Mbah Syahrudin, Penjaga Sunyi di Bukit Kampung

WhatsApp Image 2026 03 30 at 06.12.15
Lokasi Maqom Mbah Syahrudin di Kampung Naluk, Cimalaka, Sumedang, (Foto: Screenshot video Dinn Wahyudin).

Oleh Dinn Wahyudin dan Maman Suherman

DI jalur berkelok perbukitan antara Cimalaka menuju Tanjungkerta Sumedang, terbentang jalan menurun yang diapit pepohonan rimbun. Kabut tipis sering turun di pagi hari, sementara angin berembus pelan menghadirkan suasana hening khas pegunungan. Di salah satu lekuk lembah itu, tersembunyi sebuah makam tua yang dikenal masyarakat Kampung Sudimampir dan Banceuy sebagai makam Mbah Syahrudin. Sebuah penanda sunyi yang sarat makna, seolah menjaga cerita yang tak pernah benar-benar selesai.

Tak banyak catatan tertulis tentang siapa beliau. Asal-usul, perjalanan hidup, hingga kisah akhir hayatnya lebih banyak hidup dalam ingatan kolektif masyarakat lokal di kampung kami. Namun keyakinan warga tetap teguh: Mbah Syahrudin adalah sosok penting, seorang tetua yang merintis penyebaran Islam di kawasan Tanjungkerta. Namanya terus mengalir dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari denyut kehidupan kampung, terutama dalam meneguhkan tauhid kepada Sang Khalik.

Awal Jejak di Tanah yang Sunyi

Pada masa ketika wilayah Tanjungkerta dan kaki Gunung Tampomas masih berupa leuweung gonggong sima gonggong, hutan lebat yang belum terjamah, Mbah Syahrudin hadir sebagai pembuka jalan. Bukan hanya membuka jalur di tengah rimbunnya pepohonan, tetapi juga membuka kesadaran spiritual masyarakat setempat. Ia hidup sederhana, menyatu dengan alam. Ia terkadang mengasingkan diri di perbukitan untuk beribadah. Dari kesunyian itulah, masyarakat percaya, lahir kekuatan doa yang perlahan mengubah wajah wilayah tersebut. Hutan mulai dibuka, lahan mulai ditanami, dan kehidupan mulai tumbuh. Mbah Syahrudin dikenang bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi sebagai karuhun lembur—peletak dasar kehidupan  warga lokal dalam menanamkan nilai tauhid dan ketakwaan.

Jalan setapak yang dahulu ia rintis kini telah menjadi jalur padat penghubung antarwilayah. Namun, keheningan di sekitar bukit itu tetap terasa. Banyak pelintas merasakan suasana yang berbeda—udara lebih sejuk, hati lebih tenang, dan bagi yang berkendaraan langkah seakan “melambat” dengan sendirinya. Seolah tempat itu menyimpan jejak batin yang tak kasatmata. Hormat dan ajrih ke Sang Leluhur.

Dakwah yang Menyentuh Rasa

Jejak lisan tentang Mbah Syahrudin semakin terang melalui penuturan H. Emus. Dari beliau diketahui bahwa Mbah Syahrudin berasal dari Cirebon, sebuah pusat penyebaran Islam di tanah Sunda. Dalam pengembaraannya, ia datang ke Tanjungkerta membawa niat berdakwah. Upaya awal melalui ajakan sunatan sempat ditolak masyarakat. Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia kembali ke Cirebon, melakukan tafakur. Ia merenung, mencari cara yang lebih bijak.

Ketika kembali, ia tidak lagi mengandalkan pendekatan langsung, tetapi memilih jalan budaya. Ia membawa kesenian terebang, rebana besar yang ditabuh mengiringi selawat Nabi. Uniknya, pertunjukan itu dilakukan secara tertutup yaitu  ditabuh di jero bilik atau di dalam kamar tertutup. Justru dari ketertutupan itulah rasa penasaran masyarakat tumbuh. Pelan-pelan warga mendekat. Ketika keinginan untuk mengetahui semakin kuat, Mbah Syahrudin memberikan syarat: siapa yang ingin menyaksikan harus terlebih dahulu mengucapkan syahadat. Dari rasa ingin tahu, lahir keterbukaan hati. Dari seni, tumbuh keyakinan. Dakwah pun mengalir tanpa paksaan. Ia menyentuh rasa, bukan sekadar logika.

Jejak Kesenian yang Kian Samar

Pendekatan budaya yang dahulu begitu hidup kini perlahan memudar. Kesenian terebang yang menjadi media dakwah hampir tak tersisa. Dari cerita yang berkembang, alat-alat tersebut pernah dititipkan kepada Uyut Urti di Kampung Pogor, lalu berlanjut menjadi kesenian gemyung—yang masih mempertahankan nuansa selawat dalam berbagai hajatan dan ritual kampung.

Seiring waktu, gemyung bertransformasi menjadi bangreng, dengan tambahan unsur gamelan seperti rebab, bonang, dan goong. Kesenian ini sempat berjaya, dijaga oleh tokoh-tokoh seperti Bapak Adis Mukaya (alm.) dari Nagrog dan Bapak Maman dari Banceuy. Namun memasuki era modern, semuanya perlahan tergeser oleh hiburan instan seperti organ tunggal. Yang hilang bukan sekadar bunyi alat musik, tetapi juga cara halus para leluhur dalam berdakwah: cara yang merangkul, menghidupkan kebersamaan, dan menyentuh kedalaman batin.

Tak Pergi, Hanya Menyatu dalam Sunyi

Dalam perjalanan waktunya, Mbah Syahrudin tumbuh mencintai warga Tanjungkerta. Ia merasa betah dan menjadi paniutan warga setempat. Namun, tak pernah ada kisah tentang kepulangannya ke Cirebon. Ia tidak pamit, tidak meninggalkan jejak perjalanan. Masyarakat setempat meyakini, beliau tidak pergi, melainkan “tilem“—menyatu dengan tempat yang kini menjadi makamnya. Sebuah keyakinan yang melampaui logika, namun hidup dalam rasa dan penghormatan. Hingga kini, maqom itu tetap menjadi ruang hening yang mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak. Menundukkan kepala, mengingat asal-usul, dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta. Di sanalah jejak Mbah Syahrudin terasa paling nyata—bukan dalam bentuk fisik, tetapi dalam nilai spiritual yang terus hidup.

Jejak yang Tak Lekang oleh Waktu

Kisah Mbah Syahrudin mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu tertulis. Ia hidup dalam ingatan. Dalam tradisi lisan, dan dalam sikap hidup masyarakat lokal. Dalam perspektif Antropologi Budaya, ingatan kolektif semacam ini justru menjadi sumber pengetahuan yang kaya makna. Mbah Syahrudin bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah jejak Semesta yang terus berjalan : dalam kesederhanaan hidup masyarakat, dalam ketekunan beribadah, dan dalam harmoni manusia dengan alam. Manusia dengan Sang Pencipta. Meski kesenian yang dahulu ia gunakan mulai pudar, nilai yang ia tanamkan tetap berakar kuat. Di balik sunyi bukit itu, namanya tetap dikenang. Tak lekang oleh waktu, tak hilang oleh perubahan. Ia hadir dalam diam—menjadi Penjaga sunyi yang terus menghidupkan makna.

Bila teman-teman, penasaran ingin berziarah ke Maqom Mbah Syahrudin, lokasinya hanya  sekitar 500 meter setelah Rumah Makan Pengkolan  Jati dan Rumah Makan Pojok Sawangan Mia, Kampung Naluk, Cimalaka.

Usai menikmati kuliner khas Sunda di pinggir sawah yang memanjakan lidah, teruskan perjalanan beberapa menit melewati jalan menurun berkelok  ke arah maqom tua Mbah Syahrudin. Panjatkan do’a, lajukan kendaraan pelan-pelan  dan rasakan sensasi spiritualnya. Allahummaghfir lahu warḥamhu wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu. ***

Dinn Wahyudin dan Maman Suherman, warga Kampung Sudimampir, Tanjungkerta, Sumedang/Pemerhati dan Pegiat Kearifan lokal.