Oleh Ganjar Kurnia
PERSAHABATAN itu barang aneh. Ia tidak dijual di minimarket, tidak bisa dicicil dua belas bulan, dan tidak ada garansinya. Tetapi kalau hilang, rasanya lebih nyeri daripada kehilangan sandal di masjid. Sandal bisa beli lagi. Sahabat yang tahu keburukan kita, tetapi masih mau duduk ngopi bersama, itu langka. Bahkan mungkin lebih langka daripada pejabat yang menjawab pertanyaan wartawan dengan planga-plongo.
Menjaga persahabatan sebenarnya tidak sulit, asal kita tidak terlalu rajin merusaknya. Masalahnya, manusia sering punya bakat alami untuk merusak yang sudah baik. Sahabat yang tadinya akrab bisa renggang hanya karena perkara kecil: lupa membalas pesan, tidak diajak makan baso, atau salah mengirim stiker tertawa pada saat temannya sedang curhat serius.
Di dunia digital, satu emoji bisa menjadi bencana diplomatik. Orang sedang berkata, “Hidupku sedang berat,” lalu kita balas dengan stiker kucing menari. Sejak itu hubungan menjadi dingin seperti nasi goreng yang ditinggal rapat.
Persahabatan perlu dirawat. Bukan seperti pasien ICU, tentu saja. Nanti malah tiap hari diperiksa tensinya: “Bagaimana kondisi persahabatan kita hari ini? Tekanannya 120/80 atau sudah hipertensi emosional?” Tidak perlu begitu. Cukup dengan perhatian kecil: bertanya kabar, hadir ketika dibutuhkan, tidak hanya muncul ketika butuh tanda tangan, pinjaman uang, atau dukungan suara dalam pemilihan ketua RT.
Sahabat sejati bukan orang yang selalu setuju. Kalau kita salah, ia menegur. Kalau kita keliru jalan, ia mengingatkan. Kalau kita terlalu percaya diri menyanyi padahal suara seperti pintu gudang berkarat, ia akan berkata, “Sudah, lebih baik kamu bagian konsumsi saja.” Itu bukan penghinaan. Itu kasih sayang dalam bentuk audit vokal.
Namun menjaga persahabatan juga memerlukan seni memaafkan. Kadang sahabat lupa janji, datang terlambat, atau meminjam buku lalu mengembalikannya ketika buku itu sudah hampir menjadi fosil. Kita boleh kesal, tetapi jangan setiap kesalahan dijadikan prasasti. Ada orang yang menyimpan kesalahan sahabat lebih rapi daripada menyimpan ijazah (kalau punya …). Begitu ada masalah kecil, arsip lama dibuka: “Ingat tidak, tahun 2009 kamu tidak membalas SMS saya?” Ini bukan persahabatan, tapi museum dendam.
Persahabatan yang sehat juga memberi ruang. Jangan karena bersahabat lalu semua hal harus bersama. Makan bersama, rapat bersama, olahraga bersama, bahkan sakit gigi pun ingin bersama. Lama-lama bukan sahabat, tetapi paket “bundling”. Sahabat tetap manusia merdeka. Ia boleh punya kesibukan, teman lain, hobi baru, bahkan boleh diam tanpa harus dicurigai sedang menyusun kudeta batin.
Yang absurd, kadang persahabatan justru diuji oleh hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya, teman yang tidak pernah marah ketika dipinjam uang, tetapi tersinggung karena kita lupa memberi “like” pada fotonya yang sedang berdiri di depan mal. Atau teman yang bisa memaafkan perdebatan politik, tetapi tidak bisa memaafkan karena kita berkata : “asa beuki gendut …”. Di titik itu, persahabatan memasuki wilayah metafisika: tidak bisa dijelaskan oleh logika, hanya bisa diterima dengan tarik napas panjang.
Maka, jagalah sahabat sebelum mereka berubah menjadi “kontak lama” yang hanya muncul di daftar WhatsApp ketika ulang tahun. Sesekali hubungi mereka bukan karena ada perlu, tetapi karena memang rindu.
Ajak ngopi, makan duren, tertawa, membicarakan hidup yang makin rumit, harga cabai yang makin berani, dan lutut yang makin sering berbunyi seperti engsel pintu kurang oli.
Hidup ini terlalu pendek untuk bermusuhan hanya karena salah paham, gengsi, atau stiker kucing menari.
Sahabat adalah orang-orang yang membuat hidup tidak terasa seperti rapat tanpa konsumsi. Mereka mungkin menyebalkan, pelupa, kadang absurd, tetapi justru di situlah letak nikmatnya. Persahabatan tidak meminta kita sempurna. Ia hanya meminta kita tetap hadir, tetap jujur, tetap mau tertawa, dan sesekali mau mentraktir kopi tanpa menghitungnya sebagai investasi jangka panjang. ***
Cigadung, 260426
Ganjar Kurnia, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











