Mengabdi tanpa Henti: Kisah Hidup dan Pemikiran Prof. Syawal Gultom

WhatsApp Image 2026 04 28 at 06.02.20
Prof. Syawal Gultom, (Foto: Istimewa).

Oleh Dinn Wahyudin

KABAR duka menyelimuti dunia pendidikan Indonesia. Pada hari ini, Selasa, 27 April 2026, Prof. Dr. Syawal Gultom, seorang akademisi, pemimpin, dan tokoh pendidikan telah berpulang ke Haribaan Sang Khalik.  Kepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Universitas Negeri Medan, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang telah merasakan kontribusi pemikiran, kebijakan, dan keteladanannya. Sosoknya yang berintegritas, visioner, dan penuh pengabdian meninggalkan jejak yang mendalam dalam pembangunan pendidikan, sekaligus menghadirkan duka yang luas di kalangan akademisi, pendidik, dan masyarakat.

Prof. Syawal Gultom merupakan salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di Universitas Negeri Medan. Lahir di Tapanuli Utara pada 3 Februari 1962, ia dikenal sebagai akademisi di bidang pendidikan Matematika yang meniti karier dari dosen hingga mencapai jabatan guru besar. Perjalanan akademiknya ditempuh melalui pendidikan S1 di IKIP Medan, S2 di IKIP Yogyakarta, hingga meraih doktor di Universitas Negeri Jakarta, yang memperkuat kapasitasnya dalam manajemen dan pengembangan pendidikan.

Dalam kepemimpinannya,  Prof. Syawal Gultom dipercaya menjabat sebagai Rektor Universitas Negeri Medan selama dua periode, yaitu 2007–2011 dan 2015–2019. Kepemimpinannya ditandai dengan upaya peningkatan mutu lulusan, penguatan kurikulum berbasis kompetensi, serta pengembangan kerja sama akademik baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain di lingkungan kampus, ia juga pernah menduduki posisi strategis di Kementerian Pendidikan sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP).

Sebagai intelektual publik, Prof. Syawal Gultom dikenal luas karena pemikirannya tentang pentingnya pembangunan pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ia aktif sebagai narasumber nasional, penulis, serta penggerak peningkatan kualitas guru dan sistem pendidikan. Dedikasinya menjadikannya dihormati sebagai tokoh pendidikan nasional. Hingga akhir hayatnya pada 27 April 2026, ia tetap mengabdi di dunia akademik sebagai Ketua Senat Universitas Negeri Medan, meninggalkan warisan pemikiran dan kontribusi besar bagi pengembangan pendidikan di Indonesia.

Lima Pemikiran Terbaiknya

Pemikiran Prof.  Syawal Gultom tentang pendidikan bertolak dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Education is the fundamental foundation of sustainable national development. Ia menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh akses pendidikan, tetapi oleh mutu proses pembelajaran yang berpusat pada pengembangan kompetensi, karakter, dan daya pikir kritis. Dalam berbagai gagasannya, ia mendorong transformasi pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembentukan manusia pembelajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap perubahan global.

Dalam konteks pendidikan guru, Prof. Syawal Gultom menegaskan bahwa guru adalah aktor kunci dalam reformasi pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan guru harus dirancang secara sistematis dan berkelanjutan, mulai dari pendidikan prajabatan hingga pengembangan profesional berkelanjutan (continuous professional development). Ia mendukung penguatan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) agar mampu menghasilkan guru yang tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogik, sosial, dan kepribadian yang kuat.

Pemikirannya juga tercermin dalam dukungannya terhadap kebijakan Kurikulum 2013 dan kemudian dilanjutkan dengan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pendekatan berbasis kompetensi dan karakter. Ia melihat kurikulum ini sebagai upaya strategis untuk menyeimbangkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam proses pendidikan. Dalam implementasinya, ia menekankan pentingnya kesiapan guru (teacher readiness)  melalui pelatihan intensif, supervisi akademik, serta penyediaan sumber belajar yang memadai agar kurikulum tidak berhenti pada tataran dokumen, tetapi benar-benar hidup di ruang kelas.

Selain itu, Prof. Syawal Gultom juga menaruh perhatian besar pada pentingnya manajemen pendidikan yang profesional dan berbasis data. Ia mendorong perguruan tinggi, khususnya universitas pendidikan seperti Universitas Negeri Medan, untuk mengembangkan sistem penjaminan mutu internal yang kuat serta memperluas jejaring kerja sama nasional dan internasional. Baginya, peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.

Secara lebih luas, pemikiran Prof. Syawal Gultom menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan, praktik pendidikan, dan riset. Ia mendorong lahirnya kebijakan pendidikan yang berbasis bukti (evidence-based policy) serta memperkuat peran penelitian pendidikan dalam memecahkan persoalan nyata di lapangan. Melalui kombinasi antara pemikiran akademik, pengalaman birokrasi, dan kepemimpinan institusional, ia meninggalkan warisan pemikiran yang relevan bagi pengembangan pendidikan dan pendidikan guru di Indonesia.

Figur Orator yang tegas

Figur Prof. Syawal Gultom juga dikenal luas sebagai seorang pendidik juga orator yang kuat dan berwibawa. Dalam berbagai forum ilmiah, seminar nasional dan internasional, maupun pidato resmi, ia mampu menyampaikan gagasan pendidikan secara runtut, tajam, dan menggugah. Gaya bicaranya tidak hanya menunjukkan penguasaan substansi, tetapi juga kemampuan retorika yang mampu menginspirasi semua yang hadir. Ia sering menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan dengan bahasa yang lugas namun tetap elegan, sehingga pesannya mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga praktisi pendidikan.

Di balik ketegasannya, Prof. Syawal Gultom juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Dalam interaksi sehari-hari maupun saat menyampaikan materi, ia kerap menyelipkan humor segar yang mencairkan suasana tanpa mengurangi bobot pembicaraan. Humor yang disampaikannya bersifat kontekstual dan cerdas, sering kali diambil dari pengalaman nyata di dunia pendidikan. Hal ini menjadikannya dekat dengan mahasiswa, dosen, maupun kolega, serta menciptakan suasana komunikasi yang hangat dan produktif.

Karakter humoris tersebut berjalan seiring dengan sikap tegas yang menjadi ciri kepemimpinannya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang konsisten terhadap prinsip, disiplin dalam pengambilan keputusan, serta berani mengambil langkah strategis demi kemajuan institusi. Ketegasannya terlihat dalam upaya menjaga mutu akademik, menegakkan aturan, dan memastikan setiap kebijakan dijalankan secara bertanggung jawab. Kombinasi antara ketegasan, kemampuan komunikasi, dan sentuhan humor menjadikan Prof. Syawal Gultom sebagai figur pemimpin pendidikan yang tidak hanya dihormati, tetapi juga dirindukan semua kalangan.

Tagline Prinsip Hidupnya

Tagline prinsip hidup Prof. Syawal Gultom dapat dirangkum dalam semangat pengabdian tanpa henti pada dunia pendidikan: “Mengabdi dengan ilmu, memimpin dengan integritas, dan mendidik dengan hati.” Prinsip ini tercermin dalam seluruh perjalanan hidupnya sebagai akademisi, birokrat pendidikan, dan pemimpin institusi. Ia meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus diabdikan untuk kemajuan masyarakat, bukan sekadar menjadi capaian pribadi.

Dalam praktiknya, prinsip tersebut tampak pada konsistensinya menjaga mutu pendidikan, keberaniannya mengambil keputusan strategis, serta komitmennya membangun generasi pendidik yang berkarakter. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga menghadirkannya melalui kerja nyata, baik di lingkungan kampus maupun dalam kebijakan nasional. Integritas menjadi landasan utama dalam setiap langkahnya, sehingga ia dipercaya memegang berbagai posisi penting dalam dunia pendidikan.

Hingga akhir hayatnya, nilai-nilai tersebut tetap ia pegang teguh.

Pada hari ini, ketika beliau wafat dan dipanggil oleh Sang Khalik, prinsip hidup itu menjadi warisan moral yang terus hidup dalam ingatan dan praktik pendidikan di Indonesia. Dedikasi, ketulusan, dan komitmennya menjadi teladan bahwa pengabdian sejati seorang pendidik tidak berhenti oleh waktu, melainkan terus menginspirasi generasi penerus.

Selamat jalan menghadap Sang Khalik, guru bangsa.  Bisikan do’a terus mengalir: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin. ***

Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).