangan, Ada perorangan atau awak media yang datang menemui dirinya, meminta informasi atau data yang mereka butuhkan. Heri Gendut Janarto misalnya, ketika akan merampungkan novel, menghubungi Kin untuk meminta informasi tentang film-film yang tayang di bioskop Yogyakarta sekitar tahun 1970-1980-an.

Lalu, pada tahun 2.000, dia dikunjungi oleh awak media Grup Kompas, dari majalah yang diasuh oleh alm. Arswendo Atmowiloto dan diundang dalam acara Tribute to Arswendo Atmowiloto pada akhir 2021.

“Manfaat dengan mengumpulkan koran dan majalah, bisa turut membantu saudara, kerabat, dan sahabat yang membutuhkan berbagai informasi terutama tugas dari sekolah. Biasanya ketika itu para siswa suka diberi tugas untuk membuat kliping tentang olahraga, ilmu pengetahuan, dan teknologi atau artikel yang berhubungan dengan sejarah,” pungkas Kin. (dede suherlan)***

Respon (43)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *