Nostalgia Agustus 2012, Mudik Ngagowes Bandung-Rancah Ciamis
Pada 15 Agustus 2012, Aris Kumetir warga Cisaranten Kulon, Kota Bandung menempuh perjalanan mudik dengan mengayuh sepeda menuju kampung halaman di Dusun Cileungsir, Desa Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. Inilah kisah perjalanan mudik ngagowes yang ditempuh Aris 14 tahun lalu. Ceritera ini dipublikasikan saat penulis bekerja di Jabartoday.com.
MENEMPUH perjalanan mudik dengan menggunakan mobil atau sepeda motor biasa dilakukan oleh para pemudik. Namun, langkah yang dilakukan oleh Aris Kumetir, warga Cisaranten Kulon, Kota Bandung berbeda. Pria berusia 33 tahun ini, nekat mengayuh sepeda menuju kampung halaman di Dusun Cileungsir, Desa Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. Jarak sejauh 130 kilometer antara Bandung – Rancah, Ciamis menjadi tantangan untuk melakukan sesuatu yang lain daripada yang lain.
Tentunya, kenekatan goweser yang tergabung dalam Bike to Work dan Komunitas Gowes Mande (KGM) ini bukan sekadar keinginan yang tidak disertai persiapan matang. Sebelumnya, perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda kerap dilakukan Aris. Beberapa kawasan yang pernah dia singgahi di antaranya Situ Patenggang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung; Gunung Tangkubanparahu, Lembang; Pangalengan, Kabupaten Bandung; Pacet, Cibeurerum, Kabupaten Bandung; Kamojang, Kabupaten Garut; dan Waduk Jatiluhur, Purwakarta.
“Menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda sangat menantang dan memacu adrenalin. Dengan alat transportasi yang satu ini saya mengenal banyak daerah,” kata Aris, Sabtu, 25 Agustus 2012.
Tentunya, kendati kerap melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda, perjalanan yang ditempuh oleh Aris kali ini berbeda. Sewaktu menggowes untuk bermudik ria, selain ritual bersepeda ini dilakoni kala berpuasa, Aris pun harus pintar-pintar berbagi jalan dengan jutaan pemudik yang memakai mobil dan sepeda motor.
Menghadapi kondisi itu, Aris melakukan persiapan spesial. Untuk menghindari dehidrasi yang berlebihan karena asupan cairan yang kurang selama menjalani ibadah puasa, sebelum melakukan perjalanan, dia minum air sebanyak-banyaknya. Lalu, sepekan sebelum hari H, sepeda kesangannya diservis terlebih dahulu. Tak ketinggalan, peralatan berupa kunci-kunci, ban serep, dan lampu penerangan, disimpan rapi di bagasi yang ditempatkan di bagian belakang sepeda.
“Mudik tahun ini bertepatan dengan musim kemarau yang sangat panas. Angin berhembus cukup kencang. Karena itu, saya pun membawa beberapa potong pakaian berupa kaos dan jaket untuk menghadapi cuaca yang ekstrem tersebut,” tutur Aris.
Selepas segalanya siap sedia, perjalanan mudik pun dimulai. Tepatnya pada Rabu, 15 Agustus, pukul 11.46 WIB, Aris berangkat menuju Ciamis dan mengambil start di Cisaranten Kulon, Kota Bandung.
“Bendera-bendera merah putih yang dipasang di tiang bambu untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI, semakin menyemangati perjalanan kali ini. Semangat 45, demikian orang menyebutnya,” ujar Aris dengan mata berbinar-binar.
Selanjutnya Aris menyebutkan, rintangan perjalanan mudik kali ini sudah terasa sejak perempatan Jalan Rumah Sakit-Cinambo, Ujungberung, Kota Bandung. Ribuan sepeda motor terlihat mendominasi jalanan.
Selanjutnya, kawasan Cibiru Kota Bandung; Cileunyi, Rancaekek, Cicalengka, Nagreg Kabupaten Bandung; serta Limbangan Kabupaten Garut dilalui. Tak seperti diperkirakan sebelumnya, Nagreg dan Limbangan, tidak begitu padat. Lancar.
Namun, memasuki kawasan Lewo dan Malangbong, Kabupaten Garut, perjalanan agak tersendat. Padat merayap. Ini dikarenakan adanya aktivitas pasar. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Melewati pasar semua berjalan lancar.
“Menjadi kebanggaan tersendiri ketika konvoi mudik berbarengan dengan ribuan mobil dan sepeda motor. Sepeda yang saya kayuh terselip di antara deru raungan suara bising mesin kendaraan bermotor,” ungkap Aris.
Terperosok
Aris menuturkan, rasa was-was dan jantung deg-degan hadir saat sepeda yang dia kayuh memasuki turunan jalan di kawasan Gentong, Kabupaten Tasikmalaya. Ketika hari merambat memasuki malam hari, dia harus menghadapi turunan jalan yang curam dan panjang. Kekhawatiran sepeda tak bisa dikendalikan menghantui pikirannya. Kewas-wasan hati Aris memang terbukti. Di kawasan itu Aris sempat terperosok ke bahu jalan.
“Lampu penerangan yang saya bawa tidak cukup membantu. Selain karena kelelahan, lampu penerangan jalan juga sangat kurang. Sangat membahayakan. Setelah melewati turunan Gentong saya berhenti di SPBU. Mengganti pakaian yang basah kuyup oleh keringat. Saya istirahat selama dua jam,” katanya.
Tepat pukul 21.36 WIB perjalanan dilanjutkan. Angin berhembus kencang. Hawa dingin menembus tulang. Ketika tengah malam tiba, setelah melewati tanjakan Pari, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, yang begitu panjang, Aris sampai di Situ Lengkong.
Karena hari merambat menjelang tengah malam dan rasa lelah yang memuncak, Aris memutuskan menginap di Mapolsek Panjalu. Menjelang sahur, Aris baru melanjutkan perjalanan, menembus jalan ke kampung halaman sejauh 33,5 kilometer.
Tantangan terakhir menuju lembur karuhun ditemui saat memasuki jalur Rajadesa-Rancah, sepanjang 4 kilometer. Mulusnya perjalanan terganggu oleh rusaknya jalan di jalur itu. Dia harus ekstrahati-hati melewati jalan beraspal namun penuh dengan begitu banyak bolongan.
“Alhamdulillah, Kamis, 16 Agustus, sekitar pukul 06.00 pagi, sepeda yang saya kayuh sampai juga ke Cileungsir, desa tempat dilahirkan dan menghabiskan masa kecil. Perjalanan disertai istirahat hampir 20 jam lebih, terlewati sudah. Lega rasanya bisa menghirup udara pagi di kampung halaman,” pungkas Aris. (dede suherlan)***











